Bertemu Idham Ardiansyah



Di tengah rerimbunan apartemen kalibata, saya berjumpa sahabat M Idham Adriansyah yang jauh2 datang dari Sinjai, Sulsel. Pada mulanya kami ngobrol lepas dan tertawa-tawa membahas kelucuan pada satu masa. Tetiba hpnya berdering.

Di seberang sana, anaknya menelepon. Suaranya sayup. Idham membesarkan suara hp. Ternyata memang tak ada suara. Lebih 10 menit idham meyakinkan anaknya yang tidak berkata apa2, dan hanya bisa sesunggukan. Rupanya sang anak rindu ayahnya, sampai2 tak bisa berkata apa2. Ah, ternyata rindu itu memang berat.

Idham mengaku sangat dekat dengan anaknya. Katanya, dia seorang pengangguran sehingga waktunya lebih banyak di rumah, sedang istrinya yang sibuk mencari nafkah.
Saya terdiam. Namun dalam diri saya bergejolak rasa iri yang menggunung. Bisa bersama anak seharian penuh adalah sebenar-benarnya kemewahan bagi seorang ayah. Jutaan ayah di seluruh dunia setiap hari harus menembus belantara kota hanya demi nafkah keluarga. 

Jutaan ayah harus menyabung nyawa di jalan raya, di kantor-kantor, di sawah ladang, demi membahagiakan istri dan anaknya. Padahal, jika setiap ayah ditanya dengan jujur, keinginan terbesarnya adalah bisa setiap hari di rumah dan bermain-main bersama anaknya.

Apa boleh buat, peradaban materialisme mengarahkan kita untuk lebih banyak di luar rumah demi mengejar sesuatu yang entah kapan bisa cukup bagi kebutuhan kita. "Nanti ayah pulang, terus kita cari mainan sama2. " Idham masih membujuk di hp-nya. 

Saya memandang iri. Dalam hati saya berbisik, dalam hal2 sederhana, terdapat begitu banyak kenikmatan dan kemewahan yang sering tak bisa dipahami orang lain.


0 komentar:

Posting Komentar