Melihat Aceh di NIAGARA

air terjun Niagara di perbatasan AS dan Kanada

Niagara adalah air yang menghujam di tepi tebing-tebing tinggi dan daratan di seberang sana yang tampak mengabur. Jutaan gallon air mengalir dalam satu wadah, bergerak mencari dataran rendah, hingga akhirnya menghujam turun dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Kabut air memenuhi pandangan sehingga mengaburkan pemandangan di seberang sana. Dari tepi Niagara, saya tak bisa memandang ke seberang. Hanya ada kabut putih dan samar-samar ada daratan yang nampak. Apakah Niagara adalah tepi langit?

***

PRIA itu bernama Xi. Ia adalah seorang pria yang berumah di perkampungan Suku !Kung di Gurun Kalahari, Afika. Pria yang hanya bercawat kulit kayu serta selalu menyandang busur ke manapun ia hendak pergi itu, menemukan sebuah botol coca-cola yang jatuh dari langit. Dalam film God Must Be Crazy, ia menganggap botol itu adalah properti kepunyaan dewa langit yang mesti dikembalikan.

Sebuah botol adalah tanda sebuah peradaban, sekaligus tanda yang secara kultural telah memosisikan Xi sebagai ikon keterbelakangan. Tapi Xi tak hendak tunduk dengan pendefinisan itu. Ia menjelajah dunia demi mendefinsikan makna botol tersebut. Ia melihat segala sesuatu dari lanskap berpikirnya. Ia lalu memulai perjalanan dengan satu misi yakni menemukan tepi langit, lalu membuang botol, demi sang dewa. Perjalanan itu adalah perjalanan yang mendewasakan dirinya sebagai prajurit satu suku bangsa di Afrika. Hingga akhirnya ia tiba di tepi Niagara.

Hari ini, saya pun tiba di tepi Niagara dengan ketakjuban ala Xi. Saya tidak membawa botol Coca Cola. Saya tak tahu hendak membuang apa di air terjun besar itu. Tapi saya mengenggam ketakjuban yang sama sebab melihat Niagara laksana tepian langit, tempat segalanya dilabuhkan. Di sore ini, tanggal 26 Desember 2011, saya akhirnya menyaksikan jutaan kubik air yang menghujam ke daratan sana. Suaranya gemuruh bagaikan sedang berteriak sekencang mungkin hingga menggetarkan mereka yang menyaksikannya. Niagara adalah raksasa air yang kekuatannya serupa hantaman dinding baja yang menjebol apapun yang dilewatinya. Sebagaimana Xi, saya pun hendak bertanya, inikah tepi langit tempat para dewa bersemayam?

poster film The Gods Must be Crazy

Mungkin Xi tidak keliru. Dongeng kuno bangsa Indian juga menuturkan kata Niagara sebagai ‘titik di mana bumi terbelah jadi dua’. Di masa kini, kita mudah saja mengaitkan makna dongeng itu dengan perbatasan antara dua negara yakni Amerika Serikat dan Kanada. Lantas, jika cakrawala kita sedikit menukik ke masa silam, apakah yang dimaksud bangsa Indian kuno dengan kata terbelah di sini? Apakah makna yang hendak diwariskan buat generasi yang suka menyebut dirinya modern?

Saya hanya bisa menduga-duga. Dulu, Musa –atas berkat Tuhan-- pernah membelah lautan menjadi dua. Tapi itu terjadi di Timur Tengah. Di Niagara, pernah ada legenda tentang dewa langit bangsa Indian yang bertahta di atas awan, dan kerap turun ke bumi dalam wujud binatang-binatang. Sesekali ia muncul sebagai elang rajawali, sesekali ia hadir sebagai beruang. Suatu hari, ia kemudian murka pada manusia hingga memberikan kutukan. Ia membelah alam menjadi dua hingga air memuncrat deras bagai air bah. Inilah prasasti agung tentang konsekuensi, saya lebih suka menyebutnya kutukan, atas manusia yang lalai pada alam dan abai pada dewa. Maka dewa yang memilih berumah di awan itu mengabadikan Niagara sebagai prasasti yang bisa diihat siapa pun anak manusia, keturunan generasi para perusak tersebut.

Saya sering termangu saat mendengar kisah-kisah hebat itu. Dalam segenap kisah-kisah tradisional itu kita sukar menemukan peta waktu yang bertaut hingga masa kini. Kita menemukan sebuah patahan, namun betapa pentingnya patahan itu untuk menjelaskan tafsir atas Niagara di masa kini. Melalui dongeng dan mitos itu, terbentang tafsir lokal atau eksplanasi tentang kejadian-kejadian yang jika ditautkan akan membentuk kosmologi bangsa Indian yang amat arif kepada alam.

