Langit Ilmu dan Bumi Manusia

Telaah Atas Buku "Ilmu dalam Perspektif" karya Jujun S Sumantri
APAKAH makna manusia sebagai mahluk berpikir? Apakah perbedaan antara manusia dan hewan? Pernahkah anda memikirkan bahwa anda tidak ada sebelum dilahirkan ke dunia ini; dan anda telah diciptakan dari sebuah ketiadaan? Pernahkan anda berpikir bagaimana bunga yang setiap hari anda lihat di ruang tamu, yang tumbuh dari tanah yang hitam, ternyata memiliki bau yang harum serta berwarna-warni? Seorang filosof bernama Socrates terus mempertanyakan itu kepada berbagai manusia lain yang ditemuinya di Yunani. Baginya, pengetahuan lahir dari sikap kritis dan mempertanyakan berbagai hal. Dengan cara ini, pengetahuan merekah dan pintu masuk menuju jendela ilmu pemahaman seakan membuka.

Lewat berbagai pertanyaan itu, manusia menyusun berbagai jawaban-jawaban. Dalam pahaman Socrates, manusia terlahir ke muka bumi dibekali dengan panca indra sebagai instrumen untuk mengenali berbagai keping realitas sosial. Panca indra itu meliputi lima indra yang sangat penting bagi manusia yaitu: penglihatan, pendengar, pengecap, peraba, hingga perasa. Kesemuanya adalah instrumen yang selalu memberikan sinyal pengetahuan bagi manusia pada aspek permukaan dari samudera realitas yang berserak laksana kepingan. Dikarenakan manusia hanya bisa menggapai aspek permukaan dari pengetahuan, manusia tak pernah bisa menggapai pengetahuan sejati. Pengetahuan selalu bersifat sementara dan akan selalu direvisi seiring dengan perkembangan perjalanan pemikiran manusia.

Dalam bahasa sederhana, ilmu pengetahuan laksana berada di langit, sementara manusia tetap berpijak di bumi realitas dan berusaha menggapai langit ilmu untuk menjawab berbagai tanda-tanya yang bersarang di benaknya. Dikarenakan manusia tak pernah bisa menggapai langit, maka ilmu pengetahuan selalu bersifat tentatif (sementara) dan selalu mengalami gerak atau perkembangan secara terus-menerus.Berpikir adalah metode yang ada dalam diri manusia untuk menggapai pengetahuan serta mempertautkan berbagai kepingan realitas tersebut. Dengan cara berpikir, manusia menggabungkan berbagai data yang direkam melalui indra demi mendapatkan berbagai jawaban.

Buku “Ilmu Dalam Perspektif” yang ditulis Jujun Suriasumantri ini dimaksudkan untuk mengenali bagaimana proses berpikir serta hakekat keilmuan secara mendalam. Di mulai dengan sebuah pengantar redaksi yang mengupas hakekat keilmuan secara menyeluruh, kumpulan karangan ini dilengkapi dengan 20 tulisan sarjana terkemuka dari dalam dan luar negeri seperti Albert Einstein, Bertrand Russell, John G. Kemeny, Gilbert Highet, Rudolf carnap, Bochenski, di samping Slamet Iman Santoso, Like Wilardjo, B. Suprapto dan N. Daldjoeni. Beberapa tokoh penulisnya adalah ilmuwan yang mencatatkan namanya pada barisan terdepan dari ilmuwan yang memiliki kontribusi besar dalam mengubah dunia.
Atas dasar itu, buku ini sangat layak untuk diapresiasi sebagai karya yang bisa menjelaskan dunia ilmu pengetahuan secara komprehensif. Hal lain yang layak diapresiasi adalah kualitas terjemahan yang sangat baik. Di tengah banyaknya buku terjemahan dengan kualitas yang asal-asalan, maka buku ini justru memiliki terjemahan yang sangat baik sehingga pembacanya bisa membaca buku tanpa harus berkerut kening. Terjemahan yang baik ini menjadikan buku ini laris manis hingga tercatat sudah delapan kali mengalami cetak ulang dari edisi perdananya.
Permasalahan yang dibahas dalam kumpulan karangan ini mencakup antara lain peranan berpikir dalam peradaban manusia, hakekat ilmu, kelebihan dan kekurangannya, kegunaan teori keilmuan. Juga dibahas peranan beberapa disiplin keilmuan seperti misalnya matematika, logika, statistika, bahasa dan juga peranan penelitian. Tidak dilupakan pula pembahasan mengenai hubungan antara etika dengan ilmu. Bunga rampai ini ditujukan kepada semua orang yang mencintai ilmu agar mereka lebih memahami apa yang mereka cintai, dan dengan demikian dirangsang untuk mempelajarinya dengan lebih baik. Berguna bagi siapa saja yang menaruh minat kepada bidang keilmuan, dari pelajar, mahasiswa, promovendus yang sedang menyiapkan disertasi, guru/staf pengajar atau siapa saja yang ingin menajamkan kemampuan berpikirnya berdasarkan metode keilmuan.

