Si Biru yang Setia


SEDIH juga saat harus pisah dengan Si Biru, motor yang selalu mengantar saya ke manapun. Si Biru adalah motor yang paling setia sedunia. Ia tak pernah mogok, tak pernah berulah. Setiap saat bersedia menemani saya ke manapun, tanpa protes. Si Biru adalah saksi atas ke manapun saya bergerak dan siapa saja yang menemani perjalanan saya.

Sungguh berat melepaskannya. Serasa baru kemarin saat saya dan Dwi menjemput motor ini di dealer Suzuki di depan M-Tos. Entah sudah berapa lama Si Biru ngetem di Suzuki, sebelum akhirnya saya ambil untuk dibawa pulang.

Mungkin saya agak melankolis. Bagi saya, sebuah benda yang selalu menemani kita dalah bagian dari diri kita. Benda itu bisa merepresentasikan tentang diri kita sendiri. Seorang guru filsafat mengatakan, bahwa dalam benda-benda yang menemani kita, selalu tersisa energi yang pernah kita pancarkan. Mungkin ini pula alasan mengapa banyak orang yang memburu koleksi tokoh idolanya. Sebab melalui benda-benda itu, bisa dirasakan energi yang dipancarkan sang tokoh. Pantas saja jika orang Syi'ah punya konsep tabarruk, sebuah penghormatan pada seseorang ataupun benda yang dimilikinya dengan cara menciuminya secara takzim. Dengan cara menyentuh atau menciumnya, maka terjadilah transfer energi. Sebuah semangat baru bersemi. Semangat sebagaimana yang dipancarkan sang tokoh.

Saya tidak sesuci para tokoh yang di-tabarruki orang Syi'ah. Tapi Si Biru jelas memancarkan energi saya. Apapun itu.(*)

0 komentar:

Posting Komentar