Di Tengah Keramaian, Anak-Anak Itu Kesepian
Tubuh itu ditemukan setelah pagi bergerak seperti biasa. Di sebuah sudut kampus di Makassar, ketika sebagian mahasiswa sedang bersiap masuk kelas, seorang mahasiswa ditemukan tak lagi bernyawa setelah diduga melompat dari sebuah gedung.
Kabar itu menyebar cepat, seperti semua kabar buruk di era ini. Grup-grup percakapan mendadak ramai. Orang-orang saling bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Lalu beredar sebuah voice note. Suara seorang perempuan muda. Letih. Pelan. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama berbicara dengan dirinya sendiri. Dalam rekaman itu, tergambar sesuatu yang mungkin bahkan lebih sunyi daripada kematian itu sendiri: kesepian. Perasaan bahwa hidup perlahan menjadi ruang sempit yang tak lagi menyediakan jalan keluar.
Setiap kali mendengar kabar seperti ini, saya selalu dihantam pertanyaan yang sama: apa yang sedang terjadi dengan anak-anak muda kita?
Belakangan, kabar tentang mahasiswa yang bergulat dengan kecemasan, depresi, atau kelelahan mental bukan lagi sesuatu yang asing. Ini bukan hanya terjadi di sini.
Di banyak negara, para peneliti mulai mencatat pola yang sama: mahasiswa adalah kelompok yang makin rentan mengalami tekanan psikologis. Dunia mereka, ironisnya, justru makin berat ketika teknologi makin canggih dan akses informasi makin terbuka.
Mungkin karena hidup hari ini terasa seperti perlombaan yang tak pernah benar-benar selesai.
Saya tak ingin menghakimi siapa pun. Sebab setiap manusia memikul beban yang tak selalu terlihat dari luar. Tetapi saya teringat masa menjadi mahasiswa dulu. Rasanya seperti hidup di planet yang berbeda.
Saya dan rekan segenerasi menjalani hari-hari kuliah dengan cara yang jauh lebih ringan. Bukan karena hidup lebih mudah. Banyak juga yang hidup pas-pasan. Ada yang menumpang di kos teman, ada yang menunda bayar uang kuliah, ada yang makan seadanya di akhir bulan. Tetapi entah mengapa, kecemasan kami tidak mengambil bentuk seperti sekarang.
IPK bukan sesuatu yang membuat orang kehilangan tidur. Masa depan bukan monster yang setiap hari menguntit dari belakang.
Kami tidak bangun pagi lalu membuka telepon genggam untuk melihat orang lain seusia kami sudah magang di perusahaan besar, membangun startup, mendapat beasiswa luar negeri, atau memamerkan pencapaian yang membuat kita merasa tertinggal.
Hari-hari kami diisi dengan hal-hal sederhana, tetapi justru itulah yang membuat kami tetap waras.
Sekretariat organisasi adalah rumah kedua. Kantin kampus adalah ruang terapi gratis. Diskusi yang tidak selesai-selesai tentang politik, cinta, musik, atau hal-hal absurd menjadi cara kami mengusir kegelisahan.
Jika sedang patah hati, ada teman yang mendengar. Jika sedang bingung soal masa depan, ada senior yang memberi wejangan, meski sering kali nasihatnya juga ngawur. Jika sedang suntuk, kami bisa tiba-tiba sepakat pergi ke pantai, menumpang motor, tertawa tanpa alasan yang penting.
Saya menikmati masa-masa itu. Saya senang hadir di himpunan, senat fakultas, senat universitas, bahkan pergaulan lintas universitas. Saya suka mendatangi diskusi lalu menyampaikan pendapat, sembari diam-diam melirik seseorang yang saya bayangkan kagum melihat kecerdasan saya.
Sesekali kami pergi dengan label “bina akrab”, “rapat kerja”, atau nama kegiatan lain yang kadang lebih banyak unsur jalan-jalannya. Siang berkegiatan, malam bermain gitar, bercakap sampai larut, berbagi cerita, tertawa atas hal-hal remeh, dan tentu saja—sekali lagi—melirik si dia.
Tanpa kami sadari, semua itu sesungguhnya adalah penyangga mental.
Hari ini, banyak peneliti menyebut kesepian sebagai epidemi modern. Istilahnya mungkin terdengar berlebihan, tetapi jika dipikir-pikir, ada benarnya juga. Kita hidup di zaman ketika semua orang bisa dihubungi kapan saja, tetapi justru makin banyak yang merasa sendirian.
