Sepenggal Kisah Abraham Samad




Suatu hari kami ke Kalimantan. Sehari sebelum berangkat, saya menyampaikan undangan dari satu lembaga anti-korupsi. Dia tidak langsung merespon. Saat di pesawat, dia jelaskan kalau banyak orang di lembaga itu yang memanfaatkan isu anti korupsi untuk kepentingan pribadi.

Setiba di Kalimantan, personel lembaga itu menjemputnya dengan mobil Alphard. Dia menolak. Malah dia mengajak saya untuk menggunakan angkutan umum menuju warkop di pinggir pantai. Di sana kami ngobrol lepas.

Saat itu, dia sudah bukan Ketua KPK. Tapi dia tetap memelihara integritas untuk tidak menerima begitu saja kebaikan orang lain. Dia pun menjaga jarak dengan politisi. Saat namanya masuk bursa presiden, dia menolak untuk bangun berbagai kesepakatan dengan banyak orang politik. Dia memilih berjalan sendirian di tengah arus.

Meskipun sudah tidak menjadi ketua KPK, dia tetap lebih populer dari ketua sesudahnya. Saat ke daerah, banyak yang malah tidak tahu nama penggantinya. Namanya identik dengan kata KPK. Pernah saya bergurau, hanya ada satu ketua KPK. Yang lain adalah penggantinya. Dia hanya tersenyum.

Di layar kaca, publik melihatnya sebagai sosok yang garang. Tapi saya melihatnya sebagai sosok yang humoris. Dia tipe yang mudah diajak tertawa bersama. Saya nyaman membahas banyak hal. Dia tidak jaim.

Banyak orang yang penasaran apa yang dia lakukan sekarang. Dia mengaku aktivitasnya tidak jauh dari mengajar dan memberikan materi mengenai hukum. Dia senang ngopi, dan juga selalu senang ketika diajak menikmati kuliner khas Makassar.

Dia telah mewarnai zaman dengan kiprahnya. Setelahnya kita hanya mendengar sayup-sayup. Entah, dengan mereka yang baru dilantik hari ini. Kita hanya bisa berharap.




1 comment:

  1. Waduh, saya kayaknya hafal nama Abraham Samad dan suka melafalkannya. Tapi baru tahu kalau beliau adalah pernah jadi orang KPK. Maafkan daku yang kerap mencelotehkan nama beliau untuk guyonan, hehe

    ReplyDelete