Tangis Quraish Shihab untuk Najwa




Dia seorang ulama besar dari Rappang di tanah Bugis. Setiap hari dia mencerahkan publik melalui ilmu dan keluasan wawasannya mengenai Al Quran. Dia juga seorang bapak yang membesarkan semua anaknya dengan cinta.

Suatu hari, seorang anaknya yakni Najwa Shihab meneleponnya sembari menangis. Bagi Quraish, itulah episode paling menyedihkan di keluarganya.

*** 

Setiap Rabu malam, Quraish Shihab akan setia duduk di depan televisi. Dia rutin menyaksikan tayangan Mata Najwa yang diasuh anaknya Najwa. Dia tak pernah absen menyaksikan semua tayangan mengenai anaknya.

Sejak beberapa tahun terakhir, Najwa Shihab telah menjadi trendsetter dalam dunia talkshow di Indonesia. Dia bisa memfasilitasi dialog dengan sangat menarik. Dia tak membiarkan narasumbernya bebas berceloteh hingga taraf membual. Dia bisa dengan cepat mencegat narasumber itu dengan pertanyaan yang membuat tergagap-gagap.

Seorang pesohor pernah menyebut Najwa punya dua kombinasi maut yang bisa menaklukkan semua orang. Dia cantik dan cerdas sekaligus. Dia adalah pengendali siaran, pengatur kemudi dan lalu lintas pembicaraan, sekaligus piawai dalam mengulik banyak sisi seseorang sehingga tak kuasa berkelit.

Saya membayangkan, betapa sulitnya seorang presenter untuk mencapai level seperti Najwa. Biarpun banyak akademi dan perguruan tinggi yang mengadakan kelas presenter tetap saja sulit melahirkan sosok seperti Najwa.

BACA: Kisah Ibunda Quraish Shihab di Kampung Bugis

Figur seperti itu hanya lahir dari keluarga yang menjadi lahan gembur demi menumbuhkan semua kecerdasan dan percaya diri hingga menjulang tinggi.

Dalam buku Outliers, yang pertama kali terbit tahun 1988, Malcolm Galdwell mengatakan bahwa kesuksesan tidak berasal dari angka nol. Semua orang berutang pada orang tua dan dukungan orang lain. Kesuksesan adalah apa yang sering disebut oleh para sosiolog sebagai “keuntungan yang terakumulasi”. Tempat dan kapan seseorang tumbuh besar memiliki pengaruh yang cukup besar.

Galdwell menolak anggapan tentang keberhasilan yang semata-mata dipicu oleh kecerdasan. Menurutnya, keberhasilan seseorang menggapai satu kesuksesan tidak bisa dilihat hanya dari satu aspek saja, melainkan terdapat hal yang lebih rumit, kompleks, dan hanya bisa dipahami dengan menelusuri kehidupan orang tersebut.

Gambaran yang paling sederhana namun gamblang dipaparkan Galdwell dalam cerita singkat mengenai pohon. Pohon ek tertinggi di hutan menjadi yang tertinggi bukan semata-mata karena dia paling gigih.

Dia menjadi yang tertinggi karena “kebetulan” tidak ada pohon lain yang menghalangi sinar matahari kepadanya, tanah di sekelilingnya dalam dan subur, tidak ada kelinci yang mengunyah kulit kayunya sewaktu masih kecil, dan tidak ada tukang kayu yang menebangnya sebelum dia tumbuh dewasa.

Bersetuju dengan Galdwell, Najwa Shihab tumbuh di lingkungan yang menjadi lahan gembur bagi pengembangan inteligensi dan kreativitasnya.

Pertanyaan yang mencuat, bagaimanakah pendidikan yang didapatnya dalam rumah? Apa yang diajarkan orang tuanya hingga dirinya bisa mencapai posisi seperti sekarang? Apakah sisi-sisi lain Najwa yang tak banyak diungkap?

*** 

Demi menjawab pertanyaan itu, saya membaca buku biografi berjudul Cahaya, Cinta, dan Canda M Quraish Shihab, terbitan Lentera. Buku ini adalah kisah hidup, pengalaman, serta perjalanan Prof Quraish Shihab, ulama kenamaan yang pernah mengemban banyak jabatan prestisius, mulai dari Rektor IAIN Syarif Hidayatullah hingga kursi Menteri Agama.

