Puisi Bugis di West Virginia

West Virginia

DALAM perjalanan menuju West Virginia, Amerika Serikat (AS), ada dua lagu yang terus-menerus melintas di pikiran saya. Lagu pertama adalah Country Road yang ditulis dan dinyanyikan John Denver pada tahun 1971. Lagu ini terus melintas sebab saya sedang melintasi tempat berupa pegunungan dan sungai-sungai jernih yang ‘diperangkap’ dan ‘dilukis’ dalam lagu.

Lagu kedua yang terus melintas di pikiran saya adalah lagu berbahasa bugis berjudul Indo Logo yang di sepanjang jalan, beberapa kali dinyanyikan sahabat asal Aceh. Lagu ini amat puitis, berkisah tentang dua gunung, lalu tiba-tiba berujung pada pernyataan tentang tempat-tempat di mana kenangan dilabuhkan. Saya tiba-tiba tersadarkan betapa puitisnya orang-orang Bugis saat hendak memerangkap kenangan lalu mencairkannya sebagaimana es yang meleleh secara perlahan-lahan.

Kenangan adalah perangkap kesan dalam benak kita tentang sesuatu. Kenangan adalah himpunan pengalaman-pengalaman yang membentuk satu bangunan konseptual tentang sesuatu dalam genangan berpikir kita. Kita menilai sesuatu berdasar kenangan itu. Dalam konteks perjalanan hidup seseorang, kenangan cenderung tetap dan tidak berubah, padahal orang yang hidup dalam kenangan itu terus mengalami gerak. Maka nostalgia adalah momentum di mana kita saling mempertautkan kenangan, memperbarui kenangan, sekaligus kian memperkaya stok data seseorang sebagaimana diabadikan dalam benak kita sendiri.



Saya memikirkan kenangan saat merenungi syair lagu ini. Saya tiba-tiba saja terkejut. Kedua lagu ini menyajikan syair-syair yang romantik, namun terselip pesan-pesan filosofis tentang kenangan. Sepintas terdengar sederhana. Namun tidak dengan maknanya. Sebab maknanya justru menikam sisi-sisi lain diri kita yang sesungguhnya terperangkap dalam kenangan. Baiklah, saya akan mendiskusikan kedua lagu yang melintas di benak saat menuju West Virginia.

Lagu Country Road sangat populer di kalangan penggemar musik country. Musik yang identik dengan suasana pedesaan di AS ini memiliki akar pada jenis musik yang sering dinyanyikan para koboi di barat. Seringkali, musik ini disajikan dengan nuansa balada dan tarian yang nadanya simpel serta diiringi instrumen seperti banjo, gitar akustik, biola, ataupun harmonika. Biasanya, tema yang ditampilkan dalam musik country adalah tema-tema alam semesta, atau tentang kisah-kisah manusia yang menjalani hari-hari dalam nuansa pedesaan. Itu bisa dilihat dari teks lengkap lagu Country Road, sebagaimana berikut:


Almost heaven, West Virginia,
Blue Ridge Mountain, Shanandoa River,
Life is old there, older than the trees,
Younger than the mountains, blowing like a breeze

Country Roads, take me home
To the place I belong,
West Virginia,
Mountain mamma,take me home
Country roads

All my memories, gather round her
Modest lady, stranger to blue water
Dark and dusty, painted on the sky
Misty taste of moonshine, teardrop in my eye

Country Roads, take me home
To the place I belong,
West Virginia,
Mountain Mamma, take me home
To the country roads

I hear her voice in the morning hour she calls me
Radio reminds me of my home far away
Driving down the road I get a feeling
That I should have been home yesterday, yesterday


Lagu Country Road laksana sebuah soundtrack yang apik atas tempat ini. Jauh sebelum melintas, saya sudah membayangkan betapa indahnya West Virginia yang di masa lalu dan masa kini amat kondang sebagai tempat pertambangan di Amerika Serikat (AS) yang bising, yang terletak di tengah Pegunungan Appalachian yang amat indah, seperti lukisan alam yang demikian indah serupa keping surga yang jatuh ke bumi.

Uniknya, saat mengarang lagu ini, John Denver justru sama sekali belum pernah ke tempat itu. Denver tinggal dan besar di Washington DC. Ia menulis lagu ini bersama sahabatnya Bill dan Taffy Denoff saat berkendara menuju Maryland. Danoff yang pertama mendapatkan inspirasi saat melihat kartu pos yang dikirimkan seseroang yang tinggal di Virginia. Tapi hebatnya, lagu ini justru amat sukses ketika mengabadikan kerinduan pada alam semesta berupa pegunungan dan sungai jernih, sekaligus kerinduan pada seorang gadis pekerja tambang di bawah hamparan langit biru.

