Ketika Buton Masuk Buku Sejarah Nasional



Di senja yang teduh, saya membaca Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global, Jilid IV—Interaksi Awal dengan Barat: Kompetisi dan Aliansi. Tetiba, tersentak saat menemukan satu nama yang sangat familiar: Buton.

Awalnya saya menduga Buton hanya akan disebut sepintas. Mungkin sebagai salah satu kesultanan di kawasan timur Nusantara, atau sekadar persinggahan dalam jalur pelayaran menuju Maluku. 

Namun ketika membuka daftar isi, saya menemukan sesuatu yang lebih menarik. Dalam Bab VII tentang diaspora Nusantara, terdapat satu subbab tersendiri berjudul “Diaspora Buton di Kepulauan Kei”, dimulai pada halaman 542. Pada bagian lain dalam bab yang sama bahkan muncul pembahasan “Diaspora Blambangan-Banyuwangi (Mandar-Buton)”. 

Saya pun berhenti cukup lama pada bagian itu. Sebab masuknya nama Buton dalam buku sejarah nasional terbaru bukan sekadar perkara sebuah daerah akhirnya disebut dalam buku tebal tentang Indonesia. 

Yang lebih menarik adalah bagaimana Buton ditempatkan di dalamnya. Buton hadir melalui cerita mengenai laut, diaspora, pergulatan melawan VOC, dan manusia-manusia yang berlayar jauh dari tanah kelahirannya kemudian membangun kehidupan baru di pulau lain.

Temuan kecil itu membuat saya melihat buku ini dari sudut berbeda.

Sejak rencana penulisannya diumumkan, proyek sejarah nasional ini justru lebih dahulu dikenal publik melalui kontroversi. Muncul kekhawatiran bahwa pemerintah hendak menulis ulang sejarah sesuai kepentingan kekuasaan. 

Perdebatan paling keras terutama berkaitan dengan bagaimana periode Orde Baru, pelanggaran HAM, serta sejumlah episode sensitif dalam sejarah politik Indonesia akan diceritakan.

Kritik itu tentu sah dan penting. Sejarah, terlebih sejarah nasional yang disusun dengan dukungan negara, memang harus selalu terbuka untuk diperdebatkan. Namun besarnya kontroversi mengenai periode Orde Baru membuat publik kadang lupa bahwa proyek ini sebenarnya jauh lebih luas daripada satu periode kekuasaan.

Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global dirancang dalam 11 jilid, membentangkan perjalanan panjang sejak masa prasejarah, perjumpaan Nusantara dengan berbagai peradaban dunia, perkembangan kerajaan-kerajaan, interaksi dengan kekuatan Barat, kolonialisme, pergerakan nasional, hingga Indonesia kontemporer. 

Pengerjaannya melibatkan 123 pakar dari 34 perguruan tinggi dan 11 lembaga nonperguruan tinggi, dengan latar keilmuan yang beragam, mulai dari sejarah, arkeologi, filologi hingga bidang-bidang lain yang berhubungan dengan masa lalu Indonesia.

Di tengah bentangan sejarah yang sedemikian panjang itulah saya menemukan Buton.

Dari Buton yang Terabaikan

Kehadiran Buton dalam buku ini juga sulit dilepaskan dari nama Prof. Susanto Zuhdi, sejarawan Universitas Indonesia yang menjadi salah satu figur sentral dalam proyek penulisan sejarah nasional terbaru ini. Ia berada dalam jajaran editor umum dan sebelumnya juga disebut sebagai ketua tim penulisan.

Bagi siapa pun yang mengikuti penulisan sejarah Buton, nama Susanto Zuhdi tentu tidak asing. Selama bertahun-tahun ia melakukan penelitian mengenai Buton dan menghasilkan sejumlah karya yang membuat sejarah kesultanan ini semakin dikenal dalam historiografi Indonesia. 

Salah satu karya pentingnya adalah Labu Rope Labu Wana: Sejarah Buton yang Terabaikan, yang mengangkat dinamika Buton ketika menghadapi kekuatan-kekuatan besar seperti Gowa, Ternate, dan VOC.

