Dulu Avatar Aang, Kini Avatar Korra


saat Korra tiba di Kota Republik

SEHARIAN saya tinggal di apartemen dan menghabiskan waktu untuk menonton serial The Legend of Korra. Serial ini adalah kelanjutan dari Avatar: The Last Air Bender. Jika sebelumnya, sosok yang menjadi Avatar adalah bocah plontos bernama Aang, maka dalam serial ini, Aang berreinkarnasi pada remaja perempuan bernama Korra, yang berasal dari suku air.

Mulai tanggal 14 April 2012 lalu, serial ini ditayangkan di Nickleodeon. Saya memilih untuk menontonnya dengan cara ilegal yakni men-download melalui torrent. Di sini, untuk men-download film atau serial hanya butuh waktu lima menit. Sebagai penggemar Avatar (yang berulang-ulang menonton serial ini), dahaga saya akhirnya terpuaskan. Meskipun kali ini tak ada lagi Aang, Katara, dan Sokka, namun saya tetap tidak kehilangan 'rasa' serial ini. Tetap saja seru, menegangkan, dan sarat filosofi.

Serial ini mengambil setting di Kota Republik, sebuah kota yang didirikan oleh Avatar Aang setelah mengakhiri perang 100 tahun bersama sahabatnya Zuko, Toph, Katara, dan Soka. Aang mendirikan kota ini yang bercirikan universalitas, di mana semua manusia bisa hidup bersama dengan damai. Sebelum mendirikan Republik, masyarakat terbagi-bagi berdasarkan empat unsur yakni api, tanah, air, dan udara. 

salah satu pose Korra
Korra di dekat patung Avatar Aang

Serial ini mengambil setting waktu yakni 70 tahun setelah kematian Aang. Karakter yang tersisa dari serial sebelumnya adalah Katara, yang sudah berusia lajut. Ia melatih Korra untuk menguasai elemen air. Dalam kisah ini, Aang dan Katara memiliki tiga anak, namun hanya anak terakhir yakni Tenjin yang punya kemampuan untuk mengendalikan udara.

Karakter lain yang masih punya kaitan dengan serial sebelumnya adalah Lin Beifong. Beliau adalah putri Toph, sahabat Aang yang mengajari elemen bumi. Lin menjadi kepala polisi, yang juga menguasai elemen besi. Dalam serial sebelumnya dikisahkan kalau Tof akhirnya bisa mengendalikan besi. Di film ini, Lin amat tegas, dan memiliki pasukan yang amat kuat.

Berbeda dengan masa Aang di mana semua tempat bernuansa tradisional, maka Kota Republik suasananya agak modern. Kira-kira suasananya seperti kota Shanghai tahun 1920-an, di mana kotanya merupakan kombinasi antara tradisional dan modern. Di kota ini, terdapat banyak mobil antik sehingga jalanan amat sibuk. Di kota ini juga terdapat banyak gedung pencakar langit. 

Makanya, setting film ini amat modern. Saya serasa melihat gabungan antara Avatar dengan film Karate Kid. Itu juga nampak pada karakter Korra yang bergabung dalam tim bela diri dan ikut kejuaraan pengendalian empat unsur. Para pemainnya memakai pelindung yang canggihj. Suasananya persis film Final Fantasy atau komik Tiger Wong.

Korra bersama sahabat-sahabatnya
Korra bersama Naga, hewan tunggangannya

Zamannya memang beda. Jika dalam serial Aang, sosok Avatar amat dinantikan, maka Korra justru berbeda. Ia hidup di masa modrn ketika Avatar tidak dianggappenting. Semua orang menggandrungi cara berpikir modern. Orang lebih percaya polisi atau tentara. Tapi bukan berarti kriminalitas reda. Pada titik ini, posisi Korra jadi sangat penting.

Ketika menonton The Legend of Korra, Book I yakni water (air), saya banyak membandingkan serial ini dengan Avatar Aang. Selain setting yang sudah saya bahas di atas, masih ada beberapa perbedaan lain yang akan saya bahas.

Pertama, dalam serial sebelumnya, Aang masih kanak-kanak dan berkelana untuk mempelajari ketiga unsur lain yakni tanah, air dan udara. Perjalanannya adalah demi menemui guru yang mengajarinya menguasai unsur itu. Dalam kisah Korra, ia sudah remaja (berusia sekitar 17 tahun) yang menguasai tiga unsur yakni air, tanah, dan api. Ia hanya butuh menguasai unsur udara. Makanya, ia datang ke kota Republik demi belajar pada Tenjin, putra Aang.

Kedua, dalam seral sebelumnya, konflik adalah antar kerajaan yang basisnya adalah unsur. Aang menghadapi Kerajaan Api yang perkasa dan menjajah semua kerajaan lain. Dalam serial yang baru, Korra berhadapan dengan isu-isu yang lebih modern di kota Republik yakni kriminalitas, serta gerakan revolusi yang hendak menyingkiran para penguasa unsur. 

salah satu gaya bertarung
di depan Kota Republik

Musuh terbesarnya adalah Amon, pemimpin kaum equalist, yang hendak menyingkirkan para penguasa unsur. Amon memiliki pasukan yang amat kuat. Pasukannya menguasai cara mematikan kemampuan pengendalian unsur. Pasukannya juga bisa berkelahi dengan jurus pengendalian chi, sejenis totok yang membuat tubuh lawan langsung kaku dan mati rasa. Korra akhirnya berhadapan dengan pasukan hebat yang dikendalikan Amon ini.

Ketiga, Aang adalah sosok yang amat jenaka. Sangat beda dengan Korra yang serius ditemani teman-temannya yang kadang konyol. Mungkin ini adalah pengaruh dari unsur yang mereka kuasai. Unsur udara membuat Aang sangat jenaka dan bebas berekspresi. Beda dengan unsur air yang dikuasai Korra, dan membuatnya tegas dan bisa menjadi air menjebol apapun.

Dari banyak perbedaan itu, tentunya terdapat banyak kesamaan. Dahulu Aang, ditemani bison terbang bernama Appa. Kali ini, Korra ditemani beruang kutub bernama Naga. Kemudian Aang punya sahabat dekat, demikian pula dengan Korra.

Secara umum, saya sangat ketagihan untuk menuntaskan serial ini. Saya suka dengan ketegangan-ketegangan serta petualangan mengikuti remaja putri yang menguasai unsur alam ini. Saya juga suka dengan sosok Korra yang labil dan mudah emosi, sebagaimana Aang. Sayangnya, saya baru menonton sampai episode tujuh. Di Amerika sendiri, serial ini baru sampai episode 10 (kalau tak salah).  

Yang pasti, saya punya serial kesukaan yang akan terus saya tunggui dan tonton hingga bosan.(*)


Comments
3 Comments

3 komentar:

warm said...

sungguh saya jd penasaran :|
makasih infonya bang
dan salam kenal :D

Kang Rohman said...

inilah prestasi dan kehebatan kang yus dalam menulis. Imaginatif dan mencerahkan

penerjemah bahasa manarin said...

wahhhh...seru...seru...seru...the new avatar "avatar korra". i like it.

Post a Comment

Terpopuler Bulan Ini

...

...