Luwu, Kesenyapan, dan Keteduhan


UNTUK pertamakalinya saya salat duhur di Masjid Jami Tua, Palopo. Saya selalu menikmati saat-saat ketika salat di masjid tua dan penuh sejarah. Bagi saya, sebuah masjid bukan sekadar tempat beribadah dan bersenyap diri dalam upaya mendaki tangga-tangga spiritual menuju Tuhan. Sebuah masjid adalah getar yang memberikan resonansi dan jejak-jejak tentang sejauh mana suatu masyarakat membisikkan kalam Ilahi. Sebuah masjid adalah saksi bisu tentang ikhtiar manusia menegakkan kalam Ilahi, seperti apapun derasnya gelombang samudera kehidupan yang dihadapi.

Di dalam masjid tua seperti Masjid Jami inilah, saya menikmati getar dan resonansi tersebut. Sebelum ke sini, saya sudah sering mendengar pernyataan bahwa belumlah menginjakkan kaki di Palopo, apabila belum bersembahyang di Masjid Jami. Setelah melihat langsung masjid ini barulah saya tahu bahwa ujaran-ujaran tersebut benar adanya. Sebab masjid tua ini adalah saksi bisu yang merekam utuh dinamika orang Luwu ketika mengenal Islam sebagai berita gembira yang kemudian mengubah atmosfer kehidupan mereka.



Masjid ini adalah sejarah dari sebuah kota yang dulunya bernama Ware, sebagaimana tercatat dalam manuskrip kuno I La Galigo. Nama Palopo ini diperkirakan mulai digunakan sejak tahun 1604, bersamaan dengan pembangunan Masjid Jami Tua. Kata "Palopo" ini diambil dari dua kata bahasa Bugis-Luwu. Artinya yang pertama adalah penganan ketan dan air gula merah dicampur. Arti yang kedua, dari kata Palo'po, yang artinya memasukkan pasak ke dalam tiang bangunan. Dua kata ini ada hubungannya dengan pembangunan dan penggunaan resmi Masjid Jami Tua, yang dibangun pada tahun 1604.

Bagi saya, masjid ini bukan cuma sejarah kota itu sendiri. Masjid adalah sebuah simbol, suatu tanda dialogis antara Islam sebagai satu keyakinan yang datang, serta filosofi kehidupan orang Luwu yang sebelumnya telah mendarahdaging selama sekian generasi. Semacam perbincangan yang tak ada habisnya tentang pandangan dunia dan eksistensi orang Luwu sebagaimana yang tercatat dalam manuskrip kuno I La Galigo, yang kemudian berdialektika dengan ajaran Islam yang kemudian hadir di tanah itu. Dan dialog-dialog filosofis itu bisa terekam dengan baik saat menyaksikan fisik masjid ini yang sarat simbol.

Saya membayangkan sosok ulama Minangkabau, Datuk Sulaiman, yang bergelar Datuk Pattimang. Pada abad ke-16, atau tahun 1604, ia mendirikan masjid ini sebagai simbol masuknya Islam. Ukuran bangunan utama 11, 9 meter x 11,9 meter dan tinggi 3,64 meter. Ia membangun dinding masjid dengan menggunakan batu setebal 0,94 meter yang direkatkan dengan putih telur. Saya menduga bahwa saat membangun masjid ini, Pattimang seakan hendak menitipkan pesan dan teka-teki semiotik pada generasi masa kini. Atap masjid bersusun tiga, dan di puncaknya terdapat tempayan kramik sebagai mustaka yang mengandung falsafah Luwu, yaitu lampu tongeng, benteng dan allele. Sedangkan mustaka itu sendiri adalah representasi dari sifat Tuhan yang maha adil.



Nah, inilah yang saya maksudkan sebagai dialog. Hadirnya Islam lantas mengalami perbincangan secara terus-menerus dengan keyakinan hidup orang Luwu yang sudah ada. Islam tidak menyingkirkan sesuatu di sini. Islam hadir laksana kepingan puzzle yang kemudian menggenapi kepingan puzzle yang sudah lebih dulu terhampar dalam peta kehidupan orang Luwu. Yang terjadi kemudian adalah upaya negosiasi dan saling memperkaya tatkala Islam diterjemahkan menjadi kearifan tradisi sebagai sumsum belulang masyarakat Luwu. Tatkala Islam dijelmakan sebagai tradisi, maka saat itu juga Islam mengalami persenyawaan dnegan tradisi lokal dengan cara yang amat mengagumkan sebagai keping-keping puzzle keyakinan yang utuh.

Saya lalu menyaksikan tiang utama masjid sebagai penopang. Kata seorang jamaah yang saya tanyai, tiang itu bermakna payung yang mengembang sebagai konsep tegaknya Kedatuan Luwu, dengan tinggi 8,5 meter dan diameter 90 cm dengan bahan kayu cengaduri. Orang Luwu tidak membangun sebuah kerajaan besar yang perkasa dan mengalahkan banyak bangsa. Mereka tidak memburu kemahsyuran. Mereka membangun sebuah kedatuan yang bersahaja sebagai rumah yang nyaman di mana semua orang bisa berteduh dan berlindung dari sengat cahaya matahari keangkuhan. Di rumah teduh itu, semua manusia, apapun agamanya, apapun keyakinannya, dan apapun asal-usulnya bisa saling memaknai dan saling berteduh di bawah payung Kedatuan Luwu yang bersahaja.

Saat salat di sini, saya belajar untuk mensenyapkan diri sebagaimana orang-orang yang salat di situ. Usai salat, saya lalu berzikir dengan suara berbisik. Saya lalu senyap dan merasa tergetar saat merenungi jejak sejarah yang panjang dan begitu kuatnya keyakinan filosofis orang Luwu. Saya bukan seorang Luwu. Tapi, salat di masjid ini memberi saya keteduhan tersendiri sehingga sekonyong-konyong sebuah keteduhan melintas dalam benak saya. Mungkin keteduhan inilah makna Luwu yang sesungguhnya. Keteduhan untuk saling memaknai.


Palopo, 29 Januari 2010

1 komentar:

pengumuman cpns mengatakan...

Nilai sejarahnya kental banget ya, mudah mudahan bisa berkunjung ketempat tersebut

Posting Komentar