Senjata CHINA untuk Melawan Tentara CORONA


Drone yang mengantar sampel pasien di Cina

Di balik kemenangan China atas virus Corona atau Covid-19, terdapat cerita tentang bagaimana penggunaan big data, kecerdasan buatan (artificial intelligent), serta teknologi robot, drone, dan internet. China menggunakan teknologi itu untuk memantau satu miliar warganya.

Bagaimanakah kita membaca masa depan pasca virus Covid-19? Apakah dunia akan bergerak ke arah otoritarianisme sebagaimana pernah ditulis Yuval Noah Harari? Ataukah semua orang menginginkan adanya big government?

Marilah kita mereka-reka masa depan politik.

*** 

Di tahun 1985, sastrawan Gabriel Garcia Marquez menulis novel Love in the Time of Cholera, yang kemudian menjadi salah satu karya terbaiknya, selain Hundred Years of Solitude. Dia menggambarkan kisah cinta di tengah wabah kolera yang menghantam dunia pada tahun 1880.

Dia menulis kisah mengharu-biru dengan setting Amerika Latin. Dalam novel itu, terdapat kisah anak muda bernama Florentino yang jatuh cinta pada seorang gadis bernama Fermina. Florentino mengungkapkan isi hatinya melalui berlembar-lembar surat, sembari berharap ada balasan.

Saya membayangkan, jika Marquez hidup di masa kini, dia akan menulis sekuel novel ini dengan judul Love in the Time of Corona. Bisa jadi, dia akan menulis kisah setting daratan China. Tak ada lagi surat-menyurat. Semua tokohnya akan menggunakan smartphone, saling berbalas pesan via videocall, serta saling memantau ke mana hendak bergerak, apakah telah melakukan kontak dengan pembawa virus ataukah tidak.

Di era Covid-19, China menjadi episentrum penyebaran virus. Mulanya, banyak yang mengira negara itu akan kolaps karena serangan virus yang pernah disebut sebagai “tentara Allah” itu. Tapi setelah beberapa bulan, China kelihatan akan segera memenangkan pertempuran melawan virus itu.

China telah membuat dunia berpaling sebab melawan virus itu dengan memaksimalkan semua teknologi yang mereka hasilkan. Di saat warga negeri +62 sedang meributkan risiko dokter dan suster yang bisa terpapar virus ketika merawat pasien, China telah mengoperasikan robot untuk mengantar katering ke paramedis dan pasien.

BACA: Virus yang Banyak Membuka Aib Sosial Kita

Salah satu perusahaan, Pudu Technology, yang berbasis di Shenzhen menciptakan robot industri katering yang memasang mesin di lebih dari 40 rumah sakit di seluruh China. Demi mengantar sampel medis, terdapat drone yang dinamakan MultiMicroCopter yang juga bisa melakukan pemantauan suhu tubuh dari udara.

Jika Anda warga China, Anda bisa saja berjalan-jalan di tengah situasi lockdown, tetapi suhu tubuh Anda akan segera terpantau oleh drone. Drone bisa mengenali wajah Anda, yang sudah terekam dalam sistem informasi, sehingga data diri Anda bisa terlacak sehingga aparat bisa menjemput Anda. Kalaupun lolos dari drone, suhu tubuh Anda bisa terpantau oleh smart helmet yang dipakai aparat, yang bisa mengenali wajah Anda, sekalipun Anda mengenakan masker.

China juga memantau pergerakan warganya melalui aplikasi yang memaksimalkan kecerdasan buatan (artificial intelligent). Di lebih dari 200 kota, warga diminta untuk mengunduh aplikasi bernama Alipay Health Code.

Aplikasi ini bisa melacak penyebaran virus Covid-19 berwarna hijau, kuning atau merah yang menunjukkan tingkat suhu tubuh mereka. Pengembang aplikasi ini, Ant Financial, mengatakan aplikasi ini menggunakan big data untuk mengidentifikasi seseorang yang diduga terkena virus Covid-19.

Setiap hari, warga diminta untuk memasukkan data mengenai temperatur suhu di aplikasi itu. Semua datanya akan terkirim ke satu data center, yang akan memberikan laporan tentang status kesehatan seseorang.

