Kisah Profesor dan Pelaut Muda


ilustrasi

PADA satu masa, seorang profesor mengikuti pelayaran satu kapal kecil menuju satu pulau. Ia mengambil kamar paling mewah di kapal itu. Ia membawa setumpuk buku tebal-tebal yang rencananya akan dibaca di sepanjang perjalanan. Ia tahu bahwa kesunyian hanya bisa dikalahkan dengan bahan bacaan. Meskipun dirinya di tengah lautan, namun pikirannya bisa berkelana ke mana-mana.

Saat jangkar telah dinaikkan, kapal mulai bergerak perlahan. Sang profesor lalu menuju ruang nakhoda. Ia menyaksikan seorang anak muda yang sibuk menarik tali jangkar. Ia bisa menyaksikan bagaimana peluh membanjiri tubuh anak muda itu. Ia lalu membandingkan dengan dirinya yang di usia muda menghabiskan waktu di perpustakaan kampus. Ia kasihan melihat anak muda itu yang hanya menjadi anak buah kapal (ABK), tanpa kesempatan untuk menjadi profesor, sebagaimana dirinya.

Saat matahari tepat di ubun-ubun, profesor itu ingin melihat laut biru. Ia lalu menuju geladak kapal. Kembali ia bertemu anak muda itu yang tengah duduk sembari memandang lautan lepas. Profesor itu tiba-tiba saja menyapa:

“Nak, kamu sedang melihat apa” tanya profesor.
“Saya melihat lautan lepas," jawab anak muda itu.
“Apa yang kamu lihat di situ”
“Cuma lautan biru, serta ombak di kejauhan.”
“Kasihan kamu Nak. Andaikan kamu bersekolah, pasti kamu tahu kalau di laut lepas itu ada banyak biota laut. Kamu akan tahu biologi laut, pergerakan arus sungai, serta apa saja sumber daya yang bisa dimanfaatkan.”
“Maksud bapak?”
“Saya kasihan sama kamu yang tidak sekolah. Pengetahuanmu tak membawa guna apa-apa,”

Anak muda itu lalu melenggang pergi. Dia agak sakit hati dengan sikap sang profesor. Sementara profesor itu sendiri merasa puas. Ia merasa telah menceramahi si anak muda tentang apa yang penting dan apa yang tidak penting. Ia menegaskan otoritasnya sebagai orang yang berpengetahuan.

***

TEPAT tengah malam, profesor itu gerah di kamarnya. Ia tak bisa memejamkan mata. Ia lalu keluar kamar, dan kembali ke geladak kapal. Di sana, ia kembali menyaksikan anak muda itu yang sedang memandang langit. Kembali, ia menyapanya:

“Nak, kamu sedang melihat apa?” kembali Profesor itu bertanya
“Saya sedang melihat langit. Indah sekali malam ini,” jawab anak muda itu.
“Apa yang kamu lihat di situ?”
“Saya melihat bintang-bintang kecil yang bercahaya. Indah sekali,”
“Kasihan kamu Nak. Andaikan kamu bersekolah, pasti kamu tahu kalau bintang-bintang itu adalah bebatuan yang memantulkan cahaya ke bumi. Kamu akan tahu fisika luar angkasa. Kamu akan tahu kalau jagad raya itu amatlah luas, di dalamnya terdapat banyak galaksi, planet, serta berbagai asteroid.”
“Maksud bapak?”
“Saya kasihan sama kamu yang tidak bersekolah. Pengetahuanmu tak membawa guna apa-apa.”

Kembali anak muda itu pergi dalam keadaan sakit hati. Kedua kalinya bapak itu mengasihaninya. Padahal ia merasa baik-baik saja dan tak berkekurangan. Kenapa pula bapak itu harus mengasihaninya. Sementara profesor itu kembali lega. Ia senang karena telah menceramahi anak muda itu tentang apa yang baik dan apa yang tidak baik. Sekolah adalah segala-galanya.

***

MATAHARI masih bersembunyi di langit sana. Sedikit lagi subuh akan tiba. Kapal itu memasuki satu perairan yang terus bergejolak. Kapal itu mulai oleng. Air mulai masuk dek bawah kapal kecil itu. Semua penumpang mulai panik. Ombak kian meninggi. Banyak penumpang yang histeris saat membayangkan nasibnya yang akan tenggelam bersama kapal.

Rupanya, kapal itu tak memiliki sekoci, perahu kecil untuk menyelamatkan diri. Jumlah pelampung tak memadai untuk semua penumpang. Dalam keadaan seperti ini, hanya mereka yang kuat berenanglah yang punya peluang untuk bisa menjangkau pulau terdekat.

Anak muda itu berlarian ke atas. Ia mengambil beberapa pelampung tersisa lalu membagikannya ke beberapa penumpang. Saat pelampung habis, ia lalu berlari ke dek atas demi mengingatkan semua orang agar bersiap-siap berenang, sebab kapal akan segera tenggelam. Pada saat itulah ia melihat bapak tua itu yang sedang mengepit tas kecil dan penuh kepanikan di satu sudut. Bapak itu sibuk mencari-cari pelampung yang telah diambil penumpang lain.

