Kisah Ibnu Sinna yang Menyesakkan Dada


poster film the physician (2013)



KETIKA bangsa barat tenggelam dalam dunia magis dan mitologis, bangsa timur telah mencapai puncak kemajuannya dalam sains. Dalam film The Physician, terselip kisah tentang Ibnu Sinna, intelektual timur yang memberikan sumbangsih besar sebagai peletak dasar ilmu kedokteran di barat. Kisah Ibnu Sinna, yang kondang dengan nama Avicenna, di film ini sungguh menginspirasi. Sayang, bagian akhir film terasa amat getir dan menyesakkan dada.


***

ANAK muda itu, Rob J Cole, bertekad meninggalkan London, Inggris. Di abad ke-11, ia memutuskan meninggalkan rumah ketika ibunya meninggal dunia. Ia didera rasa kesal karena pihak gereja gagal menyembuhkan ibunya. Ia hendak mencari jawab atas sakit yang merenggut nyawa ibunya. Ia lalu mengikuti perjalanan seorang tabib yang sesekali menipu warga dengan dalih pengobatan.

Suatu hari, penyakit katarak sang tabib semakin parah. Tabib itu tak bisa melihat. Rob bertemu rombongan warga Yahudi yang sedang melintas, dan mengklaim bisa menyembuhkan sang tabib. Tadinya Rob menganggap itu sebagai bualan. Ternyata mereka benar-benar sanggup menyembuhkannya. Penasaran, Rob bertanya di manakah mereka belajar mengobati. Orang Yahudi lalu membuka peta, kemudian menunjuk satu titik, “Kami belajar di Isfahan, Persia. Kami belajar pada seorang penyembuh yang hebat. Namanya Ibnu Sina.”

Rob lalu berikhtiar untuk menggapai Isfahan. Namun jalan ke Isfahan tak mudah. Ia mesti melalui Mesir. Di masa itu, perang agama kerap terjadi. Orang Islam dan Kristen terlibat pertengkaran sengit yang membuat mereka saling bunuh. Tak hilang akal, Rob menyamar sebagai orang Yahudi. Ia bisa diterima di dua kelompok itu. Hingga akhinya ia bisa mencapai Isfahan dan bertemu Ibnu Sinna yang kharismatis.

Dalam film yang dikembangkan dari novel karya Noah Gordon ini, Ibnu Sinna digambarkan sebagai seorang dokter yang juga filosof. Ia memperkenalkan tradisi rumah sakit (hospital) di mana seorang pasien dirawat di sebuah gedung, dan senantiasa dipantau perkembangannya. Ia juga mendirikan sebuah universitas, yang dinamakan madrasah, sebagai tempat para mahasiswa belajar, serta menerapkan pengetahuannya pada pasien.

Saya menyukai metode yang diajarkan Ibnu Sinna. Selain mengajar kedokteran, ia mengajarkan filsafat dan logika, khsuusnya logika Aristoteles, yang banyak memberi kontribusi pada sains Islami. Ibnu Sinna juga mengajarkan tentang musik, serta kontemplasi sembari memandang bintang. Hal-hal seperti itu bisa mengasah dimensi rasa bagi seseorang sehingga bisa menjadi penyembuh yang handal.

Bagian yang paling menarik adalah ketika film ini memaparkan secara jujur tentang kontribusi besar Ibnu Sinna di bidang kedokteran. Film ini tak terjebak pada bias barat yang memandang timur sebagai bangsa yang tenggelam dalam bidang kebodohan. Di saat barat terjebak dalam lembah keterbelakangan, Islam justru mencapai puncak kejayaannya.

Scott Roxborough dari The Hollywood Reporter mengabarkan dengan kalimat yang sangat menarik. Katanya:

The Physician could be thought of as the antithesis of the propaganda hate film Innocence of Muslims. Instead of portraying Islam as a force of extremism and oppression, it offers a look at the religion at a point in history — the 11th century — when Muslims were on the cutting edge of science, culture and religious tolerance. “You have to remember, what we in the West call the Dark Ages was, simultaneously, the Golden Age of Islamic science, art, astrology, astronomy, physics, chemistry and medicine,” says Kingsley.

Yup. Ben Kingsley memang memerankan Ibnu Sinna dalam film ini. Sebelumnya, saya melihat penampilan gemilang Kingsley ketika memerankan Ghandi. Sebagai Ibnu Sinna, aktingnya lumayan bagus. Ia bisa menghadirkan sosok kharismatis, pencnta ilmu pengetahuan, serta seorang guru yang arif bagi semua mahasiswa di madrasah.

