Cerita tentang PEIN AKATSUKI (1)




Di tengah rerimbunan apartemen Kalibata, saya berjumpa Ryan Virgiawan, anak muda ganteng asal Tarakan yang kini jadi jurnalis ibukota. Dia mentraktir saya segelas kopi. Kami berbincang sejenak tentang pilpres. Dia cerita tentang anak-anak muda keren yang membantu seorang calon presiden.

Saya tersentak saat dia menyebut satu nama yakni Pein Akatsuki. Sebagai penggemar layar kaca 21 dan penggemar berbagai situs penyedia film gratis di internet, nama Pein Akatsuki sama populernya dengan nama Lebah Ganteng. 

Berkat Pein Akatsuki, Lebah Ganteng dan rekan2nya, semua film berbahasa Inggris bisa ditonton dengan nyaman dalam bahasa Indonesia. Kita tak perlu membayar untuk jasa yang mereka berikan. Kita menikmatinya secara gratis.

Kata Ryan, dia sering ketemu Pein Akatsuki di kawasan Tebet, tidak jauh dari tempat saya mangkal bersama beberapa anak muda penggemar startup. Pein Akatsuki masih berusia 20-an tahun, dan setiap hari menghabiskan waktunya di depan laptop.

“Setiap hari dia jarang keluar rumah. Selalu depan laptop. Tapi entah kenapa, dia tidak pernah kehabisan uang. Rekeningnya selalu penuh,” kata Ryan sembari terkekeh.

Ryan juga bercerita tentang anak muda di kantornya yang setiap hari akan men-download komik-komik asing, kemudian menerjemahkannya, lalu meng-upload lagi di satu blog. “Seperti Pein Akatsuki, anak muda ini juga selalu punya uang banyak,” katanya.

Tanpa Ryan jelaskan, saya paham mekanisme kerjanya. Blog-blog itu dipasangi Google Adsense atau iklan. Saat pengunjung blog ramai dan mengklik iklan itu, maka dollar perlahan masuk rekening. Semua kanal media sosial punya potensi untuk mendatangkan pemasukan.

Saya bayangkan, betapa sulitnya menjelaskan profesi anak-anak muda sekarang ke ibu saya di kampung yang hanya mengenal tiga profesi yakni pegawai negeri sipil (PNS), militer dan pedagang pasar. Betapa sulitnya menjelaskan profesi baru kepada ibu di kampung.

Anak muda jaman now tidak suka jadi orang kantoran yang bangun pagi lalu mandi dan rapi ke kantor, kemudian setiap awal bulan mendapat gaji. Anak muda sekarang bisa terlihat seperti pengangguran, setiap hari nongkrong di depan laptop, namun bisa menerima gaji di setiap minggu.

Anak muda jaman now membuat banyak hal berubah. Dulu, generasi saya punya obsesi untuk bersekolah setinggi-tingginya agar masa depan cerah. Anak muda sekarang tak lagi berobsesi untuk sekolah tinggi. Mereka ingin merengkuh berbagai keahlian, agar bisa mendapat uang secepat-cepatnya.

Dengan pendidikan yang hanya lulus SMA, mereka bisa mendapat penghasilan yang lebih baik dari mereka yang sekolah tinggi. Mereka mungkin tidak punya salary (gaji) yang rutin, tapi mereka punya income (pendapatan) yang bisa datang tak terduga. Dengan income lumayan itu, mereka akan menertawakan orang-orang yang mengejar kereta di pagi dan sore hari.

Dua tahun lalu, saya berjumpa Novi Wahyuningsih, gadis manis asal Brebes yang menjadi CEO perusahaan teknologi di Malaysia. Pendidikan Novi hanya selevel diploma, tapi wawasan dan pengalamannya setara dengan peraih gelar S3. Dia pun menjadi pemimpin di perusahaan yang karyawannya kebanyakan anak muda seusianya.

BACA: Cerita tentang PEIN AKATSUKI (2)

Tapi saya lebih kaget lagi saat berjumpa sepupu Novi. Dia malah tidak tertarik untuk belajar di perguruan tinggi. Dia tahu kalau dia malas mengikuti ritme dan aturan perkuliahan. Dia memilih untuk mengambil kelas-kelas yang dibutuhkannya, mulai dari desain grafis, animasi, robotik, data scientist. Dia produktif berkarya, yang dipajang secara gratis di berbagai kanal media sosial. 

Kini, di usia yang belum 20 tahun, beberapa perusahaan besar sudah memintanya bergabung. Dia lebih suka independen. Lebih suka mengerjakan project di satu kafe di satu sudut kota, besoknya akan pindah ke kafe lain lagi. Dia suka bertualang dan berkelana ke banyak kota dan bebas nongkrong, tapi secara finansial selalu tercukupi.

Kita sedang menyaksikan satu jaman yang berubah. Kelak, menara pengetahuan bernama perguruan tinggi akan ditinggalkan. Perguruan tinggi menyediakan wadah untuk belajar. Tapi esensi belajar bisa didapatkan di mana saja, tidak harus melalui bangku kuliah.

Thomas L Friedman mengutip riset bahwa 9 dari 10 pekerjaan di Amerika Serikat hanya butuh ijazah SMA, tapi dunia kerja bisa menggembleng seseorang untuk punya ilmu setara doktoral. Friedman juga bilang, istilah “tenaga siap pakai” itu keliru besar. Bahkan untuk profesi seperti pelayan di McD pun, tetap membutuhkan orientasi dan pelatihan dari nol agar seseorang dianggap memenuhi kualifikasi. Itu kan sama dengan kuliah lagi.

Hari-hari ini, kita menyaksikan banyak platform online yang memberikan kelas-kelas berbiaya murah, bahkan banyak yang gratis. Di situ, ada unsur belajar pada seorang ahli, pelatihan, diskusi yang tidak terbatasi ruang-ruang kelas, serta tantangan untuk terus berkembang sembari berselancar di dunia sesungguhnya.

Saya juga mencatat beberapa media massa kini tak lagi mengandalkan iklan. Mereka membuka kelas-kelas pelatihan yang ramai dan dipadati semua orang. Mereka mengapitalisasi semua potensi demi mendapatkan sumber-sumber pemasukan baru, yang tidak lagi mengandalkan iklan.

Di titik ini, saya bisa paham mengapa banyak anak muda seperti Pein Akatsuki yang beraktivitas seperti pengangguran kurang kerjaan, tapi bisa meraup dollar di dunia maya. Pepatah “don’t judge the book from the cover” kini berlaku. 

Yang bikin iri karena mereka bisa main-main setiap saat, jalan-jalan, upload foto di Instagram, serta liburan kapan saja. Bayangkan, saat orang sibuk bekerja, mereka malah bangun kesiangan, kemudian bebas online. 

Duh, benar-benar bikin iri.

0 komentar:

Post a Comment