Lelaki BUGIS yang Menikah dengan BADIK


seorang penari mengacungkan badik (foto; Yusran Darmawan)

Badik itu bergerak. Di tangan pemiliknya, badik itu seakan menentukan sendiri ke mana hendak bergerak. Badik itu lalu menunjuk seseorang yang tak jauh dari itu. Pemilik badik itu tersenyum. Dia sedang mendemonstrasikan salah satu kemampuan badik itu yang bisa mengenali siapa saja orang sakti di ruangan itu.

Saya bertemu komunitas anak-anak muda yang menggemari badik dan berbagai besi di Kota Palopo, Sulawesi Selatan. Mereka mengajak saya untuk ngopi setelah sebelumnya makan-makan. Saya bertemu mereka di sela-sela acara Festival Keraton Nusantara (FKN) yang diadakan di kota itu.

Pemilik badik itu adalah lelaki berusia 40-an tahun. Penampilannya jauh dari kesan seorang pendekar memakai badik. Dia bekerja sebagai kontraktor. Dia tampak seperti kalangan menengah ke atas. Matanya pun teduh, jauh berbeda dengan mata orang yang suka berkelahi.

Sebut saja namanya Baco. Dia bercerita kalau dirinya membawa badik itu ke mana pun dia pergi. Badik itu disimpan dalam tas pinggang. Badik itu memberinya rasa percaya diri, ketenangan, serta keberanian dalam membuat setiap keputusan. Badik itu memberinya rasa aman secara psikologis yang memberinya kekuatan.

Saya tak terlalu paham kekuatan seperti apa yang dihadirkan badik itu. Saya tidak menyangka, di era big data dan artificial intelligence, masih banyak anak muda yang menggemari badik dan berbagai besi. Mereka membawa badik dengan penuh kebanggaan. Badik itu menjadi benda seni yang tak ternilai harganya.

Di ajang FKN, mereka tak tertarik mengamati pagelaran tari dan seni budaya. Mereka lebih menyukai nongkrong di satu ruang pameran benda pusaka yang menampilkan badik, keris, parang, dan berbagai senjata lainnya.

Baco bercerita kalau dia sampai dini hari di lokasi pameran benda pusaka. Mengapa? “Sebab pemilik pusaka akan mengeluarkan pusaka andalannya saat tengah malam. Mereka tidak mau mengeluarkan di siang hari sebab khawatir kalau kekuatan pusakanya bisa disedot oleh seseorang di situ,” katanya.

Dia memberi saya informasi menarik kalau ternyata kekuatan pusaka bisa diambil dan dipindahkan. Saya pikir ada semacam hacker yang bisa meretas kekuatan satu pusaka, kemudian mengambilnya lalu disimpan ke pusaka lain. Keren juga.

Saya teringat Christian Pelras yang mengatakan bahwa sejak ratusan tahun lalu, badik telah menjadi identitas bagi lelaki Bugis Makassar. Badik tidak saja digunakan untuk pertahanan diri, tetapi juga untuk memberikan kharisma dan rasa percaya diri bagi pemiliknya.

Ada yang mencatat, sebelum nama Sulawesi populer, sebelumya pulau besar ini dinamakan Celebes. Nama ini diperkenalkan oleh seorang yang berkebangsaan Portugal bernama Antonio Calvao pada tahun 1563. Celebes terdiri atas dua suku kata. Cele yang bermakna keris, badik, atau kawali. Bessi yang bermakna besi.

Sejarawan Anthony Reid pernah menulis besi Luwu (bessi ussu) yang disebut sebagai besi terbaik yang kemudian menjadi komoditas dagang di era Majapahit. Besi Luwu mengandung meteorit dan feronikel sehingga menjadi pamor bagi pembuatan keris di Jawa. Konon, keris Empu Gandring dibuat dari bahan besi Luwu.



Dalam buku Ensiklopedi Keris disebutkan bahwa besi Luwu di pasaran dikenal dengan nama Bessi Pamorro, sampai dengan tahun 1920 masih dijumpai di pasar Salatiga dengan harga per kilo setara dengan 50 kg beras.

Bagi sejumlah kalangan di masyarakat Bugis dan Makassar, badik adalah keharusan. Itu terlihat pada ungkapan dalam bahasa Bugis yang berbunyi “tannia ugi narekko de’napunnangi kawali. ” Artinya bukan seorang Bugis jika tidak memiliki badik.

Di masa saya kuliah di Makassar, banyak teman dan sahabat yang membawa badik ke mana pun pergi. Saya pikir di masa kini sudah tidak banyak orang yang membawa badik. Tapi anak-anak muda di hadapan saya ini melihat badik seperti kekasih yang dibawa ke mana pun, dirawat dengan penuh cinta, serta sering ditimang dan dipamerkan.

