Saat Qahhar Mudzakkar di Pulau Wawonii

ORANG Buton tak pernah percaya Qahhar Mudzakkar tewas ditembak oleh pasukan Jenderal Jusuf. Qahhar tak hanya menjadi simbol perjuangan religius, namun juga menjadi simbol kedigdayaan serta kesaktian yang namanya disebut banyak kalangan hingga ke Tanah Buton.

Awal tahun 1960-an, Qahhar mendeklarasikan bahwa dirinya dan seluruh pasukannya yang berada di Sulsawesi Selatan resmi bergabung dengan Negara Islam Indonesia (NII) yang dipimpin Kartosuwiryo di Jawa Barat. Qahhar menggabungkan dirinya dengan mereka yang sebelumnya telah meneriakkan berdirinya negara Islam di Indonesia. Di antara mereka adalah Tengku Daud Beureuh (Aceh), Kartosuwiryo (Jabar) hingga Ibnu Hajar (Kalimantan).

Sebagaimana dicatat oleh sejarawan Anhar Gonggong, pasukan Qahhar dan pasukan lainnya menebar teror serta ancaman bagi pemerintah hingga berbagai operasi dilancarkan untuk menumpasnya. Pasukan atau laskar yang dikomandani Qahhar sendiri menyebar ke segala penjuru Sulawesi demi menjalankan taktik perang gerilya. Tak hanya Sulawesi Selatan, mereka juga merambah hingga beberapa tempat di Sulawesi Tenggara, mulai dari Lasusua (Kolaka Utara), Lasolo, hingga Kendari. Mengapa Qahhar tidak menjelajah hingga ke Buton? Padahal sejarah banyak mencatat bahwa sejak dulu orang Buton sudah menjadi penganut Islam yang taat. Sejak dulu, ribuan masjid telah bertebaran di Tanah Buton sebagai pertanda bahwa Islam telah mendarahdaging di Buton. Mengapa ia tak menyebarkan keyakinannya tentang negara Islam di Buton?

Saya sempat menanyakan itu. Seorang informan di Buton menceritakan kalau Qahhar sudah punya rencana itu. Pergerakan pasukan Qahhar sudah mencapai Pulau Wawonii dan sedikit lagi akan menggapai Buton. Berita kedatangan pasukan itu sudah berkumandang ke seantero negeri hingga menimbulkan ketakutan di kalangan rakyat. Mereka takut karena di banyak tempat, beredar info bahwa pasukan Qahhar akan memenggal siapa saja yang menolak syariat Islam. Pasukan Qahhar tak hanya menyebarkan Islam, mereka juga menebar teror dan membumihanguskan berbagai praktik atau tradisi di masyarakat yang dinilai sangat jauh dari syariat Islam. Berita akan segera datangnya Qahhar menimbulkan kepanikan di kalangan rakyat, hingga Sultan Buton ikut turun tangan.

Sultan lalu memanggil salah seorang dari empat penasihat spiritualnya yang kerap disebut Bisa Patamiana. Ia menyuruhnya agar bersemadi dan mencari jawab ke langit sejauh mana kekuatan pasukan Qahhar. Sang Bisa lalu bertafakur di dalam rumahnya. Menurut cerita, ia mengunci diri dalam kelambu di satu kamar selama berhari-hari dan hanya makan nasi putih serta telur ayam. Setelah lama bertafakur dan bersemadi, Bisa tersebut akhirnya keluar kamar dan menuntaskan semadi.

Ia mengatakan bahwa pasukan itu sangat kuat dan bakal menghancurkan bala tentara Buton. Ia mengatakan, pasukan itu dipimpin seorang sakti bernama Qahhar yang memiliki banyak ajimat serta kesaktian. Dalam semadinya, ia lalu adu kesaktian dan saling melancarkan serangan jarak jauh. Dikarenakan lawannya yang sangat sakti, sang bisa lalu mengeluarkan jurus pamungkasnya yaitu timbe malalanda. Kata timbe bermakna tebas, sedangkan malalanda bermakna kegelapan. Secara harfiah, timbe malalanda bermakna menebas dalam kegelapan. Dalam kasanah kanuragan di Buton, timbe malalanda adalah sejenis santet yang paling sakti. Seseorang bisa melancarkan serangan dari jarak jauh dan sanggup menewaskan sasaran. Ilmu ini termasuk jenis santet yang tinggi tingkatannya dan hanya bisa dikuasai mereka yang sudah lama malang-melintang di dunia kanuragan dan mereka yang sudah lama mengasah dirinya.

Saat itu, sang bisa tercengang sebab tak satupun timbe yang menebus tubuh Qahhar. Kesaktian Qahhar menyebabkan tubuhnya kebal dari berbagai serangan. Menurut terawang mistis dari sang bisa, tubuh itu dipenuhi dengan berbagai mantra berupa tulisan Al Quran. Inilah kunci kesaktian Qahhar. Meski demikian, bisa tersebut tidak kehilangan akal. Ia lalu mengirimkan santet pada seluruh kuda tunggangan pasukan Qahhar sehingga kakinya sakit dan tak sanggup melanjutkan perjalanan ke Buton. Akhirnya pasukan itu hanya terhenti di Buton Utara.

Kisah ini tersebar di memori kolektif banyak orang di Buton. Hingga beberapa tahun berikutnya, tersebar berita bahwa Qahhar tertembak dalam satu operasi militer yang diadakan Kodam Hasanuddin. Tak satupun orang Buton yang percaya berita tersebut. “Masak mau mati karena peluru. Sedangkan timbe malalanda saja dia kebal. Apalagi kalau cuma peluru,” kata sejumlah orang.(*)
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...