Andai AHY Kader HMI


Jika saja di Partai Demokrat masih ada sosok Anas Urbaningrum, pastilah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) akan mendapat mentoring tentang organisasi, juga materi strategi dan taktik (stratak). Bahwa di satu organisasi, kudeta-mengkudeta itu hal biasa. Yang terpenting adalah menyiapkan barisan serta mengenali siapa kawan seperjuangan.

Jalan panjang AHY di kursi ketua umum partai politik terlampau mulus, tanpa riak. Dia tidak merasakan pengalaman menjadi seorang kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang meniti karier dari komisariat, cabang, badko, lalu menjadi pengurus besar di pusat. 

Di tingkat partai, dia tidak pernah merasakan bagaimana membangun karier di level kelurahan, kecamatan, hingga kabupaten. Dia tidak pernah merasakan bagaimana sikut-menyikut di level bawah, lalu meniti karier dengan perlahan hingga menuju puncak.

Dia langsung menjabat sebagai kursi ketua umum partai, yang diwariskan oleh bapaknya. Dia tinggal meniti di atas karpet merah partai, dan menyingkirkan mereka yang sejak awal berdarah-darah mendirikan partai. AHY mendapatkan kursi ketua umum dengan mulus, tanpa riak, tanpa ada yang berani bersaing dengannya untuk kursi ketua.

BACA: Mereka yang Lebih HMI dari HMI


Dia memang punya pengalaman di militer. Namun, menjadi aktivis organisasi dan kader partai politik tidaklah sama dengan meniti karier di jalur militer yang mengenal jenjang kepangkatan. Di militer, tangganya jelas. Anda tak mungkin melompat dari kopral langsung menjadi jenderal. Demikian pula seorang Mayor, tidak bisa langsung turun pangkat jadi Sersan Mayor. Itu hanya ada di film Naga Bonar.

Di organisasi dan partai politik, seseorang bisa saja melejit dalam waktu singkat, dan bisa pula terpental dalam waktu cepat. Prinsipnya adalah bagaimana membangun karier setapak demi setapak, setelah itu membangun koalisi dengan orang lain. Anda tak lantas besar begitu saja, tetapi ada proses membangun kekuatan, memperluas pengaruh, serta merebut kepercayaan publik.

Dalam konteks ini, partai politik adalah arena untuk merangkum berbagai kekuatan. Para pengurus partai politik bukanlah mereka yang paling pintar, melainkan mereka yang paling bisa membangun konsolidasi, serta membangun aliansi dengan banyak pihak, sehingga menjadi barisan yang akan memenangkan pemilihan umum.

Andai saja AHY kenyang asam garam organisasi, dia akan tenang-tenang saja saat mendapatkan fakta tentang sejumlah mantan kader partainya membangun aliansi dengan seorang pejabat di pemerintahan. Dia tidak perlu menyatakan ada kudeta, seolah ada sesuatu yang genting sedang terjadi.

Yang terjadi hanyalah dinamika internal. Lagian, yang berkumpul adalah para mantan kader yang jelas-jelas tidak punya akses untuk masuk arena musyawarah partai. Di arena Kongres HMI, mereka yang ribut dan kasak-kusuk adalah para rombongan liar (romli), bukan pemilik suara. Harusnya dia abaikan saja dan fokus pada pendukungnya.

Dia harusnya bersyukur dengan aliansi itu, sebab dia bisa melihat sejauh mana loyalitas orang-orang di barisannya. Dia tak perlu meniru strategi bapaknya dahulu yang membangun citra terzalimi oleh pemerintah. Strategi terzalimi itu hanya cocok untuk bapaknya. Di era kekinian, penerapan strategi itu hanya berujung pada bully di media sosial.

Kalau perlu, siapkan karpet untuk siapa pun yang bermimpi untuk menjadi ketua umum. Mengapa? Sebab dinamika adalah kekuatan satu organisasi. Mereka yang menjadi ketua akan meyakinkan pihak lain, mengumpulkan kekuatan, lalu berkompetisi secara sehat di ajang musyawarah partai. 

