Surga Pustaka di Alden Library


Alden di musim dingin

JIKA kelak saya kembali ke tanah air, maka saya hanya akan mencatat satu bangunan yang paling membekas di hati saya selama berada di Athens, Ohio. Bangunan itu adalah Alden Library, perpustakaan yang menampung ribuan koleksi Indonesia dan Asia Tenggara. Terkait studi Indonesia dan Asia Tenggara, saya tak pernah menemukan satupun perpustakaan di tanah air yang punya koleksi selengkap Alden. 

Meskipun bertempat di Amerika Serikat (AS), sebuah negeri yang jaraknya sedemikian jauh dari Indonesia, namun perpustakaan ini memiliki koleksi yang tak tertandingi. Tak hanya buku teks, akan tetapi juga novel, komik, hingga berbagai jurnal. Perpustakaan ini juga didesain seperti hotel. Ketika masuk, Anda akan bertemu resepsionis yang siap membantu. Di setiap lantai terdapat banyak komputer untuk mengakses internet, serta sofa-sofa yang empuk untuk diduduki. Alden ibarat surga buat dunia pustaka.

Perpustakaan ini menyediakan koleksi naskah, mulai dari karya-karya terbaru sejarawan Taufik Abdullah, bahkan novel silat sejenis Wiro Sableng, bisa ditemukan di sini. Jangankan penulis sekelas Rendra atau Goenawan Mohammad, Anda juga bisa menemukan koleksi novel dari penulis-penulis baru seperti Dewi Lestari, Habiburrahman El Shirazy, hingga Tasaro. Semuanya tersaji lengkap di sini.

Beberapa kali saya mengetes koleksi perpustakaan ini. Setiap mengingat judul buku yang pernah saya lihat di Indonesia, saya iseng-iseng mengetik di katalog online perpustakaan ini. Demikian pula ketika membaca sebuah buku dalam bahasa Inggris, saya lalu mengecek daftar pustaka. Ketika saya menuliskan sejumlah buku di daftar itu ke website Alden, dengan segera saya akan terkejut ketika menyadari semua buku itu tersedia di Alden. Saya tercengang saat membayangkan betapa luasnya koleksi perpustakaan. Betapa dimanjakannya semua orang yang datang membaca atau ingin menenggelamkan diri di tengah lautan buku-buku. 

Alden di musim semi

Popularitas Alden terkait kajian Asia Tenggara tidak hanya bergema di seputaran negara bagian Ohio, namun juga menjalar hingga ke kampus lain semisal Harvard University. Bulan lalu, salah seorang mahasiswa yang sedang mengambil post-doctoral di Harvard, Jayadi, sengaja datang ke Athens, demi meminjam banyak koleksi buku di Alden.

Mengapa koleksinya sedemikian lengkap? Ungkapan Michel Foucault tentang 'pengetahuan adalah kekuasaan' bisa menjadi penjelasnya. Menurut satu sumber, dahulu, Ohio University menjadi satu dari lima universitas yang didesain untuk mengembangkan kajian Asia Tenggara. Makanya, dana besar dari pihak pemerintah AS digelontorkan demi membangun basis data yang bagus buat kajian Asia Tenggara. Konteks saat itu adalah konteks perang dingin (cold war). Amerika berusaha membangun dominasi di seluruh negara Asia. Demi dominasi itu, beberapa perpustakaan sengaja diperkuat.

Perpustakaan Alden lalu dibangun dengan pola berjejaring dengan perpustakaan di kampus lain. Jika pun satu buku tak ada di Alden, maka kita bisa memanfaatkan fasilitas Ohio Link yakni meminjam buku di semua jaringan perpustakaan di Ohio. Anda cukup mengklik buku itu, maka dalam waktu dua hari, bukunya pasti akan datang. Jika pun tak ada di Ohio, maka anda bisa mengecek buku itu di perpustakaan lain di Amerika Serikat lewat fasilitas jaringan antar-universitas. Malah, anda bisa meminjam koleksi buku yang ada di Library of Congress. Apa sih buku yang tak ada di perpustakaan terbesar di dunia itu? Tak perlu jauh-jauh ke Washington DC untuk meminjamnya, pihak Library of Congress yang akan mengirimkannya ke alamat Anda. Semuanya serba gratis. Anda masih belum tercengang? 

Saya merasa amat beruntung bisa merasakan bagaimana nikmatnya menelusuri koleksi buku di perpustakaan ini. Salah satu kenikmatan terbesar di sini adalah ketika saya mencatat judul buku, kemudian menelusuri buku itu di rak-rak perpustakaan. Dan begitu senangnya saya ketika melihat buku yang selama ini hanya bisa saya bayangkan.

Sungguh menyenangkan jika menulis sesuatu di kampus ini. Literatur yang demikian kaya bisa membantu kita untuk memperluas wawasan, mengamati banyak hal yang boleh jadi luput dari pikiran, lalu membuat sintesis-sintesis atau analisis atas satu kejadian. Banyaknya literatur itu membantu kita untuk melihat sejauh mana peta jalan ilmu pengetahuan tentang sesuatu, melihat kembali apa yang sudah dianalisis dan belum dianalisis, mengasah ulang pendekatan dan metode untuk memahami satu persoalan.

