Saat Si Cantik Mencintai Si Buruk Rupa

si cantik Vanessa Hudgens, bintang High School Musical, dalam film Beastly

SEBUAH dongeng selalu saja berisi kisah yang mengharukan. Apalagi jika dongeng itu berkisah tentang cinta seroang putri dan seorang pangeran. Semuanya serba sempurna. Namun bagaimanakah kisah antara seorang putri jelita dengan pria buruk rupa? Bisakah mereka dipertemukan dalam satu biduk cinta? Salah satu kisah populer tentang ini adalah kisah Beauty and the Beast, tentang si cantik dan si buruk. Kita mungkin menganggap ini kisah khas ala dongeng. Tapi bisakah kisah ini dibumikan dalam dunia modern?

Kemarin, saya menonton film Beastly di Metropole, Jakarta. Film ini adalah versi modern dari kisah Beauty and The Beast. (dalam bahasa Perancis disebut La Belle et la Bête). Kisah ini adalah dongeng Perancis yang ditulis ulang oleh Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve, dan diterbitkan pertama kali pada salah satu media di tahun 1740. Kisah ini sedemikian popular dan telah beberapa kali difilmkan dalam berbagai versi berbeda. 

Film Beastly mengisahkan seorang pria buruk yang berusaha dengan segala cara demi mendapatkan cinta seorang gadis cantik. Dalam versi dongeng, pria buruk itu sejatinya adalah seorang pangeran yang dikutuk karena tindakannya. Ia bisa memunahkan kutukan apabila berhasil membuat seorang gadis jatuh cinta. Jika itu terjadi, ia akan kembali tampan sebagaimana sebelumnya. Anehnya, dalam versi modern, sang pria tetap saja tampan pada awalnya dan selanjutnya dikutuk seorang wanita gothic yang dipanggilnya penyihir. Ia dikutuk karena suka meremehkan mereka yang secara fisik dikategorikan jelek.

salah satu adegan dalam Beastly

Dari sisi cerita, saya menganggap film Beastly adalah jiplakan total dari Beauty and the Beast. Tak ada kreativitas atau inovasi yang kemudian membuat film ini jadi lebih berisi. Setting-nya memang modern, tapi mitosnya dipertahankan sama persis dengan fairytale atau kisah dongeng. Tak ada penjelasan tentang sihir atau transformasi dari tampan ke jelek, lalu kembali tampan. Kisahnya ala dongeng tentang putrid-putri sehingga ketika disaksikan di zaman ini menjadi sangat hambar. Saya tak menemukan alasan logis tentang transformasi wujud itu. Semuanya terjadi begitu saja, dengan tanpa tongkat sihir.

Saya berharap ada inovasi pada kisah ini. Yang paling saya inginkan adalah bagian ending yang lebih menyentuh. Dalam versi dongeng dan modern, sang pria buruk itu tiba-tiba saja berubah menjadi pria tampan. Saya selalu menyesalkan adegan ini. Sebab pada akhirnya cinta menjadi hal yang amat material dan tunduk oleh apa yang tampak oleh mata. Cinta menjadi sesuatu yang sederhana ala sinetron Indonesia, yang menampilkan wajah bagus dan tubuh indah, lalu cinta tumbuh.

Bagi saya, cinta yang agung adalah sesuatu yang melampaui apa yang tampak. Demi menggambarkan kekuatan cinta, saya lebih senang jika pria itu tetap dalam wujud yang buruk rupa, namun memiliki daya juang untuk melindungi si gadis dari segala bahaya. Pria buruk itu adalah samurai yang setiap saat bisa menghunus pedang demi si gadis, namun di saat lain bisa menjadi embun yang menyejukkan hati, dan mengatasi dahaga cinta sang gadis. 

Inilah cinta yang melintasi segala batasan fisik. Inilah cinta yang tumbuh sebagai kembang yang mekar di hati dua insan, disuburkan oleh rasa yang sama, serta keinginan untuk saling menjagai, saling mengasihi, dan keikhlasan untuk sama dibakar oleh api demi menyelamatkan sosok yang dicintai. Cinta yang sejati melampaui batasan fisikal dan menjelma sebagai debar-debar indah yang berdetak di jantung ketika melihat sosok tempat cinta kita berlabuh. Cinta adalah desir yang berhembus dalam hati ketika membayangkan kekasih hati, dan sesekali bisa berubah menjadi badai ketika menyadari kekasih terancam bahaya. Cinta adalah kekuatan yang hadir di tengah kesunyian dan memberikan semangat untuk terus menggapai firdaus terjauh dan mahligai demi tempat bernaung.

Mungkin inilah pesan moral yang hendak disampaikan. Sayangnya, ending yang buruk itu --tatkala si buruk menjadi si tampan—telah merusak indahnya bangunan cinta antara si cantik dan si buruk rupa.(*)


Jakarta, 20 Juni 2011

film Beauty and The Beast yang dibuat Disney

Comments
3 Comments

3 komentar:

dwi said...

kalo si beast berubah jadi cakep, itu artinya bonus :P

Anonymous said...

ini film baru y kak?
ada di bioskop gak?

klo g ada, kira2 bisa dapat dmana y kak?
makasih infonya.... ^__^

*jadi penasaran dgn film ini stelah baca artikel kk.

Yusran Darmawan said...

iye. ini film baru. tapi versi bajakannya sudah original

Post a Comment

Terpopuler Bulan Ini

...

...