Jumpa La Angko


Di satu kompleks perumahan, di dekat lapangan golf di Cimanggis Bogor, saya jumpa La Angko, demikian dia disapa di kampung kami di Baubau. Rumah kami saling membelakangi, terpaut sekitar 4 atau 5 rumah.

Bapaknya Ryha Madi adalah pendidik, yang kemudian menjadi politisi kawakan di Sultra. Karena rumah kami deketan, saya punya banyak memori masa kecil di rumahnya. Waktu itu saya sering bermain di dekat sumur belakang rumahnya. Malah sering masuk rumahnya.

Makanya, saya mengenal baik semua saudaranya. Mulai dari Zainal Ryha, Lutfi, Hasina, dan Ama. Bahkan saya masih ingat La Didi, salah satu saudaranya yang meninggal sewaktu kami masih kecil. Mereka keluarga yang terdidik. Semua pintar-pintar.

La Angko menjalani SD sampai SMP di Baubau, tepatnya di Madrasah Tsanawiyah. Sejak kecil, dia sudah cerdas, sebagaimana saudaranya yang lain. Amat wajar kalau setelah lulus Tsanawiyah, dia mendapat beasiswa untuk lanjut ke Makassar. 

Karena otaknya encer, dia lulus beasiswa ke Mesir, namun tidak diambilnya. Dia memilih ke Tunisia, sebuah negara yang terletak di Afrika Utara, namun penduduknya dari Arab, sebagaimana halnya Maroko dan Aljazair.

Bertahun-tahun dia tinggal di Tunisia. Dia sekolah hingga lulus di sana. Setelah itu bekerja di KBRI Indonesia, bahkan sempat dia menjadi Atase Ekonomi di KBRI Tunisia. Dia menguasai bahasa Inggris, Arab, dan Perancis. 

Dua tahun silam, dia menerima ajakan untuk menjadi Kepala International Office di kampus Universitas Islam Internasional Indonesia, kampus besar yang dibangun pemerintah melalui Proyek Strategis Nasional. Lokasinya di Cimanggis, Depok. Dia mengaku punya idealisme yang sama dengan kampus ini, yakni melahirkan banyak intelektual Muslim terpandang di dunia.

Karena puluhan tahun tidak bertemu, kami lebih banyak membahas memori kecil. Saya pun diajak makan opor di rumahnya yang asri. Di situ, dia tinggal bersama istri, dan Lao, anaknya semata wayang.

Dia mengaku hari-harinya penuh kesibukan di kampus. Makanya, dia kaget dan nyaris tak percaya, ketika saya sampaikan kalau saya setiap hari nganggur di rumah. Lebih kaget lagi pas tahu kalau saya seorang penyayang kucing. 

Sembari ngopi bareng, saya memberi hadiah buku saya berjudul Kopi Sumatera di Amerika, yang terbit 10 tahun silam. Setelah berbual di warkop, dia mengajak saya keliling perumahan di sekitar lapangan golf Cimanggis. Harga rumah di situ sudah mencapai angka 5 miliar. Hah?

Saya tiba-tiba teringat satu adegan dalam drama cina, tentang anak muda yang tiba-tiba saja mendapat kekuatan mata dewa dan bisa mengenali giok berharga miliaran. Ah, andai saja.

Tapi sekarang, saya tak berharap kekuatan mata dewa. Saya berharap jadi CEO dan pemilik MBG. Biar bisa joged2 setiap hari.