Yang Menjengkelkan dari Beauty and the Beast



DI layar-layar bioskop, film Beauty and the Beast versi live action mulai ditayangkan. Orang-orang berbondong-bondong untuk menyaksikannya. Anak istri mengajak saya untuk menonton film itu. Saya tak seberapa antusias untuk menyaksikannya. Biasanya, yang saya sukai dari film besutan Disney adalah bahagian ending yang membahagiakan. Istilah kerennya adalah happy ending.

Tapi saya justru tak menyukai akhir kisah Beauty and the Beast. Bahagian akhir film ini benar-benar menjengkelkan saya. Andaikan saya mengenal sutradara film ini, saya akan meminta agar bagian ending itu dihapus, sebab merusak indahnya cerita yang dibangun sepanjang film.

Akhir yang tak saya sukai itu adalah adegan ketika Beast, pangeran buruk rupa, berubah menjadi pangeran tampan. Beast berubah setelah Belle menyatakan cinta padanya. Cinta Belle telah menghancurkan kutukan yang telah berlangsung lama, mengubah istana menjadi istana muram durja, mengubah wajah pangeran menjadi wajah Beast.

Mengapa saya tak suka adegan itu? Sebab kisah itu terasa sedemikian indah dan mengharukan saat Belle bersedia menerima Beast dengan segala kekurangannya. Cinta adalah sesuatu yang berdiam dalam diri dua insan, sukar terbahasakan, namun gemuruhnya terasa saat keduanya saling memandang. 

Kesediaan Belle menerima Beast apa adanya adalah gambaran indah tentang cinta yang sungguh dahsyat. Cintanya Belle pada Beast yang buruk rupa adalah cinta yang melintasi segala bentuk konstruksi manusia. Cinta yang hebat adalah cinta yang melabrak batasan tentang cantik-jelek, kaya-miskin, tampan-buruk, hingga mempesona-menjengkelkan. Cinta yang menakjubkan adalah cinta dari seseorang yang tak menuntut apapun. Dia yang mencintai adalah dia yang rela mengorbankan apapun demi kebahagiaan orang yang dicintainya.

Jika film ini hendak menunjukkan keagungan cinta, maka seharusnya Beast tetap dengan wajah buruknya. Di situ ada kesediaan menerima, pandangan yang melihat substansi ketimbang aspek lahiriah, serta kekuatan untuk tetap mencintai di tengah perbedaan. Di situ ada kekuatan hati dan kejernihan dalam menilai seseorang, yang melampaui semua batasan-batasan material.

Saat Beast kembali berubah menjadi pangeran tampan, kisah ini kehilangan greget. Kisah ini jadi serupa dengan film-film romantis lain, yang seolah hendak mengatakan bahwa cinta itu hanya ada di hati lelaki tampan dan perempuan cantik. Padahal, cinta adalah sesuatu yang universal di hati semua orang. Dia ada dalam tatap Beast pada Belle, ada pada senyum seorang ibu pada anaknya, ada dalam sikap heroik mereka yang rela mati untuk orang lain.

Andaikan tak ada adegan akhir itu, cintanya Belle dan Beast yang dahsyat itu akan terekam abadi.

***

BAGI yang menyaksikan film ini dari versi kartun ataupun live action sering tidak menyadari kalau film ini menanam banyak stereotype di pikiran. Tanpa kita sadari, film ini punya banyak stereotype yang seharusnya dipahami agar tidak membuat kita berpikir seragam.

Sosok Belle sebagai protagonis memiliki kualitas yang sama dengan putri-putri Disney lain. Belle mewakili gambaran tentang cantik menurut Disney. Jika diterjemahkan, nama Belle berarti cantik. Kulitnya terang, rambut lurus, mata lebar. Dia kurus dan punya pinggang ramping. Suaranya indah didengar. 

Dalam beberapa film Disney, semua putrinya memiliki penampilan yang sama. Mereka selalu putih, ramping, rambut lurus, dan tampil seperti wanita aristokrat atau bangsawan. Beberapa peneliti telah mengkritik keras stereotype tentang perempuan cantik ini, Seolah-olah untuk menjadi cantik, anda harus putih. Pantas saja jika berbagai pagelaran ratu kecantikan selalu diprotes sebab menyeragamkan pengertian cantik. Padahal, semua kebudayaan punya definisi berbeda tentang cantik.

Belle juga digambarkan aneh sebab punya kebiasaan membaca. Yang menarik, dari semua bacaan Belle, bab favoritnya adalah kisah saat perempuan bertemu pangeran tampan. Bagian ini menunjukkan bahwa meskipun Belle suka berpetualang, drive atau dorongan kuat dalam dirinya adalah menemukan pangeran tampan dan menikah dengannya. Ini tak beda dengan putri Disney lainnya. Kita bisa mengatakan bahwa film buatan Disney ini menyederhanakan karakter Belle sebagai seorang ibu rumah tangga bahagia yang sukses menikah dengan pria tampan dan kaya.

Jika analisis hendak dilanjutkan, kita bisa pindah ke beberapa karakter. Ada sosok Lumiere, yang berubah menjadi pembawa lilin. Dia berbicara dengan aksen Perancis yang kental. Dia beberapa kali mengatakan, saat kembali jadi manusia, maka dia akan melanjutkan hobinya yakni memasak dan berkencan dengan perempuan. Gambaran romantisme ini menjadi setereotype terhadap orang Perancis.

Sosok lain yang patut disimak adalah Cogsworth. Dia adalah jam dinding yang selalu kaku dan menegaskan aturan. Ketika ayah Belle memasuki kastil dalam keadaan basah, semua benda hendak membantunya. Cogsworth adalah satu-satunya yang mengingatkan mereka untuk tidak berbicara dengan siapa pun. Selain itu, ia menegaskan bahwa jika ia menjadi manusia lagi, mimpinya adalah "menyeruput teh." 

Nah, jika Perancis identik dengan kencan, maka Inggris identik dengan sikap yang kaku dan tegas pada aturan.

*** 

JIKA dilihat dari sisi hiburan, film ini tetap menarik ditonton. Melalui kanal Youtube, saya menyaksikan soundtrack-nya yang masih memikat. Biarpun saya lebih suka vokal Celine Dion dan Peabo Bryson dalam versi kartunnya, saya tetap menyukai lagu yang dinyanyikan ulang oleh Ariana Grande dan John Legend ini. Kalimat awalnya masih mengiang di telinga saya:

Tale as old as time
true as it can be
barely even friends
then somebody bends
unexpectedly.

Semoga bisa segera menontonnya.



Bogor, 19 Maret 2017
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...