Berhaji di Tanah Bugis




Embun masih basah saat saya tiba di pelataran parkir Bandara Sultan Hasanuddin. Ratusan orang menyemut di pintu keberangkatan. Di sana-sini, saya melihat orang berpelukan dan bertangisan. Rupanya, hari ini banyak yang hendak berangkat umroh.

Bagi orang Bugis Makassar, momen keberangkatan ke Tanah Suci adalah momen yang mengharukan. Ada semacam rasa galau kalau-kalau mereka yang berangkat tidak akan kembali lagi. 

Tidak mengejutkan, jika warga sekampung akan mengantar ke bandara demi mengucap selamat jalan, juga tangis haru saat melihat keluarga bergegas berangkat. Semuanya berharap agar mereka yang berangkat haji itu bisa kembali dengan selamat. Untuk itu, mereka bertangisan.

Saya tidak paham sejak kapan tradisi bertangis-tangisan ini dimulai. Namun, saya pernah membaca buku yang ditulis Henri Chambert Loir berjudul Naik Haji di Masa Silam. Di situ, dijelaskan kalau pada tahun 1800-an, mereka yang berhaji butuh waktu tempuh perjalanan hingga enam bulan dengan menggunakan kapal laut. 

Jalur laut menjadi satu-satunya pilihan sebab jalur pesawat dibuka nanti tahun 1952. Masih dalam catatan Henri, perjalanan itu terasa berat bagi jamaah. Mereka menumpang kapal kargo yang memuat barang. Semua jamaah berdesak-desakan sehingga melebihi kapasitas kapal. 

Ketika badai menyerang, maka ratusan penumpang bisa tewas karena barang-barang berjatuhan. Belum lagi makanan tidak terjamin, serta tidak adanya petugas kesehatan. Ada lagi wabah kolera yang setiap saat bisa menyerang. Bahkan setiba di tanah Arab, keadaan tetap sulit bagi mereka hingga akhirnya tiba di tanah air.

Berhaji di masa lalu mesti menyiapkan fisik agar tangguh menempuh perjalanan jauh dan tantangan yang akan menghadang. 

Namun, selalu ada sisi positif. Mereka yang berhaji di masa lalu adalah mereka yang siap memperdalam ilmu agamanya. Berhaji adalah ritual penyempurna bagi santri dan orang biasa yang belajar agama. 

Sepanjang perjalanan di kapal layar, mereka akan belajar, mengkaji agama, lalu berdiskusi,. Demikian pula ketika kembali dari Mekkah. Mereka akan berpengetahuan sebagaimana orang yang baru usai belajar agama di level doktoral. 

Mungkin ini pula yang menjelaskan mengapa orang Bugis-Makassar yang hendak berhaji akan diantar seluruh keluarga saat di bandara. Momen melepas haji itu adalah momen penuh mengharukan sebab mereka akan saling bertangisan seolah-olah akan lama tidak bertemu, atau malah tidak bertemu lagi. 

Zaman memang bergeser. Di bandara itu orang bertangis-tangisan seakan tidak bertemu lagi. Tradisi ini masih bertahan. Padahal mereka yang berhaji di masa kini akan men-tag lokasi di mana pun berada. Di setiap persinggahan pesawat, mereka akan melakukan panggilan video call dengan mereka di kampung halaman.

Pernah, saya melihat seorang kawan yang memosting dirinya berdoa dalam keadaan menangis di depan Ka’bah. Aneh saja melihat foto dirinya berdoa sambil menangis. Tangan kiri menyeka air mata, tapi tangan satunya memegang hape kamera lalu selfie.

Anda yang berhaji di masa kini akan menemui tantangan baru. Apakah memilih ingin merasakan indahnya gelora spiritualitas di tanah suci dalam diam, sebab sebagaimana kata seorang sufi, biarlah itu menjadi rahasia antara anda dan Dia. Ataukah memilih untuk mengabadikan setiap momen agar orang-orang tahu kalau Anda cukup kaya dan mampu ke Baitullah.

Di ruang tunggu bandara, saya hanya bisa cemburu sembari berharap kelak akan menempuh perjalanan serupa.

Di atas sana, Dia sedang menyaksikan.



0 komentar:

Post a Comment