Jumpa Dirjen Migas


Setiap kali ada ajakan makan-makan, saya tidak pernah menolak. Apalagi jika diajak makan di salah satu restoran di Plaza Senayan, Jakarta, satu mal mewah, yang entah kenapa, setiap kali melintas di situ selalu sukses bikin saya merasa minder saat melihat harga2 barang bermerek, selalu bikin saya merasa jelek saat melihat selebriti melintas, serta bikin saya mengutuk diri sendiri, kok masih miskin dan belum kaya. Kapan yaa.

Kali ini yang ajak makan adalah Dirjen Migas di Kementerian ESDM, Laode Sulaeman. Dari namanya sudah bisa ditebak, dia orang Buton. Bapaknya dari Wakatobi, tepatnya di Binongko. Ibunya dari Baubau, dari trah keluarga bangsawan Buton. Saya sudah lama mendengar namanya, tapi belum pernah bertemu. 

Biar saya ada kawan, saya ajaklah Prof. Susanto Zuhdi, guru besar sejarah Universitas Indonesia, sekaligus ketua tim penyusunan buku sejarah nasional, yang dibentuk Fadli Zon dan sempat ramai dibahas netizen. Susanto menulis disertasi tentang Sejarah Buton. Dia sejarawan produktif.

Saya membayangkan akan mendengar informasi tentang cadangan migas setelah Selat Hormuz ditutup. Saya pikir beliau akan ajak diskusi tentang Blok Mabello, cadangan migas yang membentang di Buton, Buton Selatan, Buton Tengah hingga Buton Utara, yang saat ini sedang dalam proses lelang. 

Rupanya, dia hanya ingin ngobrol lepas dengan orang Buton di Jakarta. Berceritalah dia tentang bagaimana dirinya semasa kecil naik perahu dari Binongko ke Baubau selama 4 hari menerjang ombak, berceritalah dia tentang keluarganya di kampung. Dia juga bahas bagaimana menapak karier sampai posisi Dirjen Migas. Kami tertawa lepas dalam obrolan sepanjang dua jam lebih 

Setelah foto2, saya pulang ke Bogor. Di tengah perjalanan, tiba2 saya ingat rencana bisnis gas melon tiga kilo yang belum terealisasi. Saya ingat teman di kampung yang ingin bikin pangkalan minagasi, dan bersaing dengan pengusaha Haji Ba'a, Haji Laba, Haji Karim, juga Haji Ali. 

Ah, kok saya bisa lupa yaa..