Jangan Salahkan ANJI



Baru beberapa jam tayang, postingan itu heboh. Penyanyi Erdian Aji Prihartono alias Anji membuat postingan berupa talkshow dengan Hadi Pranoto, seseorang yang mengaku profesor doktor di bidang mikrobiologi, yang mengaku telah menemukan obat Covid sejak Mei. Di Twitter, Anji menjadi trending topic.

Banyak pakar bereaksi. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) membantah. Anji menjadi bulan-bulanan. Ada netizen yang mengklarifikasi. Tapi jauh lebih banyak yang menghujat. Puncaknya adalah Youtube menghapus postingan Anji setelah ditonton ratusan ribu orang.

Si Anji itu tidak salah. Dia hanya mengekspresikan apa yang dia dengar dan dianggap benar. Dia punya hasrat berbagi melalui kanal Youtube. Cuma, dia bodoh. Pengetahuannya cuma sampai di situ. Dia tidak punya disiplin verifikasi yang kuat. Dia tidak tahu bagaimana seharusnya melakukan cek dan ricek atas informasi.

Tugas verifikasi itu harus dikerjakan oleh para ilmuwan kita, para akademisi kita. Namun, banyak akademisi kita larut menjadi netizen yang hanya bisa menghujat. Seharusnya mereka bisa memisah terang dari gelap, mencerahkan publik. Bahwa ada publik yang sebodoh Anji, itu biasa saja. Tidak semua orang bisa kuliah sampai doktor. 

Tapi kan menjadi bodoh di negeri ini tak apa-apa. Anda tak melanggar hukum apa pun. Bodoh pada tingkatan ekstrem yaitu gila lebih tak apa-apa lagi. Dalam agama, orang gila tidak berdosa. Dia bebas ke mana-mana tanpa terikat aturan dunia. Bahkan saat orang gila telanjang bulat sekali pun, orang akan memaklumi. Dia kan gila.

Maka betapa lucunya menyaksikan banyak orang hebat dan pakar di medsos yang kebakaran jenggot gara-gara postingan Anji. Di bidang musik, Anji adalah maestro. Tapi di bidang medis dan dunia talkshow, Anji itu bukan siapa-siapa. Kenapa pula semua orang begitu serius menanggapi postingan seseorang yang tidak berpengetahuan dan tiba-tiba bahas obat Covid?

Kalau menganggap postingan itu ngawur, abaikan saja. Semakin kita peduli, maka semakin heboh pernyataan itu. Lagian, platform Youtube adalah hiburan. Harus diakui, rekaman wawancara Anji di Youtube itu cukup menghibur. Dia ingin meniru para Youtuber lain yang buat konten heboh sehingga ditonton para audiens di mana-mana. Biarkan saja.

Tapi kan malah aneh jika kita ikut heboh dan memaksa agar Youtube mencabut video itu. Bukankah sejak dulu Youtube punya reputasi menyimpan segala jenis video heboh, mulai dari bokep, hoaks, konten bohong, sampai konten prank penuh kengawuran? Apakah kita juga akan jadi polisi dan memaksa Youtube untuk menghapus semuanya? Betapa kurang kerjaannya kita semua.

Mungkin saja ada yang berkata bahwa video Anji itu bisa berbahaya sebab banyak orang yang bisa tersesat. Ya, salahkan orang-orang kenapa percaya. Anji kan bukan media yang menjalankan tugas memberikan informasi bebas dan akurat. Sudah tahu Anji itu bukan dokter atau medis. Kenapa percaya? 

Ucapkan terima kasih pada Anji, karena dia mengajari kita beberapa hal penting sebagai penanda zaman ini.

Pertama, kita hidup di era post-truth. Kata Tom Nichols, ini adalah era “the death of expertise” atau matinya kepakaran. Seorang dokter yang membahas obat bisa dikatai tolol oleh netizen yang merasa dirinya maha benar. Jelas-jelas korban Covid berjatuhan di mana-mana, masih saja menganggapnya sebagai konspirasi. 

Di pasar-pasar tradisional, kita sering bertemu penjual obat yang sibuk memasarkan obat dengan khasiat bisa menyembuhkan segala penyakit. Kita santai saja membeli obatnya, kemudian kecele saat obat itu ternyata tidak berkhasiat. 

Palingan kita berkata “b...sat”, “s..tan”, “an..ng” setelah itu kembali melanjutkan kehidupan seperti biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa. Jika suatu saat ketemu penjual obat itu, kita biasa saja. Mau protes kan malu sendiri.

Pelajaran buat kita adalah saatnya kembali menekuni sains. Saatnya mengecek semua informasi. Percayalah pada otoritas pengetahuan. Soal penyakit, percayalah pada dokter, bukan dukun. Soal ekonomi, percayalah pada ahli ekonomi, bukan netizen. Soal Covid, percayalah pada peneliti virus, bukan pada seseorang penyanyi.

Kedua, Anji adalah potret masyarakat kita yang amat mudah percaya dengan klaim profesor doktor dan pakar di bidang tertentu. Lihat saja di banyak tempat, di banyak kantor instansi, ketika Anda mengaku profesor, maka semua orang akan menganggap Anda pintar. Anda tiba-tiba saja dianggap punya pengetahuan sekualitas dewa. 

Saat seseorang bernama Hadi Pranoto mengaku profesor doktor dan pakar mikrobiologi, Anji percaya saja. Malah membuat sesi wawancara. Belakangan, klaim Hadi Pranoto dipertanyakan. Tak ada yang mengenalnya. Semua orang mengecek Google Scholar. Dia bukan siapa-siapa. Media mencatat, dia panitia keramaian yang menghadirkan Rhoma Irama, di mana penonton mengabaikan protokol covid.