Satu yang harus dicatat bahwa film ini adalah fiksi. Makanya jangan dilihat sebagai satu film sejarah. Namun pesannya sangat kuat bahwa ilmu pengetahuan itu serupa mutiara berharga yang bisa dipelajari oleh siapapun. Ilmu pengetahuan itu ibarat cahaya yang bisa menerangi kegelapan dan mencerahkan mereka yang mempelajarinya.

Bagian akhir film ini amatlah menyesakkan. Konflik aliran dalam Islam semakin merebak. Terjadi peperangan antar kerajaan, serta pemberontakan dari kaum yang mengklaim dirinya lebih Islami. Ilmu kedokteran Ibnu Sinna pun dianggap sebagai ilmu sihir dan potret kemunduran. Madrasah dihancurkan. Ibnu Sinna pun tetap bertahan di tengah madrasah yang dilalap api, setelah sebelumnya menyerahkan sebuah kitab pada Rob Cole. Mungkinkah kitab itu yang kemudian terbit dengan judul The Cannon of Medicine yang sedemikian legendaris itu? Entah.

Ibnu Sinna dan murid-muridnya di madrasah




Yang pasti film ini membukakan satu fenomena yang terus terjadi hingga kini. Bahwa kehancuran peradaban Islam itu tidak selalu karena hantaman atau serangan dari luar. Kehancuran itu disebabkan oleh sikap yang kaku, pandangan yang selalu merasa diri benar, serta menganggap yang lain sebagai sesat.

Ibnu Sinna akhirnya hanya bisa menatap nanar. Ia amat bersedih melihat kitab-kitab kedokteran yang ditulisnya dibakar secara mengenaskan. Tapi, saya tiba-tiba merasa bahwa kesedihan itu adalah sesuatu yang terus aktual hingga kini. Pada hari ini, umat Islam justru menjadi pengikut dan pengagum dari barat, yang dahulu justru banyak belajar pada dunia timur. Pada hari ini justru dunia timur dan dunia Islam sedang mengalami zaman kegelapan ketika banyak yang mengklaim dirinya layak masuk surga, lalu mengafirkan dan memerangi sesamanya. Di saat bersamaan, ilmu pengetahuan tak bisa berkembang dan baik. Generasi hari ini hanya menjadi pengikut dari ilmu pengetahuan yang terus direproduksi orang barat.

Entahlah. Mungkin inilah takdir di zaman kini. Bahwa mereka yang bertahan, menang, serta berjaya bukanlah mereka yang kuat. Melainkan mereka yang bisa menjaga tunas-tunas ilmu pengetahuan, membesarkannya hingga menjadi pohon rindang yang kokoh dan melindungi semua orang.

Namun, apakah kita paham tentang pentingnya menjaga tunas pengetahuan ini?



3 comments:

  1. Terlalu banyak fakta yang dirubah atau dilewatkan sehingga merubah sejarah yang sebenarnya pada film ini... saya tidak terlalu tertarik dengan film yg terlalu jauh dari sejarah yang ada....

    ReplyDelete
  2. maaf...tentang pendapat anda yang terakhir salah,tidak ada zaman kegelapan untuk islam,ilmu pengetahuan itu terlahir dari Al'quran,saat ini,ilmuwan,dokter,guru,dosen,peneliti dan lain sebagainya hampir rata rata ber agama islam,orang yang tidak beragama pun masuk islam setelah mengetahui kebenaran Al'quran,jangan mengatas namakan kegelapan itu dengan nama islam,orang orang yang di dalam kegelapan itu adalah orang jahilliyah alias BODOH atau idiot,saya rasa anda tahu jika anda orang orang yang berakal, itu argumen yang saya lihat di depan mata kepala saya,fact not fake :)

    ReplyDelete
  3. aslamu'alaikum,jangan pernah mengatas namakan kegelapan dengan nama islam, sumber segala ilmu adalah Al'quran,para ilmuwan yang tidak ber agama sekalipun masuk islam setelah tau kebenaran Al'quran, yang gelap itu bukan agamanya tapi orangnya,orang orang bodoh (Jahilliyah) yang agamanya tidak lengkap,kalau ibaratkan rumah,kurang tiangnya, atau atapnya,atau pondasinya,atau semuanya kurang, so jangan jugde agama islam ya,hakimi saja manusianya jangan agamanya,karena saya juga muslim!! maaf,terimakasih

    ReplyDelete

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...