Saya menemukan banyak lembaran yang membahas bagaimana asal-usul dan bagaimana Najwa dididik dalam rumah.

Kakek Najwa, dalam hal ini ayah Quraish Shihab, adalah Habib Abdurrahman Shihab, yang dahulu menjadi Rektor IAIN Alauddin, Ujung Pandang. Nenek Najwa, dalam hal ini ibu Quraish Shihab, dipanggil Puang Asma atau Puang Cemma adalah bangsawan Bugis, keturunan pemimpin di Rappang, Sulawesi Selatan. Keluarga ini sejak lama dikenal religius yang membimbing semua anaknya untuk mendalami agama sejak dini.

Najwa adalah anak kedua. Kakaknya Najeela, lulus dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) yang kini menekuni profesi sebagai pendidik. Adiknya adalah Nasywa, Nahla, dan Ahmad. Ahmad adalah satu-satunya laki-laki saudara Najwa. Semuanya memilih karier yang berbeda dengan sang ayah. Quraish tak ingin memaksa anaknya untuk sepertinya.

Quraish memberi nama semua anaknya dengan awalan N yang diambilnya dari huruf Nun dalam aksara Arab. “Nun adalah huruf yang istimewa,” katanya. Nun adalah salah satu huruf yang berdiri sendiri di awal surah Al Quran yakni Surah Al Qalam.

Pada awal surah itu, Nun dijadikan Allah sebagai sumpah bahwa Nabi Muhammad berakhlak mulia, untuk menepis tuduhan penentangnya. Nun juga mengandung makna positif seperti najah (sukses), nur (cahaya), atau nashr (pertolongan).

Nama Najwa bermakna percakapan atau bisikan. Makna majazi-nya adalah orang yang pandai bercakap, mudah dimengerti, dan cerdas saat berbincang dengan siapa saja. Artinya, sejak kecil Quraish telah mendoakan Najwa agar kelak menjadi seseorang yang cakap berbicara.

Quraish dahulu tinggal di Makassar dan berkarier hingga posisi rektor. Dia pindah ke Jakarta demi karier dan tanggung jawab yang lebih besar. Najwa lebih banyak menghabiskan masa kecil dan remaja di Jakarta. Biarpun tak memaksa anaknya untuk menekuni dunia ulama, Quraish mengajarkan agama pada anaknya sejak dini.

Sejak kecil, dia mewajibkan semua anaknya untuk berada di rumah saat salat Magrib. Mereka punya tradisi untuk ikut salat jamaah. Selepas salat Magrib, mereka lalu ramai-ramai membaca wirid atau ratib, kemudian mengaji. Rumah Quraish selalu semarak dengan bacaan Al Quran setiap malam. Wirid yang harus dibaca setiap malam adalah Ratib al-Haddad. Di pagi hari, semuanya membaca Wirid Lathif.

Wirid yang indah itu disusun Imam Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad dari Hadramaut. Beliau adalah salah satu ulama besar di abad 12 H. Beliau dilahirkan di salah sebuah kampung di kota Tarim, Yaman pada malam ke-5 bulan Safar, tahun 1044 Hijrah. Mereka yang membaca ratib ini diyakini akan selalu terjaga dari hal-hal yang bisa menyesatkan.

Isi Ratib al-Haddad adalah potongan surah Al Quran dan doa-doa yang diajarkan Rasulullah SAW. Di antaranya adalah Surah Al Fatihah, Ayat Kursi, Surah Al Ikhlas, Surah Al Baqarah, Surah Al Falaq dan An Nas. Sedangkan Wirid Lathif yang dibaca saat subuh bertujuan untuk melenyapkan kesusahan, kesedihan, kegelisahan, mempermudah rezeki serta memenuhi kebutuhan.

Sejak masih kecil, Najwa dan semua saudaranya lainnya sudah menghafal doa-doa ini. Mereka sudah paham bahwa berdoa sesudah Magrib adalah kewajiban bagi semuanya. Biasanya, seusai berdoa, mereka akan berdiskusi membahas banyak hal. Quraish akan menanyakan pendidikan anak-anaknya serta tugas-tugas sekolah.