Bangsa Indian melihat semesta sebagai sesuatu yang hidup, berdenyut, di mana manusia dan alam sama-sama tunduk pada Ruh Agung (the great spirit). Bangsa Indian adalah pembelajar abadi yang melihat Niagara sebagai prasasti peringatan para Dewa atas alam semesta di mana posisi manusia sebagai penjaga wibawa semesta. Dan para Dewa itu pun bisa mengutuk, membelah bumi, dan menenggelamkan manusia dalam air bah yang deras dan menggiriskan. Manusia sering mempermainkan air. Di tangan Dewa, air itu bisa jadi kekuatan dahsyat yang menelan semuanya. Apakah ini benar wahai Dewa yang bersemayam di langit?

air terjun Niagara

Hari ini, 26 Desember 2011. Saya tiba-tiba saja terkenang dengan tragedi yang pernah menikam tanah Aceh di tahun 2004 silam. Pada masa itu, saya tersentak saat melihat tayangan media di seluruh dunia memberitakan air bah yang mengalir derat. Air bah itu menyapu semua yang di depannya. Bangunan, kendaraan, monumen, patung, segala yang berdiri di atas bumi pada radius tertentu disapunya dengan rata. Tak cukup di situ, ribuan nyawa ditelannya, tanpa sedikitpun memberikan belas kasihan.

Air bah mengalir seperti pasukan malaikat maut yang menjemput semua nyawa. Di situ, semua dewa seakan bersatu dan mengamuk dengan kekuatan penuh. Dewa lamgit bangsa Indian bersatu dengan Poseidon dan melagukan syair pedih yang menyayat di Banda Aceh. Semua dilibas. Semua ditelan. Air bah tak peduli siapa dan apa yang ada di hadapannya. Bunyi gemuruh itu menghantam semuanya dan memperdengarkan suara laksana ribuan jerit yang membelah angkasa.

Nun di satu masjid kecil di kawasan Meulaboh, Aceh, terdapat suara lirih seorang anak kecil sedang mengaji. Suaranya kecil, namun seakan menembus seluruh benteng air bah yang hendak menjebol. Suaranya menembus segala bunyi gemuruh dan membukakan satu ruang yang menganga di jantung siapapun yang mendengarnya. Suaranya memang kecil dan tak ada artinya jika dibandingkan dengan air bah yang menggemuruh itu. Tapi suara lirih yang serupa bisikan itu serupa mantra Musa ketika membelah lautan. Air bah membelah dan menyisakan jejak berupa sebuah masjid kecil yang tegak berdiri dan di dalamnya terdapat bocah kecil sedang melafalkan bait-bait suci tersebut. Duhai Gusti Allah, apa yang sebenarnya hendak kau bisikkan atas gemuruh air tsunami serta tanda-tanda kuasa-Mu yang bertebaran di alam ini?

***

Niagara dan Aceh adalah prasasti abadi yang selalu mengetuk ruang-ruang kesadaran kita. Niagara hanyalah sebentuk air terjun biasa yang disaksikan sebagai atraksi wisata. Namun, Niagara menjadi simbol nyata tentang seberapa perkasanya air mengalir dan manusia hanyalah serpih kecil yang tak berdaya di situ. Niagara menyimpan potensi, sementara Aceh adalah sesuatu yang mengaktual. Kita menyaksikan dampak dahsyat itu di Aceh, di mana manusia hanyalah satu sekrup kecil yang tak berdaya di hadapan kekuatan alam. Kita bisa memelihara kesombongan, tapi di tengah air sehebat Niagara atau sedahsyat tsunami Aceh, kita bukanlah siapa-siapa. Kita hanya manusia yang rapuh dan kelak akan tersapu kehidupan.

Sore ini, 26 Desember 2011. Saya sedang mengingat tragedi Aceh dari tepi Niagara. Saya memandang ke seberang sana, di mana tepi langit itu mulai berkerlap-kerlip. Di sana telah berdiri sebuah kota yang terletak di Ontario, Kanada. Tak ada tepi langit di sana. Mungkin anggapan Xi keliru. Tapi, saya tiba-tiba saja melihat ada pelangi yang turun bagai garis dari langit dan langsung menuju ke tengah air terjun. What? Apakah ada Dewa Indian yang sedang melintas di situ?



Niagara, 26 Desember 2011
www.timurangin.blogspot.com

tim ekspedisi Niagara

3 comments:

  1. Subhanallah Niagara dan Tsunami Aceh Kuasa yang tak terbantahkan oleh apapun.

    wuiiih...mantap jalan-jalannya Kanda...^^

    ReplyDelete
  2. Ia kita ini bukan apa-apa, bukan siapa-siapa jika dibandingkan Sang Kekasih :) Hanya karena belas kasihnya saja kita bisa berpijak di bumi ini.

    ReplyDelete
  3. Rendra Tris Surya12:45 AM

    Tulisan anda menarik sekali....gabungan antara tulisan wisata, jurnalis sastra dan renungan filasafi...(tiba2 , saya skg menjd penggemar tulisan2 anda yang gaya penulisnanya khas tsb..). Terus berkarya dan menulis, bung...!

    ReplyDelete

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...