Mahasiswa hari ini tampaknya hidup dalam dunia yang berbeda sama sekali. Mereka jauh lebih terkoneksi, tetapi sering kali jauh lebih kesepian.
Ada satu ironi lain yang menarik. Anak-anak muda hari ini, dalam banyak hal, tampak jauh lebih religius. Simbol-simbol keberagamaan hadir di mana-mana. Kajian ramai. Konten-konten dakwah berseliweran. Ajakan beribadah mudah ditemukan. Banyak anak muda tampak akrab dengan ritual-ritual keagamaan.
Tetapi religiusitas ternyata tidak selalu identik dengan ketenangan batin.
Kadang saya bertanya, jangan-jangan yang hilang justru ruang dialog yang paling sunyi: dialog dengan diri sendiri.
Kita hidup di zaman yang sangat bising. Semua orang bicara. Semua orang memberi nasihat. Semua orang menawarkan jawaban. Tetapi makin sedikit orang yang benar-benar duduk diam, merenung, mendengar suara hatinya sendiri, berdamai dengan luka-lukanya, atau menghadirkan keheningan agar bisa benar-benar merasakan kehadiran Tuhan di ruang terdalam dirinya.
Ibadah bisa menjadi rutinitas. Spiritualitas seharusnya menjadi perjumpaan. Dan ketika manusia kehilangan ruang untuk bercakap dengan dirinya sendiri, bahkan keramaian pun bisa terasa sangat sunyi.
Media sosial membuat kehidupan orang lain tampak seperti etalase keberhasilan. Semua orang terlihat sedang melaju. Semua tampak punya tujuan. Semua tampak produktif. Semua tampak baik-baik saja. Padahal mungkin tidak. Dan jika seseorang sedang tertinggal, ia merasa tertinggal sendirian.
Belum lagi dunia kerja yang makin brutal. Mahasiswa bahkan belum lulus sudah dicekoki pertanyaan yang membuat cemas: skill apa yang kamu punya? Sudah ikut berapa sertifikasi? Sudah bangun personal branding? Sudah punya pengalaman magang? Sudah siap bersaing dengan AI?
Beban menjadi dewasa datang terlalu cepat. Yang lebih menyedihkan, ruang untuk melepaskan kecemasan justru makin sempit.
Organisasi mahasiswa tidak lagi selalu menjadi rumah sosial seperti dulu. Nongkrong panjang di kantin kalah oleh budaya scrolling. Percakapan mudah terpotong notifikasi. Kedekatan terasa ramai di layar, tetapi tipis dalam kehidupan nyata. Banyak yang punya ratusan kontak, tetapi tidak tahu harus menelepon siapa ketika malam terasa terlalu panjang.
Dan mungkin, di situlah tragedi seperti ini menemukan ruangnya. Bukan semata karena seseorang lemah. Bukan semata karena ia tidak kuat menghadapi tekanan. Tetapi karena kadang manusia bisa berada di titik ketika ia merasa kesepiannya terlalu penuh untuk dipikul sendirian.
Saya tidak ingin meromantisasi masa lalu. Setiap generasi punya bebannya sendiri. Tetapi sulit menolak kenyataan bahwa mahasiswa hari ini sedang hidup di zaman yang menuntut terlalu banyak hal sekaligus: harus pintar, harus adaptif, harus cepat, harus sukses, harus stabil secara emosional, dan pada saat yang sama harus terlihat baik-baik saja.
Padahal manusia tidak diciptakan untuk terus-menerus kuat.
Mungkin yang paling dibutuhkan anak-anak muda hari ini bukan lebih banyak seminar motivasi. Bukan lebih banyak nasihat untuk “jangan menyerah.”
Mungkin yang mereka butuhkan adalah ruang sosial yang hangat. Teman yang benar-benar hadir. Kampus yang tidak hanya menjadi tempat mengejar nilai, tetapi juga tempat seseorang bisa merasa aman untuk berkata: saya sedang tidak baik-baik saja.
Dan mungkin, lebih dari itu, mereka butuh ruang hening. Ruang untuk berdialog dengan dirinya sendiri. Ruang untuk bernapas. Ruang untuk merasakan bahwa hidup ini lebih besar dari sekadar kompetisi.
Karena kadang, yang membunuh seseorang bukan hanya masalah yang ia hadapi.
Tetapi keyakinan bahwa tak ada siapa-siapa yang sungguh mendengar, termasuk dirinya sendiri.
.png)