Toy Story 5, Kenangan, dan Jarak Tiga Dekade
Bertempat di sebuah mal di kota hujan, saya menemani keluarga menonton Toy Story 5. Awalnya saya mengira ini hanya akan menjadi satu lagi film nostalgia yang memanfaatkan nama besar waralaba lama. Ternyata saya keliru.
Memang ada beberapa bagian yang terasa lambat. Namun memasuki sepertiga akhir, film ini menemukan momentumnya. Ketegangan meningkat, emosi mulai bermain, dan saya kembali merasakan alasan mengapa Toy Story mampu bertahan selama lebih dari tiga dekade.
Kali ini para mainan menghadapi tantangan yang berbeda. Ancaman mereka bukan lagi tetangga usil, tempat pembuangan, atau perpisahan dengan pemiliknya. Musuh yang mereka hadapi jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: gawai dan dunia digital yang menyita perhatian anak-anak.
Para mainan mulai bertanya-tanya apakah masih ada ruang bagi permainan yang lahir dari imajinasi. Pertanyaan itu sederhana, tetapi diam-diam menyentuh kegelisahan banyak orang tua. Di tengah dunia yang semakin dipenuhi layar, apakah anak-anak masih memiliki ruang untuk menciptakan dunianya sendiri?
Bagi saya, bagian yang paling menghangatkan hati adalah ketika Woody kembali bertemu sahabat-sahabat lamanya. Pada film sebelumnya ia memilih meninggalkan kelompoknya untuk menjalani hidup baru bersama Bo Peep. Kini ia kembali. Rasanya seperti melihat seorang kawan lama yang pulang ke rumah setelah bertahun-tahun merantau.
Namun setiap kali menonton film Pixar, perhatian saya selalu melampaui layar bioskop. Saya selalu penasaran pada pertanyaan yang sama: bagaimana sebuah studio bisa terus-menerus menghasilkan cerita yang mampu menyentuh jutaan orang dari berbagai negara, budaya, dan generasi?
Saya teringat buku To Pixar and Beyond karya Lawrence Levy. Buku itu menceritakan masa ketika Pixar hanyalah perusahaan kecil yang nyaris bangkrut. Steve Jobs harus berkali-kali mengeluarkan uang pribadinya agar perusahaan itu tetap hidup. Tidak ada jaminan bahwa animasi komputer akan diterima pasar. Saat itu Disney masih berjaya dengan animasi 2D yang telah menjadi standar industri.
Tetapi Pixar berani bertaruh pada sesuatu yang belum pernah dicoba. Mereka melihat peluang ketika orang lain melihat risiko. Mereka percaya bahwa masa depan tidak diciptakan dengan mengulang formula lama, melainkan dengan keberanian menjelajahi wilayah yang belum dipetakan.
Pelajaran yang lebih menarik saya temukan dalam Creativity, Inc. karya Ed Catmull. Menurut Catmull, kreativitas tidak lahir dari individu jenius semata. Kreativitas lahir dari lingkungan yang membuat orang berani mengemukakan ide, berani menerima kritik, dan berani gagal.
Pixar memahami bahwa ide besar hampir selalu lahir dalam bentuk yang buruk. Ia mentah, berantakan, dan sering kali tampak tidak menjanjikan. Karena itulah mereka membangun budaya yang tidak menghukum kesalahan. Mereka percaya bahwa kegagalan bukan lawan dari kreativitas, melainkan bagian dari proses kreatif itu sendiri.
Barangkali itulah rahasia Pixar yang sesungguhnya. Mereka tidak sekadar membuat film animasi. Mereka merawat cerita.
Dan ketika lampu bioskop menyala, pikiran saya tiba-tiba melayang jauh ke belakang.
Saya pertama kali menonton Woody ketika masih duduk di bangku sekolah menengah. Saat itu saya adalah seorang remaja yang sedang memandang masa depan dengan rasa penasaran yang besar. Hari ini saya menonton Woody sebagai seorang ayah dengan dua anak. Anak sulung saya bahkan sebentar lagi akan masuk SMA.
Ada jarak hampir tiga dekade di antara dua peristiwa itu. Banyak hal telah berubah. Teknologi berubah. Cara kita menonton berubah. Dunia berubah. Saya pun berubah. Tetapi Woody masih ada di sana.
Yang membuat saya tersenyum adalah melihat anak-anak saya tertawa pada adegan yang sama, ikut tegang pada konflik yang sama, dan larut dalam petualangan yang sama. Ada rentang generasi di antara kami, tetapi kami dibawa oleh arus emosi yang serupa.
Di situlah saya kembali menyadari betapa dahsyatnya kekuatan sebuah cerita.
Teknologi selalu memiliki masa hidup. Platform datang dan pergi. Mainan berubah bentuk. Bahkan perusahaan-perusahaan besar bisa hilang ditelan zaman. Namun cerita yang baik memiliki kemampuan yang berbeda. Ia menyeberangi waktu. Ia berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia terus hidup jauh setelah penciptanya tiada.
Yuval Noah Harari pernah mengatakan bahwa kemampuan terbesar manusia adalah kemampuannya mempercayai cerita yang sama. Bangsa, negara, agama, uang, bahkan perusahaan besar dibangun di atas kisah-kisah yang disepakati bersama. Manusia, pada dasarnya, adalah makhluk yang hidup melalui cerita.
Mungkin karena itulah Woody tetap bertahan hingga hari ini. Ia bukan sekadar karakter animasi. Ia telah menjadi bagian dari kenangan kolektif jutaan orang yang tumbuh bersamanya.
Di kursi bioskop itu saya tidak sedang menyaksikan kembalinya seorang koboi mainan. Saya sedang melihat sebuah jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Dari seorang anak SMA yang pernah terpukau melihat Woody untuk pertama kalinya, kepada seorang ayah yang kini menyaksikan anak-anaknya merasakan keajaiban yang sama.
Dan ketika film berakhir, saya teringat satu kalimat sederhana yang selama puluhan tahun menjadi jiwa dari Toy Story, kalimat yang diucapkan Woody kepada Buzz: "You've got a friend in me."
Kalimat itu mungkin terdengar biasa saja. Tetapi justru karena kesederhanaannya, ia mampu bertahan melintasi generasi. Sebab pada akhirnya, di tengah dunia yang terus berubah, manusia tetap membutuhkan hal yang sama: persahabatan, kesetiaan, dan cerita yang membuat kita merasa tidak sendirian.
Mungkin itulah sebabnya Woody selalu menemukan jalan pulang. Bukan ke kamar Andy, bukan ke kotak mainan, melainkan ke hati para penontonnya.
