Saat CORONA Menyerang HOMO DEUS


ilustrasi yang menggambarkan wabah black death yang menewaskan sepertiga populasi eropa pada tahun 1300-an

Di tahun 1529, Hernan Cortes mendarat di pesisir Meksiko. Penakluk asal Spanyol ini datang untuk memerangi orang Indian Aztec yang menguasai negeri itu. Bersama 600 orang pasukannya, dia bertarung dan menewaskan jauh lebih banyak prajurit Kekaisaran Aztec.

Dia sudah mencapai jantung kota Aztec, dan hanya kehilangan sepertiga dari pasukannya. Cortes percaya diri dengan keunggulan teknologi baja yang dimiliki pasukannya sehingga menewaskan jauh lebih banyak orang Aztec.

Tanpa diduga oleh Cortes sendiri, ada senjata lain yang jauh lebih berbahaya dan datang bersama pasukannya. Senjata lain itu adalah penyakit cacar yang dibawa seorang budak pasukan Spanyol itu.

Penyakit itu menyebar dengan cepat dan menjangkiti orang Aztec. Epidemi itu nyaris membunuh separuh populasi Aztec, termasuk Kaisar Cuitlahuac. Orang Aztec yang hidup ciut nyalinya saat melihat penyakit misterius yang merenggut nyawa mereka.

Pada tahun 1618, populasi awal Aztec berkurang drastis, dari 20 juta jiwa menjadi 1,6 juta jiwa. Kuman-kuman telah merenggut banyak nyawa orang Aztec, memperlemah pertahanan mereka, sehingga dengan mudahnya dikuasai pasukan Spanyol di bawah pimpinan Cortes.

Orang Aztec bertanya-tanya, mengapa kuman itu tidak menyerang orang Spanyol? Orang Aztec tidak membaca sejarah. Mereka tidak tahu kalau di abad sebelumnya, berbagai jenis kuman telah lebih dulu menghadirkan nestapa di Eropa.

Penyakit pes (black death) membunuh seperempat penduduk Eropa di antara 1346-1352, dengan jumlah korban jiwa hingga 70 persen di sejumlah kota. Jumlah korban diperkirakan 70 juta orang. Di masa itu, muncul banyak lukisan malaikat maut yang bertudung datang dengan palu arit lalu mengambil nyawa orang Eropa.

Selanjutnya, epidemi influenza juga membunuh 21 juta orang. Belum lagi kolera dan tuberculosis. Semuanya telah melenyapkan sepertiga populasi bumi.

Orang Eropa yang hidup adalah mereka yang berhasil melewati seleksi alam sehingga tubuhnya memiliki kekebalan pada penyakit itu. Mereka inilah yang kemudian menjadi pasukan lalu datang ke Meksiko demi memerangi orang Aztec.

Jared Diamond melukiskan epidemi penyakit sebagai penanda peradaban itu dengan sangat baik dalam buku Guns, Germs, and Steel. Dia menjelaskan tiga penanda penting yang membuat peradaban manusia eksis, yakni bedil, kuman, dan baja. Profesor geografi dari University of California at Los Angeles (UCLA) juga menelusuri sejak kapan wabah penyakit bermunculan di sepanjang sejarah peradaban kita.

sampul buku Guns, Germs, and Steel

Dia menemukan jawabannya yakni saat manusia mulai memasuki era pertanian (agrikultur). Saat itu, manusia mulai meninggalkan pula berburu dan meramu, kemudian memilih untuk menetap di sejumlah wilayah.

Era pertanian adalah berkah bagi semua mikroba dan kuman penyakit. Sebab saat itu manusia mulai melakukan domestikasi hewan liar. Hewan seperti kuda, anjing, bebek, ayam, dan sapi yang dahulu hidup liar, didomestikasi sehingga tinggal di dekat manusia agar kelak bisa dimangsa oleh manusia.

Inilah awal dari era supremasi manusia atas semua spesies lain. Kita memasuki peradaban antroposentrik, manusia sebagai pusat. Namun supremasi itu membawa dampak bagi populasi manusia. Domestikasi hewan menjadi awal dari pindahnya banyak virus ke tubuh manusia. Manusia tidak sekebal hewan yang bisa bertahan pada mikroba tertentu. Epidemi atau wabah terjadi di mana-mana.

Pada era berburu, epidemi tidak terjadi sebab manusia selalu berpindah-pindah. Saat manusia menetap, kuman seakan berada di surga, apalagi manusia belum mengenal konsep sanitasi dan menjaga kesehatan lingkungan.

Wabah itu kian menyebar sebab manusia di abad pertengahan tergoda untuk menaklukkan dunia baru. Mereka mendatangi banyak lokasi demi mencari sumber daya alam. Kedatangan orang Eropa ke dunia baru ikut membawa beragam kuman dan penyakit yang kemudian menjadi wabah.

Di Hawaii, Kapten James Cook dan awak kapalnya membawa penyakit yakni flu, tuberkulosis, dan sipilis. Pendatang berikutnya membawa tipus dan cacar.

Awal abad ke-20, epidemi terus terjadi. Januari 1918, ribuan tentara Perancis tewas karena sakit flu. Virus ini menyebar ke mana-mana dan menewaskan setengah miliar orang.  Selanjutnya, muncul wabah yakni SARS di tahun 2002, flu burung di tahun 2005, flu babi di tahun 2009, hingga ebola di tahun 2014.

