Mereka Anak Milenial, Bukan Anak Revolusi




DI TENGAH tatapan tidak suka, Hatta muda membacakan pembelaan berjudul Indonesia Vrij atau Indonesia Merdeka di Rotterdam, tahun 1928. Nun jauh di Bandung tahun 1930, Sukarno muda membacakan pleidoi Indonesia Menggugat dalam suasana pengadilan kolonial yang sering menghinakan para pribumi.

Tapi kini, mental anak-anak muda milenial itu bisa langsung jatuh hanya karena dinyinyirin di media sosial. Mereka tidak sedang menjalani persidangan. Tapi mereka seakan sudah divonis dan menerimanya sebagai kekalahan.

Mereka mundur hanya karena menjadi trending topic di media sosial. Mereka kabur dari tugas penting di istana hanya karena tak kuat menghadapi desas-desus dan sindiran para netizen. Bung! Kita sedang perang.  Kenapa mundur?

Di abad ini kita menyaksikan satu pelajaran berharga tentang anak-anak muda yang lebih takut penilaian orang, ketimbang memikirkan apa hal terbaik yang bisa dikerjakannya untuk rakyat di Istana Negara.

Anak-anak muda itu lebih suka dagang dan mengerjakan proyek, ketimbang merumuskan apa hal baik untuk anak muda seusianya di jantung pemerintahan. Mereka bukan pemuda Hatta yang memilih untuk jadi patriot bangsanya, ketimbang mengerjakan proyek di jajaran pemerintah kolonial.

Beberapa bulan lalu, mereka bak selebriti yang diperkenalkan di Istana Negara. Mereka menerima posisi sebagai staf khusus yang berada di lingkaran istana. Mereka memakai baju putih dan celana hitam, beberapa hari setelah menteri kabinet mengenakan baju yang sama. Mereka disebut sebagai anak muda penuh prestasi dan bisa berbuat sesuatu untuk bangsa.

Duduk di posisi itu harusnya menjadi awal bagi kerja-kerja untuk bangsa. Mereka punya reputasi dan track record yang mentereng. Pendidikan juga bagus. Mereka lulusan kampus hebat luar negeri. Mereka kaya, dan tidak perlu lagi mengandalkan proposal demi proposal serta mengetuk satu demi satu seniornya, sebagaimana anak muda dari organisasi sana. Harusnya mereka sudah selesai dengan dirinya.

Namun, mereka tak siap dengan semua konsekuensi. Risiko menerima sebuah jabatan adalah setiap saat bisa dibicarakan, difitnah, dan dihakimi publik. Tak semua yang dibahas itu benar. Sebab kebenaran tidak terletak pada seberapa nyaring suara yang membicarakan. Kebenaran tidak lahir dari seberapa kuat seseorang menghina orang lain. Kebenaran adalah kebenaran, sesuatu yang selalu lahir dari proses yang jujur.

BACA: Para Stafsus Milenial yang Borjuis

Harusnya, hadapi saja semua tuduhan dan tudingan itu. Terima tantangan seorang ekonom muda untuk berdebat. Publik ingin tahu apa rencana dan peta yang mau digapai.

Siapkan argumentasi bahwa kalian memang layak di posisi itu. Jelaskan kepada publik apa yang terjadi. Jika memang layak di posisi itu, jelaskan pada mereka apa saja yang ingin dikerjakan.

Buka dialog dengan siapa pun. Datang ke media, lalu jelaskan apa yang sedang dan sudah dikerjakan. Tunjukkan kepada publik, gaji dan fasilitas yang diambil dari pajak rakyat sangat pantas diberikan kepada kalian.

Lihatlah jabatan dan posisi sebagai cara untuk memperluas jejaring silaturahmi dengan rakyat. Lakukan blusukan hingga kampung-kampung, telusuri bukit-bukit, dakilah gunung-gunung di berbagai penjuru negeri untuk menyampaikan pesan bahwa pemerintah tidak diam. Berikan motivasi dan inspirasi kepada negeri bahwa di usia semuda itu kalian telah mengemban amanah besar untuk bangsa dan negara.

Di hari ketika amanah itu diemban, abaikan semua kepentingan pribadi. Bekerja untuk negara adalah bekerja untuk orang banyak. Di pusat-pusat pengambilan semua keputusan politik, jadilah katalis penting dari kebijakan yang memihak untuk rakyat.

Anak-anak muda itu tidak harus menjadi Tan Malaka yang gerilya dari satu lokasi ke lokasi lain demi memperjuangkan kalimat kemerdekaan. Mereka tidak harus memulai karier dari penjara ke penjara. Mereka cukup dagang sekaya-kayanya, libatkan banyak orang, lalu perlahan tersohor ke mana-mana.

Media menyebut mereka tak punya tupoksi yang jelas di Istana. Ruang geraknya terbatas. Tidak seperti kementerian yang mengelola sumber daya materi dan sumber daya.

Banyak hal di negeri ini dikapitalisasi untuk citra dan kesan. Keberpihakan pada anak muda diwujudkan dengan menunjuk sejumlah orang menjadi staf dan diperkenalkan seperti menteri negara. Soal mereka hendak melakukan apa, negara tidak banyak tahu.

Malah kiprah anak muda itu seakan dibatasi dengan tugas yang absurd dan berkaitan dengan penanaman ideologi Pancasila.

Bagaimana mungkin Pancasila hendak dijelaskan anak muda yang mendirikan perusahaan rintisan lalu besar? Tahu apa mereka seberapa tinggi intoleransi dan penindasan kepada mereka yang berbeda keyakinan? Apa mereka tahu betapa banyak anak bangsa yang mengais rupiah demi rupiah hanya untuk bertahan hidup?

Tapi seharusnya mereka melihat semua itu sebagai tantangan yang akan semakin membesarkan mereka. Bisa berada di lingkar istana adalah peluang besar untuk menyampaikan suara-suara mereka yang di tepian. Suaranya bisa lebih nyaring terdengar. Mereka bisa berperan lebih banyak, jika mereka tahu apa tujuan mereka berada di situ.

Ah, mungkin kita terlampau banyak berharap. Kepada anak-anak muda itu kita pernah menyandarkan harapan akan kehidupan politik yang lebih baik dan lebih memihak. Mereka punya semangat, jiwa muda, dan keberanian untuk menggapai sukses di usianya.

Kita pernah menitipkan satu harapan agar mereka bisa lebih sukses menghela kereta negara agar selaras dengan cita-cita kemerdekaan. Kita bermimpi tentang revolusi pemuda, yang sebagaimana ditulis Ben Anderson, pernah memberikan kado kemerdekaan pada rakyat. Kini, kita hanya melihat anak milenial, bukan anak revolusi.

Sayang, mereka terlalu jauh dari harapan anak muda Soe Hok Gie: “Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka”

Setidaknya kita tahu bahwa kita berharap terlalu tinggi. Kita menunggu kisah besar apa yang akan mereka bagikan.


5 komentar:

erwan_saripudin said...

Bagi saya, mereka berdua telah mendapatkan sebuah pelajaran penting selama 5 bulan menjadi staf. Apa itu?

Mereka lebih memilih menjadi bos di perusahaan kecilnya ketimbang menjadi staf di sebuah institusi kepresidenan sekalipun.

Tabe kanda

Yusran Darmawan said...

@erwan: iya. sayang jg kalau posisi itu tidak dimaksimalkan untuk mendorong banyak hal2 baik.

Unknown said...

Mundur tanpa pembelaan.

alief said...

Mungkin butuh kisah dari sisi yang lain

Anonymous said...

Sungguh mengecewakan

Post a Comment