Quraish Shihab dan keluarganya

Di keluarga ini, pendidikan adalah nomor satu. Quraish membebaskan anaknya untuk memilih bidang apa pun. Ia percaya bahwa dengan fundasi keagamaan yang kokoh, anak-anaknya tidak akan tersesat.

Tak heran jika semua anaknya menekuni beragam profesi. Ada yang menjadi psikolog, ada yang menjadi jurnalis dan presenter televisi, ada yang jadi psikolog, dokter, hingga menekuni bisnis di bidang IT. Biarpun semuanya menempuh profesi yang berbeda, di malam hari, seusai salat Magrib, mereka akan menjadi bagian dari salat berjamaah serta melafalkan doa-doa yang sama.

Sebagaimana semua saudaranya, Najwa mendapat limpahan kasih sayang dari ayahnya. Semasa kecil, Najwa diharuskan memakai kaca mata. Quraish tak ingin anaknya kehilangan percaya diri. Najwa diajak ke optik besar di Blok M, Jakarta. Quraish lalu meminta diberikan kaca mata yang paling mahal. Bagi sang ayah, kepercayaan diri adalah hal yang sangat penting agar anaknya mampu merespons semua tantangan hidup.

Prestasinya sudah terlihat sejak kecil. Najwa lulus program American Field Service (AFS) di usia 16 tahun sehingga memiliki kesempatan tinggal bersama keluarga di Amerika Serikat selama beberapa waktu. Ayahnya tak ragu-ragu melepasnya. Ayahnya percaya bahwa Najwa sudah memiliki fundasi keagamaan yang kuat.

Dengan memberi kepercayaan kepada anak, maka ia mengajari anak itu untuk bertanggungjawab pada apa pun pilihannya. Demikian pula ketika anaknya memilih pasangan hidup. Ia membebaskan mereka, tetapi memberi syarat yakni haruslah rajin melaksanakan salat. Itu sudah cukup baginya.

Najwa mendapat dukungan luar biasa dari ayahnya. Ayahnya menyediakan apa-pun yang dibutuhkannya. Ketika Najwa dan semua anaknya menikah, Quraish selalu membuat buku khusus yang isinya pesan kepada anaknya. Bahkan ketika Najwa telah berkarier dan sukses dengan talkshow-nya, dia tak pernah alpa menyaksikan anaknya saat siaran di televisi.

Ia bahagia karena Najwa meraih prestasi atas dedikasi dan profesionalismenya. Di antara prestasi itu adalah Young Global Leader Award 2011 dari World Economic Forum yang berkantor di Jenewa.

Kisah Paling Sedih

Kisah paling menyedihkan dalam kehidupan Najwa sebagaimana dikisahkan Quraish adalah meninggalnya Namiya, putri kedua Najwa. Bayi itu lahir prematur pada 15 Desember 2011 di usia tujuh bulan. Saat itu, Najwa sedang perawatan karena sakit. Najwa gembira karena bayi itu lahir dalam keadaan sehat. Tangis bayi memenuhi rumah sakit. Quraish yang memilihkan nama untuk bayi itu.

Keesokan harinya, Najwa sedih karena bayi itu meninggal dunia. Quraish mengisahkan betapa sedihnya Najwa ketika mendekap anaknya yang telah meninggal. Quraish menangis lalu berbisik, “Sempurnanya Namiya.”

Selama ini Quraish tak pernah menangis. Hari itu ia menangis karena membayangkan betapa berat perasaan anaknya. Pada Najwa, Quraish berbisik bahwa Namiya akan jadi tabungan akhirat yang akan menyambutnya. Najwa harus ikhlas.

Jenazah bayi dibawa pulang. Najwa masih harus dirawat. Pagi sebelum jenazah dikuburkan, Najwa menelepon ayahnya lalu berbisik. “Saya belum menyanyikan doa untuk Namiya. Tolong nanti sebelum dimakamkan, Namiya dinyanyikan doa seperti yang biasa Mama nyanyikan,” kata Najwa terisak. Dia menangis.

