Jejak Orang Buton di Tanah Rantau Kalimantan Timur


Mereka berangkat diam-diam, sebelum subuh benar-benar pecah. Dua perahu kayu terlepas dari desa-desa di wilayah Sampolawa, membawa ratusan orang yang duduk rapat tanpa banyak bicara. 

Ombak pelan, tapi wajah-wajah mereka tegang. Di sudut perahu, seorang ibu memeluk anaknya yang demam. Di sisi lain, seorang lelaki tua hanya menatap laut, seolah tahu perjalanan ini tidak akan selesai untuk semua orang.

Bekal mereka sederhana: jagung sangrai dan singkong padat. Tidak ada peta. Tidak ada kepastian. Hanya kabar samar tentang Samarinda, tempat yang katanya memberi hidup baru.

La Songke masih remaja saat itu. Ia ikut dalam pelayaran itu. Ada yang sakit. Ada yang meninggal. Laut menjadi saksi sekaligus batas antara hidup lama dan hidup yang belum pasti.

Apa yang dialami La Songke bukan kisah tunggal. Ia bagian dari arus panjang orang Buton, masyarakat yang sejak lama hidup dalam pergerakan. 

Dalam buku Sejarah dan Budaya Buton dalam Diaspora Nusantara yang diedit Asrun Lio dkk, kisah-kisah semacam ini muncul berulang: orang-orang yang meninggalkan tanah asal, bukan hanya karena tradisi merantau, tetapi karena tekanan hidup yang nyata. 

Sejarawan Belanda Bernard H.M. Vlekke, dalam Nusantara: A History of Indonesia, melihat dunia kepulauan ini sebagai ruang yang terus bergerak—manusia, barang, dan harapan berpindah mengikuti angin musim. 

Dalam arus itu, orang Buton adalah bagian aktif dari jaringan maritim yang telah lama menghubungkan berbagai wilayah.

Namun mobilitas itu bukan semata pilihan romantik. Antropolog Pim Schoorl mencatat bahwa keterbatasan ekonomi dan tekanan lingkungan di Buton mendorong penduduknya keluar. Migrasi, dalam pengamatannya, adalah strategi bertahan, cara untuk keluar dari ruang yang sempit menuju kemungkinan yang lebih luas.

Itulah yang dilakukan La Songke dan ratusan orang lainnya.

Ketika mereka tiba di Samarinda, tidak ada yang menunggu mereka. Kota itu tidak ramah, tapi juga tidak menolak. Ia hanya diam, memaksa siapa pun yang datang untuk bertahan.

La Songke hidup di pinggiran kota. Ia bekerja apa saja: menarik becak, memikul air, membantu di pasar. Air diangkut dengan jeriken besar, dipikul dari satu titik ke rumah-rumah warga. Jaraknya tidak dekat. Upahnya tidak besar. Tapi itu cukup untuk bertahan.

Di malam hari, mereka berkumpul. Rumah-rumah kecil menjadi ruang berbagi cerita, tentang kampung, tentang laut, tentang masa depan yang belum jelas.

Stigma datang pelan-pelan. Orang Buton dianggap rendah, tidak berpendidikan, bahkan “tidak bersih”. Anak-anak mereka tumbuh dengan ejekan. Namun di tengah itu, ada satu hal yang tidak mereka lepaskan: solidaritas.

Perjalanan orang Buton ke Kalimantan Timur tidak terjadi dalam satu waktu. Ia datang dalam gelombang-gelombang panjang, masing-masing membawa latar belakang, motivasi, dan karakter yang berbeda.

Gelombang pertama terjadi jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Mereka adalah para pelaut dan pedagang yang berlayar mengikuti jalur niaga Nusantara. 

Dalam lintasan itu, sebagian dari mereka tidak kembali. Mereka singgah di pesisir Kalimantan Timur, tepatnya di Berau, di sekitar Balikpapan, dan mulai membangun kehidupan baru. Mereka hadir sebagai bagian dari ekonomi pesisir: pengangkut barang, pedagang kecil, dan penghubung antar pulau.

Gelombang kedua muncul pada akhir 1950-an hingga awal 1960-an, ketika situasi keamanan di Sulawesi Tenggara terganggu oleh konflik Darul Islam. Pada fase ini, migrasi tidak lagi murni ekonomi. Ia juga menjadi pelarian dari ketidakpastian. 