Mendengar lagu ini, saya bisa merasakan bagaimana rindu yang bersarang pada satu tempat, kemudian terselip kalimat filosofis, "Hidup lebih tua di sana (West Virginia). Lebih tua dari pepohonan, namun lebih muda dari gunung-gunung."

Puisi Orang Bugis

Syair lagu Bugis berjudul Indo Logo lebih kental nuansa filosofisnya ketimbang lagu Country Road. Sebab kerinduan akan seseorang kemudian dijelmakan menjadi pertanyaan filosofis yang berbunyi, “Yang manakah yang kita tempati untuk melabuhkan kenangan indah.” Secara lengkap bisa dilihat syair dan terjemahan berikut ini:


Dua bulu' samanna mat tettongeng, indo' logo (2x)
Kegasi samanna rionroi, ala rionroi
Palla'bu sengereng (2x)

Sengeremmu samanna pada bulu' indo' logo (2x)
Adammu samanna silappae, ala silappae
Buttungeng manenggi (2x)

Dua gunung bagaikan berdampingan, bunda logo (2x)
Yang manakah yang kita tempati
untuk melabuhkan kenangan indah (2x)

Kenanganmu bagaikan setinggi gunung, bunda logo (2x)
Tutur sapamu walau hanya sepatah
Meruntuhkan segalanya (2x)


Orang Bugis punya khasanah sastra yang amat agung. Pencapaian mereka dalam eksplorasi makna telah menggiring mereka sebagai salah satu bangsa unggul yang menguasai sains dan menorehkan jejak emas di lembar sejarahnya. Dalam diri mereka terdapat kontradiksi. Di satu sisi mudah terbakar amarah dan emosi, namun di sisi lain, mudah sekali tersentuh oleh sentuhan kalimat bijak. Maka api yang menyala itu lalu padam dan berganti kesejukan. Mereka suka bermain dengan makna, melihat sesuatu secara sederhana sebagaimana relasi lelaki dan perempuan, namun ada makna dahsyat di situ.

dua gadis Bugis

Dalam lagu Indo Logo, kerinduan bukan lagi menempati wadah berupa sebuah tempat atau gunung-gunung dan sungai jernih (sebagaimana lagu Country Road), melainkan sesuatu yang berupa jiwa, di mana kenangan itu hendak dilabuhkan. Kerinduan itu diartikulasikan sebagai puisi. Sepintas, lagu ini hendak mengisahkan seorang pria yang hendak memilih satu di antara dua gadis. Tapi saya melihat lain. Ini kisah tentang dua kenangan yang terpatri di benak seseorang. Akan tetapi, kenangan itu justru membentengi rapat-rapat dan tak hendak berdialog. Makanya, di akhir lagu terdapat kalimat, “Kenanganmu setinggi gunung, tutur sapamu walau sepatah, telah meruntuhkan segalanya.”

Saya membayangkan betapa dahsyatnya kata-kata. Mungkin, gunung hanyalah sebuah metaphor dari sebuah keangkuhan dan ketinggian hati. Mungkin pula metaphor dari jarak sosial dan kultural yang sering membentang di antara dua manusia. Kita seringkali angkuh pada kenangan atas seseorang. Kita lalu menutup diri. Tak mau bertegur sapa. Namun ketika sapa dan kelisanan terucap, gunung sekokoh apapun akan jebol oleh lahar yang mengalir dari sela-sela batuan, meruntuhkan gunung, meruntuhkan segalanya.(*)


3 comments:

  1. tulisanta mengingatkan saya tulisan2 Nirwan Arsuka...

    ReplyDelete
  2. wah kanda patta. saya masih snagat jauh untuk menggapai levelnya daeng nirwan. hehehe

    ReplyDelete
  3. Kmaren saat teman2 di Jogja mementaskan lagu itu. Banyak yg bertanya "Maknanya apa?" Ya, ada yg memaknainya dalam konteks kerinduan pasangan sejoli, kira2 seperti yg Kak Yusran tuturkan. Ada juga yg menafsirkannya sebagai hasrat seksual. Keduanya bertemu pada makna kata "Kemana akan dilabuhkan" (jika kita sama2 menutup diri). Tulisanta enak dibaca kak :)

    Salam Kosmik 05

    ReplyDelete

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...