Robot di Cina yang memeriksa suhu tubuh dan memberi disinfektan

Pelacakan itu bisa dimungkinkan karena adanya teknologi berbasis QR Code. Teknologi QR Code digunakan oleh semua orang, baik di dalam kota maupun yang hendak memasuki kota. Kode hijau, tandanya dapat bergerak bebas. Kode kuning, harus menjalani karantina selama tujuh hari. Kode merah, karantina selama 14 hari. Kode kuning dan merah dapat berubah menjadi hijau pasca-karantina. Sistem ini sudah diterapkan di Provinsi Zhejiang dan telah diimplementasikan di provinsi lainnya.

Ketika ada seorang warga terindikasi Covid-19, maka aplikasi itu akan memberikan informasi apa saja aktivitas warga itu selama beberapa terakhir. Dia akan terpantau berada di mana, menggunakan kereta atau bis. Aplikasi 'close contact detector' memberi tahu pengguna jika mereka telah melakukan kontak dekat dengan pembawa virus.

Bahkan kamera CCTV yang dipasang di banyak lokasi, serta bisa memindai wajah akan memberikan informasi seseorang telah kontak dengan siapa saja. China menamai sistem ini dengan “Satu peta, satu QR code, dan satu indeks.”

"Pada big data dan internet seperti saat ini, pergerakan setiap orang bisa dilihat dengan jelas. Kita berada di masa  yang sangat berbeda bila dibandingkan dengan zaman SARS melanda," kata Li Lanjuan, Penasihat National Health Commission dalam wawancara dengan salah satu stasiun TV China.

BACA: Saat Corona Menyerang HOMO DEUS

Meski kemunculan teknologi dan aplikasi baru ini dinilai amat berguna dan sangat diperlukan,  namun juga memunculkan kekhawatiran terkait privasi para pengguna. Aplikasi-aplikasi kesehatan yang ada mengharuskan pengguna memasukkan nomor identitas, dan nomor telepon. Pihak otoritas China juga diduga mengambil data dari para penyedia jasa telekomunikasi, dan perusahaan-perusahaan milik negara.

Teknologi kecerdasan buatan atau artificial inteligence (AI) yang lebih canggih juga dimanfaatkan untuk membantu melakukan diagnosis penyakit serta mengakselerasi pengembangan vaksin.

“Mereka membantu kami menahan laju penyebaran virus Covid-19. Sehingga membuat teknologi-teknologi ini sebagai sarana andalan dan dapat dipercaya dalam menghadapi wabah ini,” kata Li Lanjuan, dalam artikelnya yang dimuat BBC.

Sejauh ini, China berhasil. Dunia terkagum-kagum.

*** 

Wabah Covid-19 ini memberikan banyak pelajaran berharga. Kita bisa melihat betapa susahnya mengatur warga di negara demokratis seperti Amerika Serikat, Inggris, Italia, bahkan Indonesia.

Biarpun pemerintah sudah menerapkan aturan, mulai dari social distancing hingga lockdown, aturan itu belum tentu akan dipatuhi warganya yang selama puluhan tahun sudah nyaman dengan kebebasannya.

Namun, upaya untuk membatasi pergerakan virus akan mudah berjalan pada negara-negara yang bisa mengontrol pergerakan warganya. Ini hanya bisa terjadi pada negara yang otoriter seperti China dan juga Singapura. Di dua negara ini, rakyat akan selalu patuh pada pemerintah sebab pemerintah punya banyak instrumen untuk mendisiplinkan warganya.

Pertanyaan yang mencuat adalah apakah ini adalah gejala atau awal dari munculnya otoritarianisme sebagai sistem yang lebih tepat di abad kekinian?

Saya ingat buku 21 Lessons for the 21st Century yang ditulis Yuval Noah Harari. Dia mengatakan, manusia modern mengalami kebebasan dan ideologi liberalisme, tapi di sisi lain ada revolusi kembar dalam teknologi informasi dan bioteknologi yang membuat manusia kehilangan kebebasannya.

Di masa kini, teknologi menjadi instrument yang mengendalikan manusia. Kita bisa melihat bagaimana Google dan Facebook menjadi mesin yang paling mengenali siapa kita.

buku yang ditulis Harari

Google tahu aplikasi apa yang kita pakai setiap hari, produk apa yang sering kita pesan, termasuk seperti apa cewek yang kita ajak kencan melalui situs pertemanan. Google dan Facebook punya algoritma yang mengendalikan mana informasi yang dilihat orang-orang dan mana yang bukan.

