Mencari Bugis di Negeri Kincir Angin


Ada kalanya sebuah buku tidak membawa kita pada pengetahuan baru. Ia justru membawa kita pada sesuatu yang lebih berharga: pengalaman batin orang lain saat menemukan dirinya sendiri.

Itulah yang saya rasakan ketika membaca Magaligo ri Leiden, buku karya Louie Buana.

Nama Louie Buana sebenarnya tidak asing. Kami berkawan di medsos. Beberapa tulisannya pernah saya baca di satu blog yang banyak mengulas sejarah, budaya, dan identitas Bugis-Makassar. 

Tulisan-tulisan itu selalu terasa ringan, tidak menggurui, namun diam-diam menyimpan kedalaman. Saat membaca bukunya, saya menemukan kembali gaya yang sama: cara bercerita yang membuat pembaca merasa sedang berjalan bersama penulis, bukan sedang duduk di ruang kuliah mendengarkan ceramah.

Buku ini pada dasarnya adalah kisah pulang. Bukan pulang dalam arti geografis semata, melainkan pulang sebagai upaya mengenali akar, menelusuri asal-usul, dan memahami diri sendiri.

Louie Buana adalah bagian dari generasi diaspora Bugis-Makassar. Ia tumbuh jauh dari tanah leluhurnya. Seperti banyak anak perantauan lainnya, identitas Bugis dan Makassar mungkin hadir hanya dalam serpihan cerita keluarga, nama marga, atau kenangan yang samar-samar. 

Namun ada satu fase dalam hidup ketika pertanyaan-pertanyaan itu mulai datang dengan lebih keras. Siapa sebenarnya saya? Dari mana saya berasal? Apa yang diwariskan oleh nenek moyang saya? Pertanyaan-pertanyaan sederhana itulah yang kemudian menjelma menjadi perjalanan panjang pengetahuan.

Dalam buku ini, Louie bercerita tentang bagaimana dirinya mulai menelusuri berbagai literatur mengenai Bugis-Makassar. Nama-nama besar yang selama ini menjadi rujukan para peneliti muncul dalam perjalanan intelektualnya: Anthony Reid, Christian Pelras, dan banyak sarjana lain yang mendedikasikan hidup mereka untuk memahami Sulawesi Selatan.

Saya membayangkan seorang mahasiswa muda di Yogyakarta yang perlahan menemukan kegelisahan tentang identitasnya sendiri. Di tengah kesibukan kuliah di Universitas Gadjah Mada, ia memberanikan diri datang ke Makassar. Bukan untuk berwisata. Bukan pula untuk menghadiri acara keluarga.

Ia datang untuk belajar. Ia datang ke Universitas Hasanuddin. Ia mendatangi Fakultas Sastra. Ia mencari informasi tentang La Galigo, karya sastra yang disebut-sebut sebagai salah satu epos terpanjang di dunia.

Ada sesuatu yang menyentuh dari kisah itu. Di usia ketika sebagian mahasiswa sibuk mencari hiburan atau membangun jejaring sosial, Louie justru sibuk mencari jejak-jejak peradaban yang melahirkan dirinya.

Namun pencarian itu ternyata belum selesai. Justru ketika ia melanjutkan studi ke Belanda, perjalanan intelektual itu menemukan babak yang lebih besar.

Leiden bukanlah kota biasa dalam sejarah Indonesia. Di kota inilah begitu banyak arsip, manuskrip, dan catatan mengenai Nusantara tersimpan selama berabad-abad. Leiden menjadi semacam gudang memori kolonial sekaligus gudang pengetahuan tentang Indonesia.

Bagi Louie, Leiden adalah ruang perjumpaan yang unik. Di satu sisi ia hidup jauh dari tanah Bugis-Makassar. Di sisi lain, justru di negeri yang berjarak ribuan kilometer dari Sulawesi Selatan itu, ia menemukan begitu banyak pengetahuan tentang kampung halamannya.

Paradoks itu menjadi salah satu daya tarik buku ini.

