Sebagaimana Turki dan Mesir, Kesultanan Buton juga Membunyikan Meriam Ramadhan
Senja menggantung di langit Baubau. Dari ketinggian Benteng Keraton Buton, laut tampak membiru gelap. Beberapa orang berdiri menghadap barat, menanti garis tipis cahaya di antara sisa matahari. Di bawah benteng, kampung-kampung menunggu kabar.
Jika hilal terlihat, tak lama kemudian meriam akan diledakkan. Dentuman itu bukan sekadar suara. Ia adalah pengumuman resmi negara. Esok hari, puasa dimulai.
Di Kesultanan Buton, penentuan awal Ramadan bukan urusan spontanitas masyarakat. Ia berada di tangan kesultanan. Tembaana Bula atau “menembak bulan” adalah prosesi kenegaraan, simbol bahwa otoritas politik dan agama menyatu dalam satu keputusan.
Sebagaimana diungkapkan oleh Ibn Ata Allah al-Iskandari dalam Al-Hikam, “Tidaklah Allah membuka bagimu pintu ketaatan kecuali Dia hendak membukakan bagimu pintu kedekatan.”
Hilal yang ditunggu di langit Buton bukan sekadar tanda waktu; ia adalah pintu menuju kedisiplinan jiwa dan kebersamaan yang disucikan.
Dalam tata pemerintahan Buton, urusan agama ditangani oleh perangkat resmi bernama Sara Kidhina. Lembaga ini terdiri dari seorang lakina agama, seorang imam, empat khatib, dua belas moji, dan empat tungguna ganda.
Perhitungan hilal dilakukan oleh Moji Tungguna Bula. Pengamatan bulan sabit dilaksanakan oleh para Bonto Yinunca dan Tamburu Limaanguna di Galampatana, kawasan pengamatan di dalam benteng keraton.
Secara teknis, rukyat menjadi tanggung jawab moji tungguna aba. Prosesinya berjalan berlapis dan terstruktur. Setelah pengamatan dilakukan oleh Sara Kidhina, hasilnya dilaporkan kepada sultan.
Di sinilah keputusan final diambil. Sultan menetapkan secara resmi dimulainya Ramadan.
Tembaana Bula serupa dengan pengumuman resmi pemerintah kepada seluruh rakyat untuk melaksanakan ibadah puasa. Ketika titah keluar, meriam dibunyikan di gerbang benteng.
Suaranya bersahut-sahutan, termasuk dari Benteng Sorawolio dan Benteng Baadia. Ramadan dimulai bukan hanya karena hilal terlihat, tetapi karena negara—melalui sultan—mengumumkannya.
Di titik itu, spiritualitas dan tata kelola bertemu. Negara memberi kepastian; agama memberi makna; rakyat menjalani dengan khidmat.
Meriam Ramadan di Turki, Mesir, dan Nusantara
Tradisi dentuman meriam sebagai penanda Ramadan ternyata melintasi batas geografis dan zaman.
Di Kekaisaran Ottoman, meriam Ramadan—Ramazan Topu—ditembakkan dari benteng atau sekitar Istana Topkapi sejak abad ke-16. Dentuman itu menandai awal Ramadan dan waktu berbuka setiap hari. Negara memastikan seluruh kota bergerak dalam satu waktu suci.
Di Kairo, Mesir, tradisi midfa al-iftar sudah dikenal sejak era Mamluk abad ke-15. Meriam ditembakkan untuk menandai waktu berbuka dan awal Ramadan. Hingga kini, suara meriam tetap menjadi simbol bahwa negara dan masyarakat berbagi satu ritme ibadah.
Tradisi itu juga hidup di Dubai, Uni Emirat Arab. Setiap Ramadan, Polisi Dubai menyiapkan meriam di sedikitnya 17 lokasi di seluruh kota. Dentuman meriam bukan hanya seremoni, tetapi bagian dari warisan budaya yang mempertemukan modernitas kota global dengan jejak tradisi Islam klasik.
Di Eropa Tenggara, di kota Sarajevo, meriam Ramadan ditembakkan dari Benteng Žuta Tabija. Dentumannya menggema di antara bangunan tua dan bukit-bukit Balkan, menjadi pengikat memori sejarah umat Islam Bosnia.
Di Yerusalem, Palestina, tradisi meriam Ramadan dimulai sejak 1945, menggunakan meriam peninggalan Perang Dunia I. Di kota suci itu, suara meriam menjadi simbol kesinambungan sejarah—antara masa konflik dan masa ibadah.
Baik di Istanbul, Kairo, Dubai, Sarajevo, maupun Yerusalem, meriam Ramadan menjadi pernyataan simbolik bahwa waktu suci adalah urusan bersama. Negara hadir dalam momen spiritual masyarakatnya.
Di Nusantara, komunikasi Ramadan melalui bunyi juga hadir dalam berbagai bentuk. Tabuhan bedug di Jawa, seperti di Masjid Agung Demak, menjadi penanda waktu salat dan berbuka. Di Pontianak, meriam karbit menyemarakkan malam Ramadan.
Namun Tembaana Bula memiliki kekhasan tersendiri. Ia bukan sekadar bunyi perayaan, melainkan simbol keputusan resmi kesultanan. Ramadan dimulai bukan hanya karena hilal terlihat, tetapi karena otoritas tertinggi negeri telah menetapkannya.
Gema yang Tersisa
Tembaana Bula menyimpan pesan yang lebih dalam daripada sekadar dentuman meriam. Di masa lalu, Kesultanan Buton menempatkan Ramadan sebagai urusan kenegaraan, sebuah momentum yang menyatukan struktur politik, otoritas agama, dan kehidupan sosial dalam satu simpul waktu yang sakral.
![]() |
| Anak-anak di depan Masjid Keraton Buton |
Ramadan bukan sekadar kewajiban individual. Ia adalah peristiwa kolektif. Pasar menyesuaikan aktivitas; pelabuhan mengatur ritme; rumah-rumah menata sahur dan berbuka. Negeri bergerak dalam satu irama.
Kini, penetapan awal Ramadan mengikuti mekanisme modern. Meriam di benteng lebih sering menjadi saksi wisatawan daripada saksi hilal. Namun pelajaran dari Tembaana Bula tetap hidup: bahwa spiritualitas dapat memperkuat tata negara, dan tata negara dapat menjaga kehormatan spiritualitas.
Sebagaimana kata Jalaluddin Rumi, “Apa yang kau cari sedang mencarimu.” Ramadan adalah pencarian itu. Dentuman meriam mungkin telah lama berhenti, tetapi kerinduan kolektif untuk menyambut bulan suci, dengan tertib, dengan hormat, dengan kebersamaan, akan selalu menemukan jalannya kembali.
.webp)
.webp)