Judul “Sejarah Buton yang Terabaikan” terasa memperoleh makna baru ketika membaca buku sejarah nasional terbaru ini. Seorang sejarawan yang selama bertahun-tahun menggali Buton kini berada dalam lingkar utama proyek penulisan sejarah Indonesia, dan dalam salah satu jilidnya Buton memperoleh pembahasan tersendiri.

Tentu terlalu berlebihan jika mengatakan bahwa masuknya Buton semata-mata karena Susanto Zuhdi. Buku ini merupakan kerja kolektif ratusan akademisi. Namun kehadiran seorang ahli yang mempunyai rekam riset panjang mengenai Buton tentu penting. 

Sejarah daerah hanya dapat masuk dengan kuat ke dalam narasi nasional apabila tersedia penelitian, arsip, dan karya akademik yang memungkinkan kisahnya diletakkan dalam konteks yang lebih besar. Dan salah satu konteks besar itu adalah diaspora.

Sebuah Kampung Bernama Buton

Buku ini membawa pembaca menuju Kepulauan Kei di Maluku Tenggara. Di sana orang-orang Buton tidak hanya datang sebagai pelaut yang singgah untuk berdagang kemudian kembali. Sebagian menetap, menikah dengan penduduk setempat, membangun keluarga, dan perlahan menjadi bagian dari masyarakat Kei.

Dari proses panjang itulah muncul istilah ohoiwutun. Kata ohoi berarti kampung, sedangkan wutun merujuk kepada Buton. Istilah itu menggambarkan kampung yang terbentuk dari keberadaan orang-orang Buton yang kemudian beradaptasi dengan masyarakat setempat. Jejak mereka ditemukan di sejumlah tempat seperti Rumadian, Debut, Namar, Danar, Ngilngof, dan Ohoililir.

Nama ohoiwutun memperlihatkan bagaimana diaspora bekerja dalam rentang waktu panjang. Sebuah komunitas meninggalkan tanah asal, menyeberangi laut, kemudian berakar begitu dalam di tempat baru sehingga asal-usulnya tersimpan dalam nama kampung dan ingatan masyarakat. Generasi boleh berganti, tetapi memori mengenai Buton tidak sepenuhnya hilang.

Buku tersebut mencatat tradisi lisan mengenai setidaknya dua gelombang besar diaspora Buton. Salah satu kisah bermula dari dua orang bernama La Raja dan La Nong, yang disebut meninggalkan Buton akibat perebutan kekuasaan di lingkungan Kesultanan Buton. Mereka berlayar menuju timur Nusantara hingga akhirnya mendarat di Ohoiraut, Kei Besar.

Di tempat baru itulah kehidupan mereka berlanjut. Keduanya menikah dengan masyarakat setempat dan mempunyai keturunan, sementara generasi berikutnya kemudian menyebar ke berbagai tempat. 

Cerita tersebut menunjukkan bahwa alasan orang meninggalkan Buton tidak selalu berkaitan dengan perdagangan. Politik, perebutan kekuasaan, peperangan, dan ketidakstabilan juga dapat mendorong manusia meninggalkan tanah kelahirannya.

Kisah itu sekaligus membuat diaspora terasa lebih manusiawi. Di balik istilah besar seperti migrasi dan mobilitas maritim selalu terdapat orang-orang yang harus memilih antara bertahan atau pergi. Mereka dapat meninggalkan tanah kelahiran untuk selamanya, tetapi membawa serta ingatan tentang tempat asal untuk diwariskan kepada anak dan cucunya.

Siontapina yang Tetap Diingat

Versi lain mengenai diaspora membawa pembaca kepada tiga leluhur suku Kalende yang disebut berasal dari kawasan sekitar Gunung Siontapina. Mereka bernama Deteno Katape, Baluwu, dan Peropa, yang kemudian meninggalkan Buton dan berlayar menuju Maluku.

Menariknya, ingatan mengenai Siontapina tetap hidup di antara keturunan mereka. Manusia dapat berpindah sangat jauh dan generasi berikutnya dapat lahir di tempat lain, tetapi nama sebuah gunung, kampung, atau pulau tetap dapat bertahan sebagai penanda asal-usul.