Ilmu dan Filsafat

Dari keseluruhan kumpulan karangan ini, Jujun menuliskan pengantar redaksi yang di dalamnya berisikan ringkasan seluruh materi buku. Membaca pengantar buku ini seakan membaca keseluruhan isi buku yang disajikan dengan bahasa yang “mengalir” dan mudah dipahami. Ulasannya dimulai dari pengertian berpikir hingga tiga permasalahan pokok pengetahuan yaitu apa yang hendak diketahui, bagaimana memperoleh pengetahuan, hingga apa nilai pengetahuan tersebut bagi manusia. Ketiga pertanyaan ini nampaknya sederhana, namun inilah muara dari berbagai pertanyaan filosofis yang dicari jawabannya di sepanjang sejarah pemikiran dan peradaban manusia. Ketiga aspek ini kerap disebut ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Dalam pengantar ini, berpikir didefinisikan sebagai sumber lahirnya mata air pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berwujud pengetahuan.

Pengetahuan merupakan produk kegiatan berpikir yang merupakan obor dan semen peradaban di mana manusia menemukan dirinya dan menghayati hidup dengan lebih sempurna. Berbagai peralatan dikembangkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya dengan cara menerapkan pengetahuan yang dimilikinya. Proses penemuan dan penerapan inilah yang mentghasil berbagai peralatan, mulai dari kapak di zaman dahulu, hingga berbagai jenis komputer di hari ini. Gerak pemikiran ini dalam kegiatannya mempergunakan lambang yang merupakan abstraksi dari obyek yang sedang dipikirkan. Lambang ini adalah bahasa serta angka-angka yang banyak digunakan dalam matematika. Aktivitas kegiatan berpikir secara mendalam kerap kali disebut filsafat.

Antara ilmu dan filsafat terdapat perbedaan yang cukup signifikan. Istilah “filsafat” dapat ditinjau dari dua segi, yakni: segi semantik dan segi praktis. Dari segi semantik, filsafat berasal dari bahasa arab ‘falsafah’, yang diserap dari bahasa yunani, “philosophia”, yang berarti ‘”philos” atau cinta, suka (loving), dan “sophia” = pengetahuan, hikmah(wisdom). Jadi ‘philosophia’ berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafat akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut ‘philosopher’, dalam bahasa arabnya ‘failasuf”. Pecinta pengetahuan ialah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai tujuan hidupnya, atau perkataan lain, mengabdikan dirinya kepada pengetahuan.

Sedangkan dari segi praktis filsafat bererti ‘alam pikiran’ atau ‘alam berpikir’. Berfilsafat artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir bererti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sebuah semboyan mengatakan bahwa “setiap manusia adalah filsuf”. Semboyan ini benar juga, sebab semua manusia berpikir. Akan tetapi secara umum semboyan itu tidak benar, sebab tidak semua manusia yang berpikir adalah filsuf. Filsuf hanyalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam. Tegasnya: filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain: filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu. Beberapa definisi kerana luasnya lingkungan pembahasan ilmu filsafat, maka tidak mustahil kalau banyak di antara para filsafat memberikan definisinya secara berbeda-beda.
Plato (427-347 SM) mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan tentang segala yang ada. Baginya, pengetahuan yang sesungguhnya berada pada langit ideal dan manusia hanya bisa mencapai serpih-serpih dari idealitas tersebut. Defenisi ini hampir sama dengan Aristoteles (384 – 322 SM) yang mengatakan, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Artinya, filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda yang ada di semesta. Oang pertama yang bagus memakai istilah philosophia dan philosophos ialah Pytagoras (592-497 SM), yakni seorang ahli matematika yang kini lebih terkenal dengan dalilnya dalam geometri yang menetapkan a2 + b2 = c2. Pytagoras menganggap dirinya “philosophos” (pencinta kearifan). Baginya kearifan yang sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan. Selanjutnya, orang yang oleh para penulis sejarah filsafat diakui sebagai Bapak Filsafat ialah Thales (640-546 S.M.). Ia merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani.
Menurut aliran filsafat kosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk mengetahui asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya (The Liang Gie, 1999).Menurut sejarah kelahiran istilahnya, filsafat terwujud sebagai sikap yang ditauladankan oleh Socrates. Yaitu sikap seorang yang cinta kebijaksanaan yang mendorong pikiran seseorang untuk terus menerus maju dan mencari kepuasan pikiran, tidak merasa dirinya ahli, tidak menyerah kepada kemalasan, terus menerus mengembangkan penalarannya untuk mendapatkan kebenaran (Soeparmo, 1984).

