Jumpa La Ode Basir
Di acara halal bihalal diaspora masyarakat Buton di Jakarta, saya jumpa pria itu. Dia masih legam, tapi senyumnya selalu hangat. Dia La Ode Basir.
Di masa pilpres, hampir setiap hari dia muncul di layar kaca sebagai Jubir Anies Baswedan. Sebelumnya, dia keliling daerah bersama Rocky Gerung untuk menebar virus akal sehat.
Pria yang besar di Seram, kemudian kembali ke Buton untuk lanjut sekolah di SMA 2 Baubau ini memiliki perjalanan karier yang unik. Semasa kuliah di UPI - yang kata orang Bandung adalah singkatan dari Universitas Padahal IKIP- dia adalah aktivis mahasiswa.
Biarpun dia orang Buton, etnik minoritas di kampusnya, dia memimpin HMI di Komisariat hngga Korkom UPI. Dia sudah kenal dan akrab dengan elite-elite politik.
Saat politisi asal Jabar hendak maju menjadi anggota DPD RI, La Basir menjadi tim yang sukses mengumpulkan suara ribuan. Namun saat itu dia belum melenting. Dia masih tenggelam.
Namanya mulai mencuat saat menjadi salah satu orang kepercayaan seorang pengusaha asal Sulawesi Selatan.
Semuanya bermula dari aktivitasnya sebagai marbot atau penunggu Masjid Sunda Kelapa. Saat itu, sang pengusaha menjadi salah satu jamaah masjid yang rutin datang salat subuh. Di situ, dia setiap hari melihat La Basir yang tinggal di masjid dan setia melayani semua jamaah.
Mulailah La Basir dipercaya. Dia bahkan diangkat sebagai Wakil Kepala Sekolah dari SMA unggulan yang dimiliki pengusha itu di Bogor. Tak hanya itu, saat pilgub DKI di mana Anies menjadi calon gubernur, sang pengusaha ikut mendukung mantan Mendikbud itu.
Ketika terpilih jadi gubernur, Basir menjadi komisaris PD Pasar Jaya, yang asetnya triliunan. Jaringannya semakin membesar.
Ada satu kisah unik semasa dia menjadi komisaris. Saat RUPS, pihak Direksi PD Pasar Jaya membuat laporan sekadarnya. Betapa kaget mereka saat La Basir mengkritik habis laporan itu dan menguliti semua anggaran. Barulah pihak Direksi sadar kalau La Basir bukan sekadar marbot, dia punya pengalaman di korporasi.
Saat pilpres barusan, kembali La Basir tampil di media atas nama Anies. Menurutnya, Anies justru dintungkan dengan menunjuk dirinya sebagai jubir.
“Pak Anies itu putih, ganteng, dan tinggi. Sementara tidak semua orang Indonesia ganteng. Separuh orang Indonesia itu jelek, hitam, dan tinggal di timur. Saya orang yang merepresentasikan semua itu. Orang baru lihat fisik dan nama, langsung tahu kalau saya dari Timur,” katanya.
Dia benar juga. Pantas saja, ada partai besar ingin melamarnya sebagai jubir karena apa yang dia jelaskan tadi. Dia menolak tawaran itu sebab fokus mengawal Pramono Anung di kursi Gubernur DKI, dalam posisinya sebagai Komisaris PD Pasar Jaya.
Di acara halal bihalal masyarakat Buton, saya senang jumpa La Basir. Saat itu, ada dosen yang hendak maju di jalur politik. La Basir menyuruh dosen itu untuk menajwab dua hal, apa yang menjadi target dan tujuannya, serta apa yang dia miliki untuk mencapainya.
“Apa yang ingin kamu kejar?” tanyanya. Saya yang mendengar itu spontan menjawab kekayaan. Bagi saya, tak penting jadi pemimpin. Yang penting, dompet selalu penuh, bisa traktir2, bisa panggil mahasiswa lalu marah2 trus kasih uang, kalau malam bisa karaokean bareng ledis sambil peluk manja.
“Apa yang bisa saya bantu untuk Bang Yus,” kembali La Basir merespon. Spontan saya menjawab, “Pinjam seratus bang.” Dia sempat kaget “Hah? Seratus? Gimana kalau saya tambahkan lima nol buat Abang.”
“Hah? Serius” tanyaku. Saya langsung membayangkan malam itu akan mencoba wine mahal. Bukan lagi konau, ballo, tjap tikus, dan anggur kolesom tjap orang toea. Saya bayangkan malam itu akan karaokean di mana, dan bersama ledis yang mana yaa..