Alden di malam hari
Yang sering menimbulkan beribu pertanyaan dalam diri adalah mengapa tak ada perpustakaan selengkap ini di Indonesia? Mengapa untuk melakukan studi tentang Indonesia, kita mesti berangkat jauh-jauh ke Amerika?

Jawabannya berpulang pada seberapa peduli kita atas pengetahuan. Di Indonesia, pengetahuan tidak pernah dilihat sebagai sesuatu yang amat berharga atau bernilai, sehingga pemerintah tak begitu peduli pada seberapa banyak buku-buku yang beredar di masyarakat. Tak hanya pemerintah, masyarakat kita juga sering tidak peduli pada upaya untuk menjadikan buku sebagai warisan berharga yang wajib untuk dipertahankan.

Makanya, di mana-mana perpustakaan seakan tak terurus. Di kampus Unhas, perpustakaan menjadi tempat pacaran. Koleksi bukunya tak pernah bertambah, serta banyak rak yang dipenuhi sarang laba-laba. Perpustakaan yang merana ini menjadi potret buram dari sejauh mana perhatian kita pada pengetahuan, bisa pula menunjukkan mengapa negeri ini seakan jalan di tempat, tanpa kemajuan berarti sejak Proklamasi pertamakali dikumandangkan.

pancuran air di siang hari
pancuran air di malam hari

Lagi-lagi kita hanya bisa meratap. Pengetahuan kita tercerabut dan dikoleksi bangsa-bangsa lain. Sungguh aneh ketika saya ingin belajar banyak hal tentang Bugis, perpustakaan di kampus Universitas Hasanuddin (Unhas), yang notabene berpijak di tanah Bugis-Makassar, justru tak punya banyak koleksi buku tentang Bugis. Sementara di Athens, Ohio, siapapun bisa menemukan pustaka Bugis yang disimpan di banyak rak.

Sebenarnya, fenomena ini sudah dikeluhkan banyak ilmuwan sosial kita. Demi belajar tentang Indonesia, kita harus jauh-jauh ke Belanda demi membaca ulang publikasi Indonesia. Nampaknya, tak cuma Belanda saja yang tertarik mendokumentasi semua pemikiran kita. Bahkan Amerika Serikat (AS) pun punya koleksi lengkap tentang Indonesia., sebagaimana yang saya saksikan di Alden Library. Negeri-negeri itu menyadari benar pentingnya mencatat dan mendokumentasikan satu pengetahuan tentang satu masyarakat, meskipun masyarakat itu amat dari negerinya. Lantas, masih banggakah kita sebagai pemilik satu khasanah pengetahuan atau kebudayaan, dan di saat bersamaan, kita sendiri tak pernah berpikir untuk menyelamatkan dokumentasi tentang pengetahuan tersebut?



Athens, 13 Mei 2012

11 comments:

  1. kalau di sana, buku-buku itu bisa digandakan ga, aka difotocopy..

    ReplyDelete
  2. @Dewi: di sini sama sekali tidak diizinkan utk menggandakan buku. kita hanya boleh memfotokopi satu atau dua bab. di luar itu, maka akan dianggap sebagai pelanggaran.

    ReplyDelete
  3. Membaca tulisan di atas. Sungguh, malu rasanya. :|

    Percuma saja para pemimpin-pemimpin kita di tanah air mendengungkan sekolah gratis, kalau buku bacaan saja tidak disediakan dengan layak.

    Hufff *tarik nafas*
    Untuk kesekian kalinya saya bilang mau ke ohioooo :|

    ReplyDelete
    Replies
    1. ugha.. don't worry. someday dirimu akan menggapai t4 yg dahulu hanya bisa dibayangkan. sy meyakini itu.

      Delete
  4. Satu hal yang paling saya irikan dari negara Amerika dan Eropa adalah perpustakaan dan museumnya >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya. mereka membenahi perpustakaan dan museum kota.

      Delete
  5. @Ugha: iya. buku memang sangat penting. mestinya semua pihak isa menyadari pentingnya buku.
    @Dweedy: Iya. di sini, perpustakaan dan museum jadi tempat yang paling sering dikunjungi. kalau di Indonesia, orang lebih suka ke mal.

    ReplyDelete
  6. Bagaimana tidak ke mol kak ._. perpustakaan dan museum disini tidak terawat dan berkesan “menyeramkan” .__.

    ReplyDelete
  7. Anonymous6:33 PM

    Bagaimana ya caranya untuk meniru mereka, kami penggiat perpustakaan Sidodadi desa Hargomulyo, Kokap, Kulon Progo, daerah Istimewa Yogyakarta, sedang merintis perpustakaan yang menyenangkan, meskui akan menghadapi kendala-kendala, tetapi sepertinya hal seperti itu sangan dibutuhkan oleh masyarakat kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin kita mesti membuat jaringan antar perpustakaan. biar bisa saling bekerja sama dan saling membantu.

      Delete
  8. keren banget, aku jatuh cinta dgn America, librarynya, semuanyaa...
    Hopely, someday I'll be there too..

    ReplyDelete

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...