Kita mengikuti langkah-langkah seorang anak muda yang berjalan di antara rak-rak perpustakaan Eropa, membaca naskah-naskah lama, bertemu para peneliti, menyerap berbagai perspektif, lalu perlahan menyusun kepingan-kepingan identitasnya sendiri.

Buku Magaligo ri Leiden berisi enam belas cerita yang merekam pengalaman hidup dan pembelajaran selama berada di Belanda. Ada kisah mengenai kehidupan sehari-hari. Ada pengamatan tentang budaya. 

Ada refleksi tentang masyarakat Eropa. Ada pula catatan-catatan kecil yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya memperlihatkan proses pertumbuhan intelektual seseorang.

Yang menarik, Louie tidak menulis seperti akademisi yang sedang menyusun laporan penelitian. Ia memilih jalan yang lebih sulit sekaligus lebih efektif: bercerita.

Melalui storytelling, berbagai pengetahuan sejarah dan kebudayaan mengalir secara alami. Pembaca tidak merasa sedang dijejali data. Tidak merasa sedang dipaksa memahami teori. Kita hanya diajak mengikuti perjalanan seorang tokoh yang sedang belajar memahami dunia dan dirinya sendiri.

Mungkin di situlah kekuatan utama buku ini. Banyak buku sejarah membuat pembaca merasa sedang mengikuti kuliah. Banyak buku budaya membuat pembaca merasa sedang diuji pengetahuannya.


Namun Magaligo ri Leiden membuat pembaca merasa sedang menemani seorang sahabat dalam perjalanan panjangnya.

Bagi saya pribadi, pengalaman membaca buku ini terasa unik. Sebagian besar referensi yang disebutkan Louie bukanlah hal baru. Saya pernah membaca Anthony Reid. Saya mengenal karya-karya Christian Pelras. Saya juga pernah menelusuri sejumlah literatur yang menjadi fondasi pengetahuan mengenai Bugis-Makassar.

Karena itu, jika diukur dari jumlah informasi baru yang saya peroleh, mungkin tidak terlalu banyak. Tetapi sesungguhnya saya tidak membaca buku ini untuk mencari data. Saya membaca buku ini untuk memahami perjalanan seseorang. Dan di situlah nilai buku ini menjadi berbeda.

Buku ini membawa saya masuk ke dalam pengalaman batin seorang generasi Bugis baru. Generasi yang lahir di tengah dunia yang semakin global, semakin cair, dan semakin jauh dari akar tradisi. Generasi yang tidak lagi menerima identitas sebagai sesuatu yang otomatis diwariskan, melainkan sesuatu yang harus dicari, dipelajari, dan dipahami secara sadar.

Saya melihat bagaimana sebuah rasa ingin tahu dapat tumbuh menjadi perjalanan intelektual. Saya melihat bagaimana benih-benih pengetahuan perlahan menjadi tunas. 

Dan saya melihat bagaimana seseorang rela menempuh perjalanan yang jauh, membaca banyak buku, mengunjungi banyak tempat, dan menyeberangi banyak batas geografis hanya untuk memahami satu hal yang tampaknya sederhana: dari mana ia berasal.

Pada akhirnya, Magaligo ri Leiden bukan hanya buku tentang Leiden. Bukan pula sekadar buku tentang La Galigo. Ini adalah buku tentang pencarian. Tentang seorang anak perantauan yang mencoba menemukan rumahnya.

Dan seperti semua pencarian yang jujur, perjalanan itu ternyata tidak pernah benar-benar berakhir. Sebab setiap kali kita menemukan satu jawaban tentang kampung halaman, selalu muncul pertanyaan baru yang membuat kita ingin menggali lebih dalam lagi.

Mungkin itulah sebabnya buku ini terasa hangat. Ia mengingatkan bahwa di tengah dunia yang terus bergerak ke depan, selalu ada orang-orang yang memilih menoleh ke belakang. Bukan untuk hidup di masa lalu, melainkan untuk memahami akar yang membuat mereka mampu berdiri tegak hari ini.

Dan kadang-kadang, jalan pulang yang paling jauh memang bukan menuju sebuah tempat, melainkan menuju pemahaman tentang diri sendiri.