Teknologi telah lama merenggut kebebasan dan privasi kita. Sejak smartphone kita bisa mengenali bioritme kita, suasana hati kita pun dengan mudah terbaca sehingga pesan-pesan baik itu iklan ataupun pesan politik akan mengalir deras ke otak kita. Pilihan kita menjadi terbatas.

BACA: Jika AS dan Cina Perang, Apa Kata HARARI?

Dalam hal politik, pikiran kita akan mudah dikendalikan oleh siapa yang bisa mengatur lalu lintas informasi di pikiran kita. Di titik ini, kita bisa paham mengapa fenomena cebong versus kampret susah hilang di masyarakat kita. Sebab semua terlanjur mengidolakan dan hanya membatasi informasi pada tokoh idolanya saja.

Dalam konteks politik, Harari menyebut fenomena ini sebagai “kediktatoran digital.” Jika dulu, komoditas paling penting adalah tanah dan sumber daya alam, maka di era kekinian, siapa pemilik data, maka dia akan memenangkan arena politik.

Pendapat Harari ini relevan jika melihat China hari ini. Untuk mengatasi wabah, China menjadi Surveillance State (negara pengawasan) yang mengawasi apa pun yang dilakukan warganya. Konsep negara pengawasan ini berakar pada filsafat Thomas Hobbes yang menyebutkan semua warga telah menyerahkan haknya pada Negara.

Berkat virus Covid-19, kita melihat kebenaran argumentasi Harari tentang bagaimana pemerintah maupun masyarakat telah mengecualikan hak privasi untuk menghadirkan negara pengawasan.

China menjadi role model yang kemudian diikuti semua negara-negara lain. Semua ingin membatasi gerak warganya. Semua ingin mengawasi lalu memata-matai warganya. Di Indonesia sekalipun, kita melihat bagaimana aparat bisa memaksa orang untuk pulang ke rumah, sebab dikhawatirkan akan menyebar virus.

Saya membaca pendapat Margareth O’Mara, profesor sejarah di University of Washington. Sebagaimana Harari, dia melihat pertempuran melawan pandemi Covid-19 telah membuat pemerintah jauh lebih terlihat oleh masyarakat daripada biasanya. Menurutnya, pandemi tersebut telah membuat masyarakat menaruh kepercayaan dan mencari bantuan kepada para pemimpin pemerintahan.

BACA: Dari Big Data, Artificial Intelligence, dan Kediktatoran Digital

Kata O’Mara, untuk mengatasi krisis, dibutuhkan kehadiran big government atau pemerintah besar, yang bisa melakukan intervensi berlebihan atas semua aspek kehidupan warganya. Bentuk pemerintah ini dinilai bertentangan dengan kebebasan yang diperjuangkan dalam politik demokrasi.

Bayangkan, apa yang terjadi jika negeri kita mengarah ke big government. Rakyat sipil akan banyak menjadi korban. Suara-suara protes akan mudah dipantau dengan algoritma. Pergerakan warganya, termasuk kumpul-kumpul akan mudah terlacak. Jangan berharap akan melakukan aksi jalanan sebab Anda bisa terlacak, dan aparat bisa menjemput Anda kapan saja.

Bahkan Anda juga terpantau sedang mencintai siapa, serta seromantis apa kalimat yang kita sampaikan. Kita tak sebebas Florentino dalam novel Love in Time of Cholera yang berbisik: ”The only one regret of my life is I didn’t die for love…”

Saya membayangkan masa depan kemanusiaan kita yang tidak seindah tokoh dalam novel itu.



7 komentar:

Inang Rama said...

Kenapa aku selalu memuja tulisanmu yang sangat membantu aku berpikir nah betulkan,kubilang juga apa makasih bang Yus..tulis lagi ya

(mgp) said...

Big government juga bisa memantau kita jalan sama siapa ya? Pemerintahan jadi kepo ya.. Hehe. Tulisan menarik, Om. Saya mendapatkan banyak intisari ide dari kepala Harari lewat gagasan yg kita' tulis ini. Makasih banyak, Om.

Supratman said...

Bermanfaat

Unknown said...

sukaaa sm tulisan iniii oppa..😁😋
thankiss buat mama ara yg udah share 😘

Wahyu HR said...

mencerahkan...ijin share ya...

Fajar ElsRumi said...

Bang, aku blogger baru setelah vakum cukup lama. Salam kenal mohon masukannya ya bang. Hehehehe

Ahsan said...

being a kn95 mask manufacturer i loved reading it

Post a Comment