Anji itu tak sendirian. Akui sajalah, masyarakat kita memang mudah silau dan kagum dengan orang bergelar profesor doktor. 

Pernah saya berurusan dengan birokrasi di satu daerah. Saat saya datang, semua orang cuek. Saya diabaikan. Saat seorang kawan menyapa Pak Doktor, kemudian kawan lain menyapa Pak Prof, semua orang di ruangan itu langsung menoleh. Malah ada yang membungkuk. 

Begitu dikira profesor, sengawur apa pun omongan saya, orang percaya. Masyarakat kita lebih suka memandang gelar ketimbang substansi pembicaraan. Padahal saya bukan profesor. Saya hanya seorang provokator.

Meskipun saya lebih banyak tidak percaya Rocky Gerung, tapi saya setuju dengan pernyataannya: “Ijazah adalah tanda bahwa Anda pernah sekolah, bukan tanda Anda bisa berpikir.” 

Ketiga, talkshow kita sejak dulu kehilangan substansi. Tak perlu ribut dengan wawancara yang diadakan Anji. Setiap hari kita sebagai penonton dibombardir dengan kehadiran sosok seperti Ali Ngabalin, Rizal Ramli, Ruhut Sitompul, juga para politisi yang suka bertengkar di layar kaca saat siaran langsung, dan begitu jeda iklan bisa saling rangkul dan ketawa-ketawa. 



Kita pun harusnya mempertanyakan substansi dari pernyataan para pejabat publik kita. Dua hari lalu, New York Times menerbitkan artikel berjudul “In Indonesia, False Virus Cures Pushed by Those Who Should Know Better.” Di artikel itu dibahas tentang Menteri Pertanian yang mempromosikan kalung anti covid, Gubernur Bali yang bilang obat Civid adalah arak bali, juga Presiden Jokowi yang seperti Donald Trump pernah memandang enteng wabah ini.

Mereka dibandingkan dengan Gubernur Nairobi di Kenya yang juga merekomendasikan arak sebagai obat. Mereka semua menjadi contoh dari pejabat yang seharusnya lebih tahu sebab dikelilingi para ahli malah ikut-ikutan menyebar informasi palsu.

Mereka memenuhi ruang publik kita dengan informasi, yang belum pernah terverifikasi. Semestinya, pernyataan seorang pejabat dikeluarkan setelah dipertimbangkan dengan matang, setelah didiskusikan dengan para ahli dan pakar. Sebab semua kebijakan dan pernyataan harus terukur, harus punya basis ilmiah, sehingga publik pun tidak menerimanya begitu saja. 

Nah, di titik ini, kadar kesalahan Anji sama saja dengan pejabat publik kita. Daripada sibuk menghujatnya, mending kita bernyanyi:

"Sampai habis nyawaku
Sampai habis usia
Maukah dirimu jadi teman hidupku?
Kaulah satu di hati
Kau yang teristimewa
Maukah dirimu hidup denganku?
Katakan "Yes I do"




9 komentar:

Muhammad Haitami said...

Intitusi formal terjebak pd birokrasi shg lamban. Sprt LIPI, IDI dll. Pemerintah pun gagap dlm mengambil langkah. Akhirnya muncullah pribadi2 yg mengaku pakar dan mengeluarkan pendapat. Muncul juga pemburu anggaran yg mengambil kesempatan.

Muhammad Haitami said...

Institusi formal terjebak birokrasi shg lamban. Pemerintah gagap mengambil langkah. Akhirnya muncul petualang, termasuk petualang anggaran yg mengambil kesempatan. Bukankah sdh ada yg mendapat kucuran 5,6T utk bikin pelatihan online. Yang punya kalung ajaib tentu juga ingin dpt anggaran.

embunkalbu@blogspot.com said...

Sangat setuju.. Anji tdk salah.

eM-Nusa Report said...

Biarkan Anji berkoar-koar kafilah paham itu konyol di negeri yang penuh kekonyolan-kekonyolan ini....sejatinya ya Biarkanlah semua berlalu....hehehee...sehat slalu

eM-Nusa Report said...

Biarkan Anji berkoar-koar kafilah paham itu konyol di negeri yang penuh kekonyolan-kekonyolan ini....sejatinya ya Biarkanlah semua berlalu....hehehee...sehat slalu

taburanjemari@blogger.com said...

Anji sama seperti sebagian besar orang awam di negeri ini, apa yang dilihat dan didengar itu yang disebar.

Anonymous said...

Pak Doktor, menurutku Anji itu salah karena bodoh dan menyebarkan kebodohannya. Kalau dia telan sendiri bodohnya dia, terserah dia kalau mau mampus sendirian.

Yusran Darmawan said...

@muhammad haitami: iya. saya setuju, negara terlalu lamban. informasi juga menyebar, tanpa ada otoritas yang jelas. makanya penunggang gelap informasi bisa muncul di mana-mana.

Unknown said...

Seperti biasa, tulisan om Yus menerangkan dan membuka wawasan. Enlightening, kata guru bhs inggris sy. Tapi om, begini: Anji itu punya akun medsos dgn follower 2 juta org. Artinya dia bkn org sembarangan. Blog om Yus dibaca ribuan org sj sdh mbuat om Yus berhati-hati menulis. Dgn followers 2 juta org mestinya Anji punya rasa utk brtggungjwb, jangan seenaknya menyebar kebodohan hanya semata krn dia artis.

Post a Comment