Kebangkitan yang Menyatukan Islam, Nasionalis, dan Kiri
Bayangkan sebuah malam di awal abad ke-20. Di sebuah ruangan sederhana, mungkin dengan lampu yang temaram dan udara yang pekat oleh asap rokok, tiga orang duduk mengitari meja kayu.
Di luar, Hindia Belanda masih berdiri kukuh sebagai mesin kolonial yang menghisap tenaga, hasil bumi, dan martabat manusia. Kereta api membawa gula, kopi, dan hasil perkebunan menuju pelabuhan untuk dikirim ke Eropa, sementara di kampung-kampung rakyat hidup dalam keterbatasan yang nyaris tak memberi harapan.
Namun di kota-kota, sesuatu sedang bergerak. Kesadaran baru perlahan tumbuh. Orang-orang mulai berbicara tentang ketidakadilan, tentang harga diri, dan tentang kemungkinan untuk menjadi bangsa yang merdeka.
Di ruangan itu duduk H.O.S. Tjokroaminoto, sang orator besar yang kata-katanya mampu menggetarkan ribuan orang. Di hadapannya ada Haji Misbach, seorang muslim yang saleh tetapi juga radikal dalam pandangan sosialnya, seseorang yang melihat Islam bukan sekadar jalan spiritual, melainkan juga panggilan untuk melawan penindasan.
Di sisi lain hadir Semaun, anak muda yang mulai terpikat pada sosialisme dan percaya bahwa pembebasan hanya mungkin terjadi jika struktur ketidakadilan dihancurkan sampai ke akarnya. Mereka datang dari jalan pikiran yang berbeda. Bahasa politik mereka tidak sama.
Cita-cita tentang masa depan mungkin juga tidak sepenuhnya serupa. Namun malam itu, mereka berbicara tentang pertanyaan yang sama: bagaimana melepaskan bangsa ini dari kolonialisme?
Pemandangan seperti itu terasa nyaris mustahil dibayangkan hari ini. Kita hidup pada masa ketika ideologi lebih sering menjadi pagar yang memisahkan ketimbang jembatan yang mempertemukan. Perbedaan politik tidak lagi diperlakukan sebagai ruang percakapan, melainkan sebagai alasan untuk saling meniadakan.
Nasionalisme berjalan di jalurnya sendiri. Islam politik berbicara kepada lingkarannya sendiri. Sementara komunisme bukan sekadar ditolak, melainkan dihapus dari percakapan publik, seolah-olah ia tidak pernah menjadi bagian dari sejarah bangsa ini.
Di Hari Kebangkitan Nasional, saya membaca buku An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912–1926 karya Takashi Shiraishi, satu buku sejarah terbaik yang pernah saya baca.
Di buku ini, kita menemukan gambaran sejarah yang jauh lebih rumit, jauh lebih hidup, dan jauh lebih jujur daripada narasi resmi yang selama ini diajarkan.
Buku ini menunjukkan bahwa kebangkitan nasional Indonesia tidak pernah lahir dari satu rahim ideologi. Ia tumbuh dari perjumpaan berbagai gagasan, dari perdebatan yang sengit, dari solidaritas yang kadang rapuh tetapi nyata, dan dari keyakinan bersama bahwa kolonialisme adalah musuh yang harus diakhiri.
Selama ini sejarah kebangkitan nasional sering disajikan dalam bentuk yang terlalu rapi. Kita diajari sebuah garis lurus yang mudah dihafal: Budi Utomo, Sarekat Islam, Sumpah Pemuda, lalu kemerdekaan. Dalam narasi seperti itu, sejarah tampak seperti parade tokoh-tokoh besar yang bergerak tertib menuju satu tujuan.
Namun Takashi Shiraishi membongkar kerapian semacam itu. Ia memperlihatkan bahwa Jawa pada awal abad ke-20 bukanlah ruang yang tertata rapi, melainkan arena politik yang penuh energi, ketegangan, improvisasi, dan pergerakan yang nyaris tak bisa diprediksi.
Itulah makna An Age in Motion. Ini adalah kisah tentang sebuah zaman yang sedang bergerak. Kota-kota berkembang, surat kabar bermunculan, rapat umum menjadi panggung baru, dan ide-ide politik bergerak cepat melintasi kelas sosial.
Politik tidak hanya milik elite terdidik atau kaum bangsawan. Ia mulai masuk ke pasar, ke stasiun kereta, ke warung kopi, ke sekolah, ke masjid, bahkan ke percakapan sehari-hari rakyat biasa.
Yang membuat buku ini begitu penting adalah karena Shiraishi menunjukkan bahwa kebangkitan nasional Indonesia sejak awal merupakan proyek yang jauh lebih plural daripada yang sering kita bayangkan. Islam memainkan peran penting melalui Sarekat Islam yang menjadi kendaraan mobilisasi massa.
Nasionalisme tumbuh melalui kaum terdidik yang mulai membayangkan Indonesia sebagai komunitas politik bersama. Sosialisme dan komunisme berkembang melalui organisasi buruh, jaringan aktivis, dan kelompok-kelompok kiri yang menawarkan kritik tajam terhadap eksploitasi kolonial.
