Bos DUCATI Tidak Paham BUDAYA Kita

 


Media asing melaporkan bos Ducati marah-marah. Insiden dibukanya motor Ducati dianggap sangat memalukan. Katanya, peristiwa itu hanya terjadi 40 tahun lalu di negara dunia ketiga.

Banyak netizen yang murka setinggi langit. Di negara Indonesia yang kian modern dan memimpin negara-negara G20, tindakan membuka barang milik orang lain lalu pamer di medsos itu serupa aib.

Padahal, bos Ducati itu yang harusnya dikiritisi. Harusnya ada fatwa protes kepadanya. Dia seenaknya mengeluarkan komentar yang memojokkan kita semua. Dia tidak paham budaya orang Indonesia. Apa saja?

Pertama, budaya kepo. Kata Ivan Lanin, kepo adalah serapan dari dialek Hokkian atau Min Nan. Kepo bermakna rasa ingin tahu yang berlebihan. 

Warga kita selalu penasaran dengan isi tas orang lain. Masih ingat, beberapa tahun lalu, di Bandara Sukarno Hatta sempat heboh mengenai tas-tas bagasi bandara yang sudah dalam keadaan terbuka, dan sejumlah barang dikabarkan hilang.

Di negeri kita, orang selalu penasaran dengan sesuatu yang ditutupi. Lihat saja tayangan media kita penuh dengan gosip tentang rumah tangga selebritis, gosip mengenai istri gelap politisi, hingga gosip mengenai tokoh yang konon katanya melakukan babi ngepet.

Hanya di negeri ini, soal apakah seseorang sudah pindah agama bisa menjadi diskusi yang alot dan menyita energi berhari-hari. Urusan pindah agama yang semestinya menjadi hak pribadi seseorang bisa jadi bahan perdebatan untuk digoreng-goreng hingga disate-sate.

Politisi kita suka menutupi banyak hal. Bukan hanya bisnis PCR di balik penderitaan rakyat, tapi juga banyak menyembunyikan kekayaan negara. Coba tanya, siapa sih yang bikin maskapai burung itu bangkrut? Gelap.

Kedua, budaya pamer. Seseorang di Lombok yang melakukan unboxing motor Ducati lalu foto-foto dan pamer-pamer di media sosial itu mencerminkan budaya kita. Dia hendak pamer dirinya punya akses ke motor-motor balap. Dia ingin pamer ke netizen. Dia seakan ingin berkata: “Lihat nih, saya bisa pose dengan motor Ducati. Kalian gak bisa, Dasar misqueen.”

Di sekitar kita, budaya pamer di medsos menjadi hobi banyak orang. Setiap hari kita melihat orang-orang pamer lagi di resto-resto mahal, lagi wisata di tempat-tempat berkelas dan premium, serta lagi bersama tokoh penting, mulai dari Erick Thohir hingga Lord Luhut.

Politisi kita juga suka pamer. Pejabat publik dengan santainya tampil di acara komedi seakan lupa kalau banyak warganya yang lagi dilanda banjir. Politisi pamer masuk got di semua kanal media, setelah itu popularitasnya naik dan jadi pemimpin. Bahkan ada pula kepala daerah yang jauh-jauh ngasih masukan ke Papua sana, padahal daerahnya gak bagus-bagus amat.

Pamer adalah bagian dari budaya kita. Mulai dari politisi, pejabat publik, hingga rakyat jelata. Banyak orang yang rela menjadi “pemanjat sosial”, sekadar buat konten. Anda mungkin pernah baca tentang remaja yang beraksi dengan menghentikan truk di jalan raya. Buat apa? Buat pamer dan konten medsos. Dia seakan berkata, “Hey cewek-cewek. Lihat aksi heroik saya. Cowok-cowok lain pada cemen tuh.”

Ketiga, budaya suka melempar masalah. Lihat saja pernyataan yang mewakili Mandalika Gran Prix Association (MGPA). Dia bilang, “Ada pihak yang tidak berkepentingan dan tidak mengerti proses yang sedang berlangsung lalu mengambil gambar dan mem-viralkan dengan isi berita yang tidak sesuai."

Kata-kata “tidak berkepentingan” itu kan ngawur. Lha, orang itu kan punya kepentingan, yakni ingin foto, pamer, dan pansos. Semua orang punya kepentingan. Jika hendak “mensterilkan” harusnya sejak awal dilarang. Batasi siapa saja yang punya akses ke motor-motor itu. Bikin kartu akses yang hanya bisa dijangkau sebagian orang.

Anda bisa bayangkan, seseorang yang setiap harinya naik motor supra fit, itu pun cicilan, tiba-tiba saja lihat motor-motor balap yang harrganya ratusan juta hingga miliaran. Pastilah penasaran dan ingin berpose.