Bahkan mereka tak segan-segan mengeluarkan biaya berapa pun untuk membeli pusaka yang disukai. Hubungan antara seseorang dan badik serupa hubungan dua kekasih. Kata Baco, dalam beberapa kasus, badik itu memilih sendiri siapa tuannya.

Dia bercerita tentang badik yang dipegangnya itu. Pada mulanya, dia berkunjung ke rumah temannya. Dia merasakan ada aura kuat benda pusaka di situ. Rekannya lalu bilang, kalau ada pusaka maka itu akan menjadi miliknya. Dia lalu mendatangi satu lemari, kemudian membuka laci bawah. Badik itu menyembul. Dia pun menemukan dua badik lainnya di situ.

Kadang, badik atau pusaka muncul saat sedang menggali. Bentuknya seperti batu atau fosil yang lama terpendam, tapi masih bisa berkarat. Sering pula, badik didapatkan dengan cara membeli.

Sebagai kontraktor, Baco sering mendapatkan badik dari para pekerja konstruksi, yang kebanyakan datang dari Makassar. Baco yakin para pekerja selalu membawa badik, Biasanya, dia akan tanya berapa maharnya kemudian membeli.

Di kalangan mereka yang bertransaksi badik, kata mahar sering digunakan untuk menggambarkan biaya yang harus dikeluarkan. Kata ini menunjukkan betapa berharganya badik sehingga hubungan antara badik dan pemiliknya adalah serupa hubungan pernikahan. Lelaki itu meminang badik dengan mahar tertentu.

***

SUASANA ruang pameran pusaka di dekat Istana Kedatuan Luwu tampak lengang. Hanya ada sedikit orang yang mondar-mandir di ruangan itu. Terdapat beberapa rak kaca yang isinya berbagai jenis pusaka.

Saya datang ke ruangan pamer ini karena tertarik dengan perbincangan di warung kopi. Baco mengajak saya untuk menyaksikannya langsung. Di situ, saya melihat beberapa bilah keris dengan sarung, badik, parang, hingga pusaka lainnya. Saya tertarik dengan satu badik yang gagangnya keperakan di sudut ruangan.

Salah seorang penjaga pameran mendekat. Dia lalu menjelaskan: “Ini badik Makassar. Lihat kale atau bilah yang pipih. Lihat juga battang atau perut yang buncit. Ujungnya atau cappa runcing dan tajam. Beda dengan badik Luwu yang lurus,” katanya.

Saya terus menatap badik itu. Penjaganya kembali berkata, “Sayang sekali badik ini sudah berjodoh. Dia akan kembali ke asal. Tadi ada orang Makassar yang bayar maharnya 26 juta rupiah.”

badik Makassar yang terjual 26 juta rupiah

Hah? Saya tersentak dan mundur teratur. Saya tidak menyangka kalau badik bisa dinilai semahal itu. Di ruangan itu, kebanyakan pusaka memang dihargai mahal. Malah ada yang lebih 50 juta rupiah. Ada pula yang tak bersedia dilepas, berapa pun harganya.

Baco menjelaskan, badik itu dihargai mahal karena dua hal. Pertama, fisik yakni bilah besi yang digunakan serta pamor yang memberikan kesan tentu saat melihat badik itu. Kedua, tuah atau isi yang ada dalam badik itu.

“Ada jenis badik yang punya uleng puleng dan battu lappa, sejenis motif pada besi. Kalau dua hal ini ada pada badik, maka akan membawa kebaikan bagi pemiliknya. Orang juga seiring mencari mabalesse atau retakan di atas punggung. Ini juga memudahkan rezeki pemiliknya,” katanya.

Banyak juga yang mencari badik untuk keperkasaan. Para pendekar atau jagoan biasanya ingin memiliki badik ini agar kelak bisa digunakan saat pertarungan. Tapi di masa kini, rasa percaya diri itu menjadi sangat penting untuk negosiasi bisnis, memasuki arena politik, atau pun untuk melobi.

Saya pikir manusia modern butuh sesuatu yang memberinya energi untuk melakukan banyak hal. Pada titik ini, badik menyimpan banyak pesan kuat, serta narasi yang memungkinkan seseorang menimba keberanian masa lalu kemudian menerapkannya di masa kini. Manusia butuh narasi dan kekuatan untuk menjalani hidup yang penuh tantangan.

Saat hendak meninggalkan ruangan, penjaga tadi menyuruh saya menyentuh satu badik yang dibawanya. Saya coba merasakan energi dari badik itu, sebagaimana yang dirasakannya. Tapi saya gagal menemukannya. Malah, yang melintas di pikiran saya adalah bait-bait puisi Berlayar di Pamor Badik dari penyair Madura yakni D Zawawi Imron:

Kata-kata dan peristiwa
telah lebur pada makna
dalam aroma rimba dan waktu

Hanya seutas pamor badik, tapi
tak kunjung selesai kulayari




0 komentar:

Post a Comment