Sekian abad perjalanan virus dan penyakit, manusia selalu berhasil menemukan obatnya. Sering kali, hanya butuh beberapa bulan demi menemukan anti virus. Teknologi kedokteran telah membawa manusia pada kemenangan demi kemenangan atas berbagai virus dan kuman.

Manusia kian jumawa dan mengklaim dirinya sebagai Homo Deus, yang disebut sejarawan Yuval Noah Harari sebagai manusia setengah dewa sebab merasa bisa mengendalikan takdir. Manusia kian sewenang-wenang pada spesies lain dan membatasi ruang hidupnya. Hutan menjadi pemukiman. Hewan ditangkapi dan dijadikan tontonan. Bahkan mereka menjadi santapan manusia.

BACA: Kisah dari Dekat Kampung yang Warganya Ditelan Ular

Tapi, tragedi di Wuhan telah membawa manusia pada kengerian epidemi pada abad-abad sebelumnya. Kembali, kita menyaksikan peristiwa ketika orang-orang terpapar virus yang kemudian menyebabkan kematian. Beberapa ahli menyebut virus Corona itu berasal dari kelelawar dan ular yang dijual hidup-hidup kemudian disembelih saat sudah terjual.

Pikiran liar saya mengatakan bahwa munculnya epidemi adalah pembalasan hewan kepada manusia yang menjadikan mereka sebagai obyek yang ditangkapi, dicincang, dimakan, dan dihilangkan hak hidupnya.

Kita semua tahu bahwa flu burung ditularkan oleh ayam di peternakan. Demikian pula flu babi yang ditularkan babi. Bahkan ebola datang dari interaksi antara manusia dan hewan seperti kelelawar dan monyet. Kini virus Corona datang dari ular dan kelelawar yang menjadi santapan di negeri sana.

Sebagai sesama spesies yang mestinya hidup damai di alam, manusia telah bertindak sewenang-wenang sebab menjadikan hewan-hewan itu sebagai makanan. Virus yang menular dari hewan kepada manusia adalah isyarat alam kalau manusia tidak bisa mengemban tugasnya sebagai khalifah di alam semesta.

Virus itu adalah upaya perlawanan diam-diam kepada manusia agar berhenti menjadikan hewan sebagai obyek dan santapan.

Sekian lama peradaban bergulir, manusia belum juga menemukan makanan alternatif atau pengganti lalu mengembalikan kondisi ekologis menjadi rimbun seperti abad-abad lalu agar hewan bebas berkeliaran sebagaimana nenek moyangnya dahulu.



Dalam jangka pendek, virus ini memang harus diatasi. Kelangsungan spesies kita di masa depan ditentukan dari seberapa mampu kita mengatasi tantangan demi tantangan serta membangun solidaritas global bersama.

Wabah bukanlah hukuman kepada suatu bangsa. Sebab sejarah mengajarkan wabah seperti itu bisa mendatangi suku bangsa mana pun. Wabah itu muncul bersamaan dengan keangkuhan manusia untuk mendomestikasi hewan liar dan juga tumbuhan liar demi menopang ekosistem manusia.

Bukan pula masanya untuk bersikap nyinyir pada mereka yang sedang terkena wabah. Di mana pun, manusia selalu rentan dan rapuh sehingga penyakit bisa setiap saat menggempur. Sebagai “binatang” manusia tunduk pada hukum-hukum alam sehingga perlu membangun satu jejaring antarbangsa demi menyelamatkan manusia dari kepunahan, sebagaimana terjadi ketika Thanos menjentikkan jari dalam saga Avengers yang dibuat Marvel.

Saatnya memperkuat solidaritas global dan menemukan anti-virus demi menangkal penyakit itu. Rumah sakit besar dibangun hanya dalam enam hari. Lembaga-lembaga riset ditantang melakukan eksperimen demi menemukan cara menanggulangi penyakit itu.

Namun dalam jangka panjang, manusia harus tiba pada satu kearifan ekologis untuk mengembalikan alam sebagai rumah bagi semua species, hentikan laju deforestasi, hijaukan kembali banyak lahan sebagai rumah bagi hewan, juga temukan pangan alternatif yang bukan berasal dari daging hewan.

Jika tidak, perlawanan hewan pada manusia akan terus berlangsung dalam bentuk lain. Hari ini Corona, besok bisa jadi dalam bentuk virus yang lebih kejam.

Saatnya kita mendengarkan suara alam.




11 komentar:

Rachmat Sasmito said...

Mengalir sangat bernas

Unknown said...

Azab mengerikan sesuai kisah kaum yg inkar pada nabi dan rasul

InggitAn_SRIZTYI said...

Cerita yang membuat pembaca ingin tahu kelanjutannya.cerita yang sangat informatif didukung dengan fakta-fakta yang pernah terjadi.

Didi hardiana said...

Identitas manusia yang seharusnya menjadi khalifah di muka bumi ini telah bergeser menjadi penguasa di atas muka bumi. Ketika manusia tidak lagi sadar akan hakikatnya maka kehancuran yang akan dia terima.

Unknown said...

Kala Homo Deus diuji

Yusran Darmawan said...

thanks om

Yusran Darmawan said...

hmm...

Yusran Darmawan said...

makasih atas apresiasinya

Yusran Darmawan said...

benar sekali. manusia menjadi pemilik supremasi atas alam.

Yusran Darmawan said...

iya. benar.

music_consultant said...

Bukan hanya binatang, tapi alam jg sudah jengah dgn virus bernama manusia, yg semena-mena mengeksploitasi alam demi keserakahan

Post a Comment