Menulis BAHLIL


Di satu warkop yang sering didatangi anak Makassar di Jakarta, saya jumpa Boge Rahman Farisi dan sejumlah kawan. Saat ngobrol santai itulah muncul ide untuk menulis buku mengenai Olah-Olah Bahlil.

Sejak awal saya tertarik menulis Bahlil. Saya ingat kata seorang kawan di satu grup, bagaimanapun kritik dan hujatan padanya, dia adalah orang yang benar-benar mulai dari nol. Dia merangkak untuk mencapai posisinya sekarang.

Demi mempercepat prosesnya, kami membentuk tim. Anggotanya, mulai jurnalis hingga ekonom. Rupanya Bang Bahlil -demikian disapa- mendukung penuh proyek ini. Malah dia memberi rekomendasi narsum, mulai dari Wakil Menteri ESDM, Ketua HIPMI, beberapa dirjen, hingga kawannya semasa di HMI Cabang Jayapura.

Saya pun mengumpulkan informasi tentang keluarganya. Saya telusuri bahan-bahan mengenai orangtuanya Lahadalia dan Wa Nurjani, yang merupakan diaspora Buton di Banda, kemudian pindah ke Fakfak. 

Bersama Boge, tugas lainnya adalah meramu semua bahan-bahan itu menjadi 10 bab, yang mengikuti perjalanan Bahlil. Tentunya, gagasan inti yang mengikat semuanya adalah konsep “olah-olah” sebagai satu-satunya hal yang dimiliki Bahlil untuk mencapai posisinya sekarang.

Namun jangan menilai olah-olah sebagai sesuatu yang negatif. Justru olah-olah adalah seni untuk bertahan hidup, seni membangun networking serta memperkuat kepercayaan (trust). Kita bisa lihat, bagaimana Bahlil menerapkan mantra olah-olah saat menempuh jalan berliku, mulai dari menjadi penjual kue, kondektur, sopir angkot, lalu aktivis HMI, hingga menjadi menteri energi. 

Sembari menulis, bahan-bahan dikirim ke Bahlil. Saya tidak menyangka kalau dia membaca detail semua bahan, beda halnya dengan kepala daerah yang penah saya tuliskan bukunya. Komentarnya selalu sama: “Ini paten.” 


Dia terheran-heran karena kami bisa merangkum banyak informasi, bisa menuliskan perjalanan keluarganya yang mengungsi ke Fakfak karena gunung meletus di Banda, hingga mencatat bagaimana dia bertahan hidup di tengah himpitan kemiskinan d Jayapura. Dia tidak tahu kalau kami sudah terbiasa dengan kerja-kerja riset.

Kini penulisan sudah kelar. Tahap berikutnya adalah menata letak, serta membuat berbagai infografik, komik, dan karikatur yang menarik. Targetnya adalah buku ini bisa dibaca semua kalangan. Bukan hanya poliisi Jakarta. Semoga bisa launching saat ulang tahunnya di Agustus mendatang.

Saya pikir ini proyek yang tidak sulit. Kami mudah banyak orang penting, termasuk para petinggi kementerian. Berkat proyek ini, bertambah lagi jaringan dan pertemanan dengan orang ESDM. Sepertinya saya akan punya akses untuk bisnis eceran minyak tanah di Pasarwajo, Buton.

Semalam, seorang ajudan gubernur di Kalimantan menghubungi saya untuk proyek serupa. Dia langsung to the point, berapa honor yang perlu mereka siapkan. Yah, tak banyak sih. Yang penting cukup melunasi tagihan pinjol, mulai dari shopeepay, Gopay, dan Akulaku.

“Berapa Om?” tanyanya.