Biarkan saja pesaingnya itu menawarkan uang besar kepada pengurus partai di daerah. AHY bisa memantau siapa yang loyal padanya dan siapa yang tergiur oleh materi. Dia jadi tahu siapa kawan dan siapa lawan, siapa yang dipertahankan dan siapa yang perlu disingkirkan, juga siapa yang akan membesarkan partai dan siapa yang hanya akan jadi benalu.

Kekuasaan memang rakus. Penguasa bisa punya seribu cara untuk membungkam dan menyingkirkan. Tak perlu panik. Selagi AHY mengenali semua pengurus partai, memastikan dukungan dewan pembina partai yang notabene adalah bapaknya sendiri, juga semua pengurus daerah, dia bisa senyum-senyum memantau gerak lawannya. Malah, dia bisa menyusun banyak skenario, dan menjalankan berbagai variasi strategi yang tetap akan menguatkan dirinya.

Sering kali, politik memang butuh drama. Publik bisa disentuh nuraninya dengan drama hingga menjadi barisan pengikut setia. Namun percayalah, efek drama selalu hanya sesaat. Partai yang dipimpinnya itu pernah dipercayai hingga 20 persen pemilih, setelah itu turun jadi 10 persen, terakhir tersisa 7 persen.

Jika hendak menaikkan elektabilitas partai, AHY harus berani melakukan “bunuh diri” kelas. Dia harus turun ke lapis bawah, bukan sekadar membuka acara dan senyam-senyum ganteng agar diidolakan milenial. Tak perlu pamer wajah klimis ala Hyun Bin dalam drakor Crash Landing on You. Tapi harus membasis, melakukan kerja-kerja kemanusiaan, membentuk relawan hingga akar rumput, menghangatkan api ideologi dan cita-cita partai untuk membentuk Indonesia yang lebih baik.

Partai politik tak perlu menawarkan nostalgia. Partai tak perlu menjual masa lalu. Partai harus menawarkan masa depan yang lebih cemerlang sepanjang ditopang oleh kuatnya gagasan di masa kini, serta menghampar langkah-langkah strategis untuk menggapainya. 

BACA: Setelah Lafran Pane, Siapa Lagi Pahlawan di HMI?


Kerja-kerja membangun basis memang tidak mudah. Akan tetapi, kerja-kerja itu punya efek jangka panjang yang dahsyat. Selagi mimpi Indonesia kuat itu tak bisa diwujudkan pemerintahan sekarang, maka gema perubahan yang dibawanya akan terus berdenyut di sanubari semua anak bangsa.

Satu hal yang perlu dipelajari dari HMI adalah adanya ikatan kuat tentang arah dan tujuan. Hampir semua yang mengaku HMI pasti tahu tujuan HMI yakni “terbinanya insan akademis ......” (biar anak HMI yang teruskan). Meskipun untuk menuju tujuan itu, ada yang malah jadi koruptor, ada pula yang jadi malaikat. 

Sayang, AHY bukan kader HMI. Malah kader HMI di partai itu telah disingkirkan satu demi satu. Mungkin demikianlah watak para penguasa partai. Di satu sisi teriak-teriak saat hendak disingkirkan oleh kekuasaan. Di sisi lain lupa, kalau selama memegang kuasa, banyak pihak juga yang disingkirkan, dan dibuang. 

Bahkan ada yang masih meringkuk di balik jeruji besi. 



10 komentar:

Boby Lukman said...

Mantap

Almin Jawad said...

Selalu menarik membaca kritik yang dikemas kak Yusran. Cara menulisnya kaya akan perspektif...

Unknown said...

Cakep

Unknown said...

Mantap kanda...

adammakatita said...

Izin dipublis kanda

Aris Muladi said...

Bersyukur & Ikhlas,,,
Lawan Penindasan,,,
Lahir Perdamaian,,,
Perangi Tirani,,,
Wujudkan Kemakmuran,,,

Unknown said...

YAKUZA

gozalia said...

Said...
Yakin Usaha Sampai

Essarey Haryono said...

YAKUSA KANDA

infotrader said...

Yakin usaha sampai..
Biarkan merwka yg pernah berbuat dhokim.. akan di hukum oleh Alam dan tindakannya sendiri...

Post a Comment