Pelajaran Bisnis dari "Mencuri Raden Saleh"



Selama lima tahun menyaksikan film Indonesia, Mencuri Raden Saleh adalah film terbaik yang pernah saya tonton. Film ini sukses membuat saya betah duduk menonton selama 2,5 jam, sukses bikin penasaran, sukses bikin deg-degan, hingga di akhir film tanpa sadar memberikan aplaus panjang.

Ibarat masakan, film ini diracik dengan bumbu yang tepat. Mulai aktor-aktor muda yang mumpuni dan rupawan, seni bercerita (storyteeling) yang terjaga rapi sejak awal hingga akhir, hingga adegan laga yang indah dipandang mata.

Film ini adalah film pertama yang mengusung genre Heist (perampokan) dalam jagad sinema Indonesia. Di mata saya, film ini lebih menarik dari Money Heist versi Spanyol dan Korea, Ocean’s Eleven, serta beberapa film dengan genre perampokan.

Mencuri Raden Saleh yang disutradarai Angga Dwi Sasongko ini bercerita tentang seorang anak muda yang piawai memalsu lukisan para maestro dan menjualnya pada seseorang di Galeri Nasional demi mendapatkan uang untuk pengadilan bapaknya.

Dia punya tim yang lengkap. Ada anak muda yang menjadi hacker komputer dan jago mengunduh data-data lukisan, ada dua mekanik keren yang bercita-cita punya bengkel, perempuan cantik yang jago silat, hingga gadis belia yang lihai dalam menyusun strategi demi strategi.

Mereka bekerja sama untuk satu misi paling berbahaya yakni mencuri satu lukisan paling penting dalam sejarah Indonesia yakni lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro yang dibuat Raden Saleh.

Saya menyenangi tahap demi tahap dalam merencanakan aksi. Kadang mereka bertengkar, setelah itu akur lagi. Mereka menafikan perbedaan demi tujuan bersama.

Mereka memang anak muda yang minim pengalaman. Makanya, mereka terlihat sangat amatiran. Hebatnya, mereka bisa belajar dari pengalaman, menghitung semua peluang dan kesempatan, lalu merencanakan skenario yang apik. Saat terjadi masalah, mereka punya banyak skenario cadangan.

Saya puas menyaksikan bagaimana mereka sempat jatuh dan terpuruk, lalu bangkit kembali dan mengamati ulang semua peristiwa laksana permainan catur yang baru saja berlalu. Mereka menyusun ulang puzzle kejadian, lalu memikirkan berbagai alternatif solusi.

Kekuatan film ini adalah menampilkan anak muda hijau yang tiba-tiba harus berhadapan dengan intrik politisi korup yang menjadikan mereka sebagai umpan dari satu permainan politik. Barisan anak muda ini menolak untuk menjadi pion. Mereka membuat skenario sendiri yang apik dengan hasil akhir mengejutkan.

Bagi saya, film ini bukan sekadar hiburan. Namun ada banyak pelajaran bisnis, manajemen, serta team building. Benar kata seorang profesor bisnis, untuk melihat manajemen yang rapi serta sukses, jangan malu untuk belajar pada komplotan pencuri. Belajarlah pada bajak laut.

Saya ingat buku The Invisible Hook: The Hidden Economic of Pirates yang ditulis Peter Leeson. Menurutnya, manajemen terbaik bisa ditemukan pada komplotan pencuri hingga bajak laut. Mereka semua tahu apa yang menjadi goal (tujuan), lalu punya pembagian kerja yang sangat rapih saat beraksi di lapangan.

Lihat saja para maling yang menyatroni rumah tetangga. Mereka selalu bekerja berkelompok. Ada yang memantau situasi, ada yang memanjat pagar, ada yang siaga dengan kendaraan, dan ada yang mengamankan CCTV. Pembagian kerja adalah jantung dari ilmu manajemen.


Kata Peter Leeson, sejarah perusahaan-perusahaan besar selalu berawal dari organisasi para bajak laut. Lihat saja perusahaan seperti Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), yang serupa bajak laut, sukses menjarah alam Nusantara lalu membuat kota-kota di tanah Nederland tumbuh bak tulip di musim semi.

Lihat pula East Indian Company (EIC) yang menjadi kongsi dagang Inggris dan melebarkan sayap hingga negara-negara dunia ketiga.

Masih kata Peter Leeson, kelebihan organisasi para penyamun ini adalah adanya kesetraaan serta pembagian tugas yang rapih. Kalaupun ada anggapan mereka organisasi barbar, maka itu sejatinya dihembuskan para pemilik modal yang merasa terganggu dengan kehadiran para bajak laut.

Para kapitalis ini masih ingin mempertahankan tatanan lama yakni perbudakan, penindasan pada buruh, serta eksploitasi.

Saat para bajak laut berhimpun, mereka membangun organisasi yang setara (egaliter), tidak rasis, serta bertumpu pada capaian. Kapal para bajak laut adalah tempat paling demokratis dan setara. Seorang Kapten bisa digulingkan kapan saja. Kapten hanya memiliki wewenang total saat pertempuran, di mana setiap keputusannya bisa membawa konsekuensi hidup mati anak buahnya.

Organisasi yang diangun kian sehat karena mereka saling menopang, saling membantu kru yang kesulitan, juga membuat asuransi yang memastikan keluarga akan ditanggung jika terjadi masalah saat melakukan aksi.

Para bajak laut legendaris seperti Blackbeard adalah pebisnis yang hebat, yang mengubah semua peluang menjadi keberhasilan. Mereka menjaga kontinuitas melalui manajemen yang rapi.

Pelajaran penting lainnya dalam film Mencuri Raden Saleh adalah perlunya Contingency plan atau rangkaian tindakan yang perlu diambil jika terjadi peristiwa yang tak terduga. Saat rencana dinilai hampir gagal, tiba-tiba rencana cadangan bekerja.


Piko, satu sosok penting dalam film ini (diperankan dengan apik oleh Iqbaal Ramadhan), menyebut seharusnya Contingency Plan ini selalu ada dalam setiap tahapan tindakan. Dia menyebut peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro karena tidak adanya rencana cadangan. Sang Pangeran datang memenuhi undangan Belanda, lalu ditangkap di hadapan para pendukungnya yang tak bersenjata.

Saya masih memikirkan tema tentang Contingency Plan ini saat melihat televisi di mana di situ ada seorang jenderal bintang dua yang merekonstruksi peristiwa pembunuhan di rumahnya. Skenarionya hampir berhasil, namun berantakan karena dia gagal memprediksi beberapa hal. Ada banyak plot hole yang diabaikannya saat melakukan tindakan. Dia hanya emosi, tanpa menganaliasa situasi dengan dingin.

Rupanya, dia tidak selihai anak muda dalam Mencuri Raden Saleh.

 


4 komentar:

Admin said...

Intinya "contingency plan". Hehe...

Rangga babuju said...

Selalu menarik, membaca tiap bait kata yg dituturkan... Selalu ikut tiap tulisan di Angin Mamiri.... Salam ma ki dr Bima, senior...!!

Anonymous said...

Ahh selalu saja saya merasa berada dalam arema cerita abangku ini

Anonymous said...

keren...

Post a Comment