Daripada sibuk menyalahkan pihak tidak berkepentingan, lebih baik mengaku salah, lalu lakukan evaluasi menyeluruh. Sampaikan pesan ke pihak Ducati kalau kesalahan itu telah diidentifikasi dan diperbaiki. Kedepannya hal serupa tidak akan terjadi lagi.

Keempat, budaya bully berjamaah. Saat kasus unboxing itu terungkap, sontak semua netizen yang maha benar melakukan bully dan sorak-sorai di medsos. Langsung trending topic. Kita dengan mudahnya mengolok-olok secara beramai-ramai. Bagusnya sih, tetap tenang. Serahkan kepada otoritas atau pihak berwajib.

Penduduk negeri +62 ini mengira dirinya ramah-ramah dan lucu-lucu, persis syair lagu Trio Kwek Kwek. Banyak yang mengira kita adalah negara yang santun dan berbudaya.

Padahal, riset yang dilakukan Microsoft di bulan Februari 2021, menyebutkan kita adalah negeri yang paling tidak sopan di jagad digital. Kita dengan seenaknya mengumpat, memaki, dan perang kata dengan orang lain. Kita tak terbiasa duduk manis dan bicara sopan di dunia maya.

Gaes…. Bukankah pelakunya itu adalah anak bangsa yang seharusnya diedukasi, diajari, dan dicerahkan?

Tindakan unboxing itu bisa saja dianggap wajar ketika security dan pejabat juga hanya sibuk foto-foto biar viral. Anak bangsa itu hanya meniru kebiasaan para petingginya yang juga suka pamer kerjaan orang lain. Saat dilihatnya ada motor balap yang berdiri gagah, naluri pamer dan foto-foto segera bangkit.

Kelima, budaya melihat bule lebih tinggi. Mungkin karena kelamaan dijajah, kita sering melihat orang bule lebih tinggi. Kita seakan ditakdirkan untuk melayani mereka. Sering kali kita menganggap mereka selalu benar. Padahal tidak seharusnya demikian.

Pernyataan bos Ducati itu mesti dipertanyakan. Pernyataan tentang “negara dunia ketiga”itu seharusnya dikritik keras. Sebab pernyataan itu terdengar rasis dan tidak adil. Seakan-akan ada anggapan kalau negara-negara dunia pertama itu lebih maju dan beradab.

Padahal, bagi yang sering ke luar negeri, semuanya terasa sama saja. Bahkan di negara, yang katanya maju pun, masih saja kita temukan perilaku warganya yang tidak beradab.

Istilah negara dunia pertama dan dunia ketiga telah ketinggalan zaman dan memiliki konotasi negatif. Istilah itu digunakan untuk mendeksripsikan negara-negara di dunia berdasarkan status ekonominya. Negara dunia ketiga menduduki posisi setelah negara dunia pertama dan kedua namun lebih tinggi statusnya ketimbang negara dunia keempat. 

Terminologi negara dunia ketiga digunakan pada Agustus 1952 oleh seorang ahli demografi sekaligus sejarawan ekonomi Prancis, Alfred Sauvy. Dia menjelaskan ketidakberdayaan negara-negara yang kala itu baru saja merdeka, yakni negara-negara kawasan Asia dan Afrika. Negara-negara ini dahulu ikut Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung.

Sekarang, istilah ini jadi tidak relevan. Asia adalah wilayah yang sekarang tengah glowing dan melejit. Banyak negara-negara maju muncul dari Asia. Masa depan adalah milik Asia, yang dahulu identik dengan negara berkembang. Malah Eropa sedikit lagi ibarat nenek tua yang hanya mengenang masa lalu yang gemilang.

So, daripada sibuk memuji-muji bos Ducati dan menyalahkan anak bangsa, lebih baik kita fokus ke balapan di Mandalika. Lebih baik kita menyaksikan bagaimana mata dunia mengarah ke bangsa ini, yang dahulu dunia ketiga, kini telah menyelenggaran event balap motor berkelas dunia.

Lebih baik, kita mengerahkan energi untuk sesuatu yang lebih berkelas.

 


4 komentar:

Unknown said...

Lebih baik positif thinking...

Karim Lahiri said...

Ini mah keren, kaya perspektif 👍

Anonymous said...

membuka barang milik org lain, itu namanya tdk amanah dan memang sangat memalukan, dan bikin org marah. budaya ghibah, budaya tdk amanah sdhb seharusnya dihilangkan dan jangan lagi jadi suqtu kondisi yg dianggap biasa...kasian generasi kita di maaa depan

mpi's stories said...

Mencerahkan sekali Mas Yusran. Saya juga jengkel sama orang-orang yang bully berjamaah😅 sampai viral. Padahal, mereka seperti sedang "menelanjangi" sifat" kepo dan suka pamernya bangsa kita...

Post a Comment