Gunung Siontapina sendiri membawa pembaca kepada salah seorang tokoh penting dalam sejarah perlawanan Buton terhadap VOC, yakni Sultan Himayatuddin Muhammad Saydi, yang juga dikenal sebagai La Karambau. 

Ia merupakan Sultan Buton ke-20 dan ke-23 karena memerintah dalam dua periode. Dalam sejarah Buton, ia kemudian dikenal dengan gelar Oputa Yi Koo, yang berkaitan dengan perjuangannya melawan Kompeni dari kawasan hutan.

Dari sinilah cerita diaspora mulai bertaut dengan cerita peperangan.

Sebuah Kapal di Perairan Baubau

Pada Juli 1752, sebuah kapal VOC bernama Rust en Werk mengalami perompakan di perairan Baubau. Peristiwa tersebut kemudian menjadi bagian dari ketegangan yang semakin keras antara Kesultanan Buton dan Kompeni.

Berdasarkan hubungan kontraktual dengan VOC, Sultan Himayatuddin semestinya membantu Kompeni menghadapi perompakan tersebut. Namun buku ini mencatat bahwa posisi sang sultan justru berada di pihak perompak yang disebut bernama Franzs-Franzs, seorang petualang keturunan Eropa. 

VOC memberikan peringatan kepada La Karambau, tetapi peringatan tersebut tidak diindahkan sehingga hubungan kedua pihak bergerak menuju konfrontasi terbuka.

Kisah Rust en Werk membawa kita melihat Baubau pada pertengahan abad ke-18 dari perspektif berbeda. Perairannya bukan laut kosong di sebuah sudut Nusantara, melainkan bagian dari ruang maritim tempat kapal-kapal bergerak, perdagangan berlangsung, kepentingan politik bertemu, dan Kesultanan Buton berhadapan dengan salah satu kekuatan dagang dan militer terbesar pada zamannya.

Ketegangan itu akhirnya meledak pada 24 Februari 1755, ketika pasukan Kompeni menyerang pusat pertahanan Kesultanan Buton dalam operasi yang dipimpin Kapten Reijsweber dengan sekitar 140 prajurit. Pertempuran berlangsung keras. Seorang sapati atau perdana menteri, seorang kapitalau atau kapiten laut, serta ratusan pasukan Kesultanan disebut menjadi korban.

Sultan Himayatuddin berhasil menyelamatkan diri dan meneruskan perlawanan dari luar pusat kekuasaan. Kawasan hutan menjadi ruang perjuangan baru. Dari perjalanan perlawanan itulah gelar Oputa Yi Koo, yang bermakna tuanku yang bergerilya di hutan, memperoleh konteks historisnya.

Ketika Perang Membawa Manusia Pergi

Pada titik inilah dua cerita yang semula tampak terpisah bertemu. Perlawanan Kesultanan Buton terhadap Kompeni ternyata berhubungan dengan kisah perpindahan manusia dari Buton menuju Kepulauan Kei.

Orang-orang Buton yang bergerak menuju Kei tidak seluruhnya dapat dibayangkan sebagai pedagang atau pelaut yang sedang mencari kesempatan ekonomi. Buku tersebut mengaitkan sebagian leluhur komunitas Buton di sana dengan bekas prajurit dan keluarga mereka yang terpaksa mengungsi setelah peperangan.

Dengan demikian, sebagian diaspora Buton kemungkinan lahir dari pergolakan politik, perang, dan kebutuhan menyelamatkan diri. Mereka meninggalkan kawasan sekitar Siontapina, menyeberangi laut, kemudian tiba di Kei dan membangun kehidupan baru.

Setelah itu sejarah berjalan selama beberapa generasi. Para pengungsi menjadi pendatang, para pendatang membangun rumah dan menikah dengan masyarakat lokal, kemudian anak-anak mereka tumbuh sebagai bagian dari masyarakat Kei. Namun dalam proses adaptasi yang panjang tersebut, ingatan tentang Buton tetap bertahan.

Dalam konteks inilah istilah ohoiwutun memperoleh makna lebih dalam. Ia bukan sekadar nama komunitas, melainkan jejak perjalanan panjang yang melibatkan peperangan, pelayaran, migrasi, perkawinan, adaptasi, dan kemampuan manusia membangun kehidupan baru setelah meninggalkan tanah asalnya.