Batin Quraish terharu. Inilah cobaan paling berat dalam kehidupannya. Tradisi di keluarga itu, istri Quraish akan mendendangkan doa bagi semua anak dan cucunya. Hari itu, doa diucapkan dengan sesunggukan. “Ya arhama ar-rahiimin, Ya arhama ar-rahimin, Ya arhamar rahimin farrij ala al muslimin.”

Wahai Yang Maha Kasih Sayang. Yang melebihi apa pun yang memiliki kasih sayang. Karuniakan pertolongan-Mu untuk kaum Muslim.

***

Demikianlah kisah Najwa Shihab. Seperti dikatakan Galdwell, di balik setiap kesuksesan anak, ada kerja keras dan ikhtiar hebat lingkungan. Najwa tumbuh dalam lingkungan yang selalu memotivasi, membesarkan, dan selalu berada di sisinya dalam keadaan apa pun. Semua kasih sayang itu adalah energi terbaik bagi dirinya untuk selalu menggapai kesuksesan.

Jika belakangan ini banyak orang yang tiba-tiba saja memvonis dan menuding Najwa dan anak-anak Quraish lainnya tidak Islami, maka semuanya akan kembali pada diri masing-masing. Tak bijak memvonis orang lain hanya karena satu kenyataan yang dilihat dari sisi subyektif. Satu jari menunjuk, empat jari lain akan berbalik menunjuk diri kita.



Tuduhan itu sejatinya dikembalikan ke dalam diri. Boleh jadi, yang dituduh itu jauh lebih menjaga diri dan menjalankan berbagai amalan ketimbang yang menuduh. Boleh jadi, yang difitnah itu jauh lebih mendekati Tuhan, ketimbang yang melemparkan tuduhan.

Jika tuduhan itu berpangkal pada perbedaan penafsiran, maka didialogkan dengan baik. Ayah Najwa adalah figur yang selalu menerima kritikan dari siapa saja. Ia membuka diri untuk berdiskusi.

Ia sangat menghargai siapa pun yang bisa memberikan kritik atas karya-karyanya. Beberapa kolega dekatnya sekarang dahulu adalah para pengkritiknya. Melalui kritik, ilmu yang dimiliki seseorang akan terus berkembang.

Pada akhirnya, manusia akan mempertanggungjawabkan semua diri dan tindakannya di hadapan Tuhan. Jauh lebih baik jika semua orang berlomba-lomba menjalankan ibadah dan menyebar kebaikan, ketimbang saling menuduh.

Semakin banyak kebaikan yang disebar, semakin makmur bumi, semakin indah hubungan antar manusia, dan ajaran agama semakin dibumikan.

Semoga Najwa selalu dilimpahi keberkahan dan kesuksesan.


12 komentar:

Manusia Merdeka said...

Sangat menginsfirasi kak, merinding bacanya😊

MUSTAMSIKIN said...

Izin share

irwanjurnalism said...

Bernas sekali tulisan ini bg. Jadi tau sebegitu hebatnya keluarga syihab hngga melahirkan sosok sosok hebat berikutnya di generasinya.

Unknown said...

Subhanallah. Semakin kagum rasanya kepada beliau:)

Unknown said...

Karena tulisan Pa Yusran Darmawan, yang tadinya kita sama sekali kosong dan tidak tau, dengan membaca tulisan ini, menyempurnakan pemahaman kita

ustore92 said...

Saya terharu nangis membayangkan nyanyian doa itu dilantunkan....

webalsmyid@gmail.com said...

Sangat menginpirasi...

Unknown said...

Saya mengenal keluarga ini, adalah keluarga baik dan Islami.

Anonymous said...

Like it

Bakhtiar Brisah said...

Sangat menginspirasi....dan tidak terasa air mata menetes membaca nyanyian doanya... Masyaa Allah.

Sukanto Toding said...

Luar biasa, narasi ini, Sdr Yusran, cukup detail Dan emosionil menggarap latarbelakang Najwa, utk jadi bahan 'counter' thdp banyak pihak yg mengkritik Najwa utk hal2 permukaan, misalnya dia berhijab atau tidak..... Utk tulisan ini, Najwa minimal harus kirim pesan ke Yus: Thank You, Yus....!

Adim said...

Sangat mnginspirasi skali ;)

Post a Comment