“Bapak sedang melihat apa?” tanya anak muda itu.
“Saya sedang melihat ombak ganas di depan sana”
“Apa yang bapak cari di sini. Mengapa sibuk melihat kiri-kanan?”
“Saya panik. tak punya apa-apa lagi untuk menyelamatkan diri. Saya tak bisa berenang,”
“Kasihan kamu Pak. Pengetahuanmu yang sangat luas itu tak bisa membantumu untuk sekadar menyelamatkan diri. Bapak memahami banyak hal, mulai dari biologi laut, sampai fisika luar angkasa. Tapi dalam keadaan krisis seperti ini, pengetahuan itu tak bisa menolongmu.”
“Maksud kamu?”
“Pengetahuan saya teramat sedikit. Saya orang bodoh. Saya tidak bersekolah. Tapi dalam keadaan kapal karam, saya punya pengetahuan untuk meloloskan diri. Saya bisa dan sanggup berenang untuk menjangkau pulau di horizon sana. Selamat jalan Pak,”

***

KISAH ini saya sadur secara bebas dari ceramah biksu Ajahn Brahm, seorang biksu yang bermukim di Australia. Pesan yang muncul adalah ilmu dan pengetahuan tak hanya tersedia di kelas-kelas perguruan tinggi. Pengetahuan tak hanya ada di masjid, gereja, ataupun biara. Pengetahuan tumbuh dan berkembang di rahim masyarakat. Ia ada pada setiap diskusi dan dialog. Ia hadir dalam berbagai aktivitas masyarakat. Pengetahuan itu amatlah luas. Seorang manusia hanya sanggup mempelajari sepenggal dari pengetahuan itu, sedangkan manusia lainnya yang akan mempelajari penggalan-penggalan yang lain.

Kerap kali kita dihinggapi keangkuhan sebagai seseorang yang lebih tahu segala-galanya. Kita sering merasa lebih pintar, lalu memandang orang lain dengan pandangan yang menghinakan. Mengapa? Sebab kita menilai orang lain dengan cara berpikir kita, dengan capaian yang pernah kita miliki. Padahal pengetahuan yang kita miliki hanyalah sekeping pengalaman dan barangkali sejumlah teori yang didapatkan di kelas-kelas sekolah.

Di luar itu, ada banyak pengetahuan lain yang hanya bisa ditemukan dengan cara berinteraksi serta menyerap dari semesta. Sebagaimana halnya pelaut lain, anak muda itu tentunya memahami bagaimana kecakapan seornag pelaut. Ia tak paham biologi laut, tapi ia paham bagaimana membaca tanda-tanda alam di lautan. Ia tahu kalau badai akan muncul saat hewan laut tertentu naik permukaan lalu mengeluarkan cahaya. Ia paham bagaimana pergerakan ombak, serta arus laut.

Anak muda itu tak memahami fisika luar angkasa. Tapi ia bisa membaca perbintangan dengan menggunakan kearifan tradisional. Ia tahu bahwa langit kerap mengirimkan simbol dan tanda-tanda tentang keadaan alam. Ia membaca arah melalui bintang gemintang, sebagaimana halnya kecakapan manusia modern yang bisa membaca kompas dan GPS.

Jika saja sang profesor sedikit membuka hati demi menyerap pengetahuan lain, barangkali ia akan diberitahu anak muda itu kalau perjalanan mereka akan berhadapan dengan badai. Barangkali ia akan mendapatkan pelampung untuk menyelamatkan diri, atau barangkali ia akan dibantu anak muda itu untuk berenang ke pulau terdekat.

Yang harus dilakukannya adalah menghancurkan semua tembok-tembok pengetahuan yang dibangunnya. Ia mesti menyadari bahwa setiap pengetahuan hanyalah satu bentuk penafsiran atas dunia. Semua orang memiliki pengetahuan sendiri, yang secara praktis, bisa membantu orang itu untuk menghadapi situasi-situasi tertentu. Pada titik ini, dibutuhkan satu kearifan untuk menyadari bahwa semua orang adalah guru, dan setiap tempat adalah ruang belajar.

Namun, apakah profesor itu akan selamat? Tunggu dulu. Kisahnya belum berakhir.

***

DALAM keadaan panik, profesor itu merasakan kapal secara perlahan mulai karam. Ia sudah siap dengan apapun yang terjadi. Ia masih sempat menyebut nama anak dan istrinya saat ombak menerjang kapal itu lalu memorak-porandakan kapal itu menjadi dua bagian.

Tapi di tengah situasi yang kritis itu, tubuhnya ditarik seseorang. Ia dipakaikan pelampung, kemudian ditarik menjauhi kapal yang masuk ke dasar laut. Ia berusaha untuk tetap bertahan. Air laut sempat memasuki tenggorokannya. Tapi untunglah karena ada pelampung yang dipakaikan ke badannya.

Ia pnasaran siapakah gerangan yang menyelamatkannya. Ia ingin tahu siapa pemilik tangan kukuh yang tadi menyeretnya, lalu memakaikan pelampung. Ah, pasti penjaga pantai atau mungkin polisi laut yang datang berpatroli dan menyelamatkannya. Apalagi, ia sempat melihat pistol isyarat ditembakkan ke atas sehingga cahaya serupa kembang api bisa disaksikan dari jauh. Ia juga tahu kalau pastilah nakhoda telah mengirim tanda SOS ke mana-mana.

Tubuhnya lelah luar biasa saat diseret melewati ombak-ombak ganas. Perlahan ia kehilangan kesadaran. Tapi ia masih sempat melihat seraut wajah yang tak asing sebagai penyelamatnya. Ternyata, anak muda pelaut yang ditemaninya berbincang adalah pahlawan yang pada detik akhir datang menolongnya. Ia tersedak air laut, sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.


Bogor, 2 Januari 2016

BACA JUGA: 


1 komentar:

Anonim mengatakan...

👏👏👏 Cerita ini punya set up unik. Pelajarannya juga sangat bagus- pelajaran yang memang bisa dipelajari oleh banyak orang, tapi tidak pasaran. Terimakasih cerpennya kak :D saya suka.

Posting Komentar