Buton Bukan Pulau yang Terpencil

Ada kecenderungan melihat Buton sebagai pulau yang berada di pinggir peta Indonesia. Perspektif semacam itu mudah muncul apabila sejarah Indonesia selalu dilihat dari daratan dan pusat-pusat kekuasaan besar. Namun petanya segera berubah ketika Indonesia dilihat dari laut.

Dalam perspektif maritim, Buton berada di ruang yang menghubungkan Sulawesi, Maluku, dan kawasan timur Nusantara. Kapal-kapal melintas melalui perairannya, pedagang bergerak dari satu pulau ke pulau lain, VOC mempunyai kepentingan terhadap wilayah tersebut, sedangkan Kesultanan Buton membangun diplomasi, membuat perjanjian, berkonflik, dan melakukan perlawanan.

Bahkan sebelum pembahasan khusus mengenai diaspora Buton dimulai, buku ini telah menyebut Buton dalam kisah perjalanan Pangeran Wilis dari Blambangan. Setelah melarikan diri dari Banda menuju Seram, ia meneruskan perjalanan melalui Buton sebelum menuju Sasak dan Bali. Detail kecil tersebut memperlihatkan bahwa Buton bukan ujung perjalanan, melainkan salah satu simpul dalam jaringan pergerakan manusia antarpulau di Nusantara.

Di sinilah kehadiran Buton dalam buku sejarah nasional terbaru memperoleh arti yang lebih besar. Beberapa halaman mengenai diaspora tentu belum cukup untuk mewakili sejarah Kesultanan Buton yang panjang dan kompleks. 

Namun keputusan menempatkan “Diaspora Buton di Kepulauan Kei” sebagai pembahasan tersendiri memperlihatkan bahwa Buton mulai dibaca sebagai bagian dari proses besar pembentukan masyarakat Nusantara. 

Ada semacam perjalanan panjang historiografi di sini. Buton yang dahulu disebut Susanto Zuhdi sebagai bagian dari sejarah yang terabaikan, kini hadir dalam proyek besar penulisan sejarah Indonesia. 

Ia tidak hadir semata-mata sebagai nama sebuah kerajaan, tetapi melalui manusia-manusia yang berlayar, peperangan yang mereka alami, perlawanan terhadap kekuatan kolonial, serta diaspora yang membawa identitas Buton hingga jauh ke Kepulauan Kei.

Kontroversi mengenai penulisan Orde Baru dan periode sensitif lainnya tetap perlu dibicarakan dan dikritisi. Buku sejarah, terlebih yang lahir melalui proyek negara, memang tidak boleh kebal dari kritik. 

Namun sebelas jilid proyek sejarah Indonesia ini juga selayaknya dibaca lebih luas daripada kontroversi mengenai satu periode. Di dalamnya terdapat usaha ratusan akademisi untuk merangkai perjalanan panjang masyarakat Nusantara sejak masa paling awal hingga Indonesia modern.

Bagi saya, menemukan nama Buton di tengah ribuan halaman proyek tersebut adalah pengingat kecil mengenai sesuatu yang lebih besar. Sejarah Indonesia tidak hanya dibentuk oleh kerajaan besar, peperangan besar, atau tokoh-tokoh yang selama puluhan tahun memenuhi buku pelajaran. 

Negeri kepulauan ini juga dibentuk oleh manusia yang berpindah dari satu pulau ke pulau lain, membawa bahasa, pengetahuan, kebiasaan, ingatan, bahkan luka peperangan, lalu berjumpa dengan masyarakat lain dan membangun dunia baru bersama mereka.

Berabad-abad kemudian, salah satu jejak perjalanan itu masih tersimpan di Kepulauan Kei dalam sebuah nama: ohoiwutun. Kini jejak yang sama mendapatkan tempat dalam buku sejarah nasional terbaru.

Jika Indonesia hanya dilihat dari daratan, Buton mungkin tampak sebagai sebuah pulau kecil di kejauhan. Namun ketika sejarah Indonesia dilihat dari laut, Buton terlihat sebagai salah satu simpul dalam arus panjang yang membentuk Nusantara.