Orang Buton datang ke Kalimantan Timur untuk mencari rasa aman, sekaligus membuka peluang hidup baru.

Gelombang ketiga adalah yang paling besar dan paling menentukan, terjadi pada awal 1970-an. Inilah gelombang La Songke. Mereka berasal dari daerah yang menghadapi tekanan berlapis: wabah penyakit, krisis air, minimnya pendidikan, hingga tekanan aparat. Mereka berangkat dalam jumlah besar. Ini bukan lagi migrasi individu, melainkan perpindahan komunitas.

Di Samarinda, mereka membentuk kantong-kantong permukiman. Ikatan sosial menjadi kuat, karena mereka datang bersama dan bertahan bersama. Di sinilah terbentuk fondasi komunitas Buton yang kita lihat hari ini.

Sebagaimana dicatat Prof. Susanto Zuhdi, pola ini menunjukkan bahwa diaspora Buton selalu berada di antara dua dorongan: tradisi maritim dan tekanan struktural. Mereka bergerak bukan hanya karena terbiasa bergerak, tetapi karena mereka harus bergerak.

Perubahan mulai terlihat ketika generasi berikutnya masuk ke dunia pendidikan.

Pada akhir 1970-an, beberapa orang Buton mulai bekerja di sektor formal. Dari situ, pintu baru terbuka. La Hasan adalah salah satu yang mengambil peluang itu. Ia bekerja sambil kuliah. Ketika wisuda, ia berjalan mengenakan toga di kampungnya, sebuah pesan bahwa masa depan bisa diubah.

Dan perubahan itu benar-benar terjadi.

Anak-anak pemikul air menjadi sarjana. Anak-anak buruh menjadi dosen. Dari generasi yang bertahan, lahir generasi yang naik. Namun yang menarik, perubahan ini tidak menghapus identitas.


Hari ini, generasi Buton di Samarinda dan Balikpapan hidup dalam dua dunia sekaligus. Mereka modern, terdidik, dan aktif dalam berbagai organisasi. Tapi di saat yang sama, mereka tetap menjaga adat: perkawinan dengan ritual Buton, tarian tradisional, hingga praktik keagamaan yang diwariskan dari leluhur.

Identitas itu tidak lagi dijaga hanya di ruang domestik, tetapi juga di ruang publik, komunitas, organisasi, bahkan media digital. Mereka membangun cara baru untuk menjadi Buton di tanah rantau.

Persepsi masyarakat lokal pun berubah. Jika dulu mereka dipandang sebagai kelompok pinggiran, kini mereka dikenal sebagai komunitas pekerja keras, solid, dan relatif tidak konflik.

Perubahan ini bukan kebetulan. Ia adalah hasil dari strategi panjang: bekerja, bertahan, menjaga solidaritas, dan membangun reputasi secara perlahan.

Hari ini, orang Buton di Kalimantan Timur hadir di banyak ruang: di kampus, di pasar, di pemerintahan, di dunia usaha. Mereka bukan lagi sekadar pendatang. Mereka bagian dari kota.

Namun jika kembali ke cerita awal, semua itu bermula dari perahu-perahu kecil yang berangkat dalam gelap.

La Songke kini telah tua. Ia telah melihat perubahan itu, dari masa ketika orang Buton dipinggirkan, hingga masa ketika generasi mudanya berbicara dengan percaya diri.

Ia pernah berlayar dengan jagung sangrai sebagai bekal. Kini, anak-anak Buton terbang dengan pesawat menuju kota-kota besar untuk kuliah. Perjalanan itu tidak berhenti. Ia hanya berubah bentuk.

Dari laut ke kota. Dari keterpaksaan menjadi pilihan. Dan mungkin, cara terbaik memahami orang Buton adalah kembali ke laut, ke cara hidup yang sejak lama membentuk mereka. 

Antropolog Belanda Pim Schoorl, dalam kajiannya tentang Buton, menggambarkan bagaimana masyarakat ini sejak dahulu hidup dalam mobilitas, terbiasa berpindah, membaca situasi, dan menyesuaikan diri dengan perubahan.

Seperti perahu layar yang tidak melawan angin, tetapi mengikutinya, lalu mengubah arah menjadi tujuan.

Orang Buton tidak selalu memilih ke mana mereka berangkat. Tetapi mereka selalu tahu bagaimana bertahan di perjalanan. Dan dari situlah, mereka menemukan kehidupan.