Timbulnya filsafat karena manusia merasa kagum dan merasa heran. Pada tahap awalnya kekaguman atau keheranan itu terarah pada gejala-gejala alam. Dalam perkembangan lebih lanjut, karena persoalan manusia makin kompleks, maka tidak semuanya dapat dijawab oleh filsafat secara memuaskan. Jawaban yang diperoleh menurut Koento Wibisono dkk. (1997), dengan melakukan refleksi yaitu berpikir tentang pikirannya sendiri. Dengan demikian, tidak semua persoalan itu harus persoalan filsafat.

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi

Hubungan antara filsafat dan ilmu laksana kembar yang susah dipisahkan. Ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakan ilmu dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Ciri-ciri keilmuan mencakup jawaban atas tiga pertanyaan yang telah disinggung di atas yaitu apa yang hendak diketahui, bagaimana memperoleh pengetahuan, hingga apa nilai pengetahuan tersebut bagi manusia. Filsafat berupaya untuk menyingkap ketiga pertanyaan ini secara mendasar. Ketiga pertanyaan ini nampaknya sederhana, namun inilah muara dari berbagai pertanyaan filosofis yang dicari jawabannya di sepanjang sejarah pemikiran dan peradaban manusia. Ketiga aspek ini kerap disebut ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Secara lebih detail, bisa dilihat dari penjelasan ini. Ontologi membahas apa yang ingin diketahui, seberapa jauh manusia ingin tahu serta kajian mengenai keberadaan dari sesuatu.
Selanjutnya, epistemologi membahas bagaimana cara kita mendapatkan pengetahuan mengenai sesuatu. Epistemologi juga mencakup logika serta proses bagaimana mendapatkan pengetahuan. Logika terkait upaya atau prosedur untuk mendapatkan kebenaran dengan cara menautkan sejumlah premis hingga diperoleh sebuah kesimpulan. Sedangkan aksiologi adalah teori tentang nilai, atau bagaimana memberikan penilaian terhadap sebuah pengetahuan. Aksiologi mencakup dua unsur yaitu etis dan estetis. Etis mencakup kategori baik dan buruk, benar dan tidak benar, yang selalu bersifat kontekstual dan berubah sesuai dengan setting sosial. Sedangkan estetika terkait konsep indah dan tidak indah.(*)

Comments
1 Comments

1 komentar:

darwin said...

Dikarenakan manusia hanya bisa menggapai aspek permukaan dari pengetahuan, manusia tak pernah bisa menggapai pengetahuan sejati. Pengetahuan selalu bersifat sementara dan akan selalu direvisi seiring dengan perkembangan perjalanan pemikiran manusia.

Pikir saya pernyataan seperti ini hanya benar jika tilikannya dalam koridor pengetahuan yang bersifat korespondensi (hushuli), tapi tentu akan beresiko sekiranya kita mengacu pada pengetahuan2 yang hadir dalam diri (hudhuri), seperti rasa sakit, ragu, dan semacamnya. Dalam skala yang lebih luas maka pengetahuan-pengetahuan yang bersifat irfani/mistikal/intusisi akan tertolak dengan sendirinya. Dengan demikian akan menggerus khazanah sumber pengetahuan manusia (cacat epeistemologi),, meskipun diakui pada tahapan sekunder dalam bentuk pengungkapan akan terpulang lagi maka kekuatan tindak penafsiran (hermeneutika.

Diatas segalanya disamping kenisbian kita dalam menyerap pengetahuan, justru didalam jiwa kita ada pengetahuan2 yang sifatnya niscaya terlepas dari derajat-derajat dan keluasan pengetahuan manusia yang memang berbeda.
Mungkin disinilah awal dari adagium bahwa dalam ketunggalan ada multiplisitas dan dari keragaman kita bisa menangkap ketunggalan.

Post a Comment

Terpopuler Bulan Ini

...

...