Mereka yang Takut pada Buku
Ada kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali sebuah buku dianggap kontroversial: orang lebih dahulu marah sebelum membaca. Sampul dilihat, judul dibaca, lalu vonis dijatuhkan. Isi buku menjadi urusan belakangan.
Saya teringat kebiasaan itu ketika membaca Memburu Muhammad, kumpulan cerpen Feby Indirani. Judulnya memang provokatif. Tetapi justru di situlah sastra bekerja: mengusik rasa ingin tahu, memainkan ironi, dan mengajak pembaca masuk lebih jauh daripada sekadar sampul.
Dalam salah satu ceritanya, Abu Jahal bangkit kembali dan hadir di zaman kita. Ia mencari Muhammad yang pernah dikenalnya. Ia menemukan begitu banyak orang bernama Muhammad, tetapi tidak menemukan sosok seperti Muhammad yang ada dalam ingatannya. Cerita itu tentu dapat dibaca dan diperdebatkan dari berbagai sudut. Bukankah memang begitu cara sastra hidup?
Masalahnya muncul ketika orang tidak lagi memberi kesempatan kepada buku untuk menjelaskan dirinya sendiri. Dua kata pada sampul sudah dianggap cukup untuk menyimpulkan ratusan halaman di dalamnya. Judul menggantikan isi. Kecurigaan menggantikan pembacaan. Emosi mendahului nalar.
Padahal membaca bukan berarti menyetujui. Kita boleh selesai membaca sebuah buku lalu marah kepadanya. Kita boleh menganggap gagasannya buruk, tafsirnya keliru, bahkan isinya menyinggung sesuatu yang kita muliakan. Namun, setidaknya kita tahu apa yang sedang kita kritik.
Jika sebuah buku buruk, kritiklah. Jika argumennya lemah, patahkan. Jika tafsirnya dianggap keliru, hadirkan tafsir tandingan. Buku seharusnya dilawan dengan buku, gagasan dengan gagasan.
Ada pula ironi yang selalu mengikuti pelarangan buku. Semakin keras orang berteriak agar sebuah buku tidak dibaca, semakin banyak orang bertanya: Memangnya apa isi buku itu? Buku yang sebelumnya beredar di lingkungan terbatas tiba-tiba dicari banyak orang. Larangan akhirnya menjadi iklan gratis.
Barangkali karena buku memang mempunyai kekuatan yang aneh. Ia tidak berteriak. Ia hanya tergeletak diam di meja. Tetapi ketika seseorang membukanya, sesuatu dapat terjadi di kepalanya: ia bertanya, meragukan, membandingkan, bahkan mengubah pikirannya.
Itulah sebabnya saya lebih khawatir pada masyarakat yang berhenti membaca daripada masyarakat yang mempunyai buku-buku kontroversial.
Jangan takut pada buku. Bacalah. Setelah itu, kita boleh berdebat sepanjang malam.