Menariknya, batas-batas antara arus-arus itu pada masa awal tidak sekaku sekarang. Orang bisa bergerak di antara berbagai gagasan tanpa harus segera diberi label yang membatasi. Sarekat Islam, misalnya, bukan sekadar organisasi keagamaan seperti yang sering disederhanakan dalam buku pelajaran.
Ia pernah menjadi rumah besar tempat berbagai pemikiran bertemu, berdebat, dan saling memengaruhi. Di sana ada unsur Islam, nasionalisme, sosialisme, bahkan benih-benih komunisme.
Figur seperti Haji Misbach menjadi bukti paling menarik tentang fluiditas itu. Ia adalah seorang muslim yang taat, tetapi sekaligus radikal dalam memperjuangkan keadilan sosial. Dalam cara berpikir hari ini, figur seperti Misbach terasa membingungkan karena kita terbiasa memandang identitas politik dalam kotak-kotak yang kaku.
Kita cenderung berpikir bahwa seseorang harus memilih menjadi religius atau kiri, seolah keduanya mustahil bertemu. Namun sejarah menunjukkan kenyataan yang lebih kompleks. Misbach justru memperlihatkan bahwa pada masa itu, semangat keagamaan dan kritik terhadap ketimpangan bisa berjalan beriringan.
Shiraishi juga mengingatkan bahwa kebangkitan nasional bukan hanya karya para elite besar. Ia adalah hasil dari keterlibatan rakyat biasa yang mulai belajar menjadi subjek politik. Ada pedagang kecil yang menghadiri rapat Sarekat Islam.
Ada buruh yang membaca selebaran politik. Ada jurnalis yang menyebarkan gagasan anti-kolonial. Ada pengorganisir massa yang berpindah dari kota ke kota. Ada guru agama yang menjadikan mimbar sebagai ruang untuk berbicara tentang keadilan. Kebangkitan nasional, dalam gambaran Shiraishi, bukanlah proyek steril yang dirancang dari atas. Ia adalah letupan energi sosial dari bawah.
Yang menyatukan berbagai unsur itu bukanlah keseragaman ideologi, melainkan kesadaran tentang musuh bersama. Kolonialisme dipahami sebagai struktur penindasan yang harus dilawan. Karena itu, orang-orang dengan pandangan berbeda masih bisa duduk bersama dan berbicara tentang masa depan. Mereka boleh berbeda pendapat tentang bentuk masyarakat ideal, tetapi mereka memiliki kesepahaman tentang satu hal: bangsa ini harus bebas.
Di titik inilah perbandingan dengan masa kini terasa menyakitkan. Hari ini kita memperingati kebangkitan nasional setiap tahun dengan upacara, slogan, dan pidato formal, tetapi makna kebangkitan itu sendiri terasa semakin menyempit.
Lebih dari itu, sejarahnya telah mengalami amputasi besar-besaran. Kaum komunis bukan hanya kalah dalam perebutan kekuasaan politik, tetapi juga dihapus dari memori kolektif bangsa. Setelah 1965, sejarah Indonesia ditulis dengan cara yang menyederhanakan kenyataan menjadi narasi hitam-putih. Komunisme dijadikan simbol mutlak kejahatan, sehingga segala kontribusinya dalam fase awal perjuangan anti-kolonial ikut tersapu.
Tentu sejarah tidak harus dibaca dengan naif. Mengakui bahwa kaum komunis memiliki peran dalam kebangkitan nasional bukan berarti membenarkan semua tindakan politik yang pernah terjadi kemudian. Namun menolak mengakui kontribusi mereka sama saja dengan menolak kejujuran sejarah.
Semaun adalah bagian dari sejarah kebangkitan itu. Tan Malaka adalah bagian dari sejarah itu. Musso adalah bagian dari sejarah itu. Buruh-buruh yang terorganisir dalam gerakan kiri juga memiliki saham dalam membangun kesadaran anti-kolonial.
Ketika bagian sejarah itu dihapus, yang hilang bukan sekadar nama-nama tertentu. Yang hilang adalah pemahaman bahwa Indonesia lahir dari koalisi gagasan yang jauh lebih luas dan lebih plural daripada yang kita akui sekarang.
Ironinya, ketika bangsa ini belum merdeka, ruang dialog justru terasa lebih terbuka. Orang-orang dengan perbedaan tajam masih bisa berdebat dalam ruang yang sama. Hari ini, ketika kita hidup dalam republik yang merdeka, percakapan justru semakin mudah dipatahkan oleh stigma, kecurigaan, dan trauma sejarah yang tak pernah benar-benar diolah.
Itulah sebabnya An Age in Motion terasa penting untuk dibaca hari ini. Buku ini bukan sekadar karya sejarah tentang masa lalu. Ia adalah cermin yang memperlihatkan bahwa bangsa ini sebenarnya lahir dari keberanian untuk mempertemukan perbedaan. Indonesia tidak dibangun oleh satu ideologi tunggal, melainkan oleh perjumpaan berbagai arus yang sama-sama ingin mengakhiri penindasan.
Jika dahulu Tjokroaminoto, Haji Misbach, dan Semaun masih bisa duduk di satu meja untuk membicarakan kemerdekaan, mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan hari ini bukanlah siapa yang paling berhak atas sejarah kebangkitan nasional, melainkan mengapa kita justru semakin takut untuk mengakui bahwa sejarah itu sejak awal memang milik banyak orang.
.png)