Kenikmatan Para Sopir Mobil di Sulsel

sebuah truk melintas di jalan poros Makassar - Bone
NAMANYA Assi. Usianya sekitar 50 tahun. Tubuhnya kurus kerempeng, namun penuh energi. Sebagai sopir, ia sanggup mengendarai mobil dan mengantar penumpang hingga seharian. Saya bertemu Assi dalam perjalanan dari Makassar menuju satu desa di Bone, Sulsel. Sebagaimana sopir mobil lainnya yang pernah kutemui, Assi paling suka bercerita. Spektrum tema yang dibahasnya sangat luas. Mulai dari pilkada, bisnis, politik nasional, hingga tewasnya Osama pun tidak luput dibahasnya.

Jika bercerita tentang dunianya, ia tahan hingga berjam-jam. Meskipun saya bukan orang Bugis, ia tetap ngotot bercerita dengan bahasa Indonesia yang sesekali diselingi bahasa Bugis yang fasih. Tak paham? Ia akan menjelaskan hingga sejam untuk sebuah pertanyaan. Makanya, saya lebih suka pura-pura paham daripada membiarkannya bercerita tanpa bisa direm.

Mobil yang dikendarainya adalah jenis Isuzu Panther. Kata Assi, mobil ini awalnya dicicl di satu dealer terkenal di Makassar. Dulu, ia hanya sanggup mencicil satu mobil. Tapi kini ia sudah memiliki tiga buah mobil yang saban hari mengangkut penumpang dengan rute Makassar-Bone. bahkan seorang anaknya --yang bernama Iccang-- telah dikadernya untuk membawa satu mobil. Berkat profesi sebagai sopir, ia sanggup menyekolahkan semua anaknya hingga bangku perguran tinggi. Tak tanggung-tanggung, ia berulang-ulang membanggakan anaknya yang kuliah di Universitas Hasanuddin, Makassar. 

Saya harus rela mendengar kisahnya hingga tiga jam lebih. Untungnya, ia lalu menepikan mobilnya di depan sebuah restoran. Kami --para penumpang mobil-- turun dan memasuki restoran tersebut. Assi pun ikut menyusul kami. Namun tempat duduknya terpisah. ia duduk di satu ruang kaca khusus yang bentuknya agak mewah. Ketika kami sibuk memesan menu dan memilih-milih mana yang murah, Assi hanya duduk manis. Tak lama kemudian, datanglah makanan paling mewah di restoran itu yang khusus diantarkan untuknya. Ia juga mendapat jatah rokok serta minuman ekstra secara gratis. Assi melirik ke arahku sambil tersenyum. Ia mengacungkan rokok dan mengajak saya bergabung dengannya. Maka kembali waktu sejam habis begitu ia bercerita tentang dirinya. Untunglah kuping ini sudah mulai tebal.

Ternyata ada simbiosis mutualisme antara para sopir mobil dan pemilik restoran di sepanjang jalan poros di Sulsel. Para sopir mobil mendapatkan fasilitas serba gratis di semua restoran, sepanjang sopir menepikan mobil dan membawa penumpang di situ. Kata Assi, fasilitas yang diterimanya tidak cuma makan saja, melainkan juga rokok, makanan ringan, minuman dingin sebanyak apapun yang dibutuhkannya. Bahkan belakangan ini, ada pula fasilitas cuci mobil secara gratis. Fasilitas ini diberikan oleh para pemilik restoran dengan harapan agar sang sopir bisa selalu singgah sambil membawa penumpang. Bahkan meskipun penumpang cuma satu orang, tetap saja si sopir akan mendapat fasilitas khusus. Sebab jika ia betah di situ, maka ia akan kembali lagi sambil membawa penumpang.

Kita bisa juga menyebutnya sebagai jaringan sosial (social network). Jaringan ini terbentuk secara spontan yang bertumpu pada poros saling membutuhkan antara sopir dan pemilik restoran. Francis Fukuyama pernah menulis bahwa jaringan social ini adalah bagian dari modal sosial (social capital) yang merupakan penanda dari keunggulan sebuah masyarakat. Melalui kerjasama yang erat, kedua belah pihak bisa saling berbagi keuntungan dan saling bekerjasama demi mencapai keuntungan bersama. Para sopir dan pemilik restoran mengajarkan saya tentang pentingnya membangun jaringan yang kukuh, didasari asas manfaat, dan saling menguatkan. Modal sosial –kata Fukuyama—dibangun atas tiga unsur yakni sikap trust (saling percaya), kemampuan membangun isntitusi yang kokoh (institution), serta solidarity atau networking yang kuat.

Melalui dialog yang singkat itu, saya bisa belajar bahwa masyarakat kita punya kekuatan alamiah untuk membangun jaringan social. Inilah yang saya amati pada para sopir mobil seperti Assi. Saat merefleksi kenyataan ini, tiba-tiba saya dicolek pelayan restoran. “Mobil udah jalan Bang. Tadi Assi nacari-cari ki, tapi nda liat ki. Makanya dia jalan saja” Apa?  segera saya berlari ke jalanan dan hanya bisa melihat mobil itu di kejauhan. Apes deh!


0 komentar:

Posting Komentar