Rumah Kecil di Tepi Telaga


AKU ingin rumah yang bukan di tengah pemukiman padat. Aku tak cocok dengan bunyi knalpot kendaraan bermotor atau suara bising dan kemacetan berjam-jam. Aku tak suka dengan suara-suara ramai yang riuh, suara-suara yang bisa membunuh keheningan yang kubutuhkan untuk menggapai ketenangan.

Aku tak ingin rumah yang mentereng. Aku tak suka melihat rumah yang angkuh dan berdiri tinggi dengan pilar-pilar menjulang. Di tanah kita, rumah-rumah berdiri megah dengan pagar tinggi-tinggi yang menjadi benteng bagi penghuninya. Rumah itu membangun jarak dengan sekelilingnya. Aku tak ingin rumah seperti itu.

Aku ingin rumah yang sederhana, biasa, dan mudah diakses. Aku ingin rumah itu di tepi kota, dekat lembah-lembah atau ngarai tempat kita kelak berlari-lari sambil main layangan dengan anak-anak. Kelak kita akan duduk di tepi telaga di lembah itu sambil mmberi makan burung-burung, lalu tertawa-tawa bersama saat terpleset di tepi sungai saat hendak mengambil air.

Aku juga suka kalau rumah itu di dekat gunung. Sesekali bagus juga kalau kita mendaki gunung itu lalu melihat ke daratan luas sambil bertanya-tanya, apa sesungguhnya makna dari daratan maha luas ini. Kita akan memandang bulan dari atas gunung itu, sebagaimaa Ibrahim, sang nabi yang mengira bulan adalah Tuhan, dan keesokan harinya lalu berubah pikiran.

Aku juga suka punya rumah di tepi pantai. Atau di tebing tinggi yang halaman belakangnya bisa melihat lautan luas. Kubayangkan di situ aku akan menganyam hari dan mengingat saat-saat diriku masih bocah dan berlari-lari di tepi laut di Pulau Buton. Aku ingin mengenang saat penuh keriangan itu sambil bertanya dalam diri, mengapa pula aku harus jadi dewasa dan mengapa pula aku tidak tetap kecil agar keceriaan itu terus bertahta dalam diri.

Mungkin saat ini semuanya adalah impian. Tapi bukankah beberapa kali kukatakan bahwa impian serupa dua kepak sayap yang akan menerbangkan kita ke langit-langit imajinasi tak bertepi yang seringkali secara tak terduga dan dengan cara yang amat ajaib telah mengabulkan segala yang kita inginkan? Impian itu serupa cahaya yang memberikan terang pandang, menjadi mercu suar atas gelap pekat kehidupan, serta menjadi embun di tengah oase kehampaan tujuan dan makna menjalani hidup.

Jika hari ini kita sedang menganyam impian, maka kita sesungguhnya sedang menganyam masa depan yang kelak kita lalui. Kita sedang melalui masa penuh perjuangan. Masa penuh kerja keras. Diriku di sini serupa siput yang jauh meninggalkan rumahnya. Melalui tulisan ini kualirkan semua mimpi, harapan, obsesi, dan ingatan-ingatan atas masa depan. Semoga semua mimpi itu terus mengalir menuju sungai, lalu ke samudera maha luas yang laksana sihir akan mengabulkan semuanya.(*)

0 komentar:

Posting Komentar