Baju Kaos "Rasa Makassar"


YOGYAKARTA identik dengan kaos Dagadu. Bandung identik dengan kaos C-59. Sementara Denpasar identik dengan kaos Joger. Banyak kebudayaan kota di Tanah Air yang direpresentasikan melalui kaos kreatif dengan kalimat serta gambar unik dan khas suatu kota. Bagaimana dengan Kota Makassar?


Selama beberapa tahun ini berbagai jenis usaha kaos yang kreatif sudah banyak hadir di Makassar. Tapi, tidak ada yang bertahan lama. Dulu, saya mengenal kaos Kukana, yang bermarkas di Jalan Cendrawasih, di dekat Stadion Mattoanging, Makassar. Desainnya cukup kreatif, meskipun meniru-niru Dagadu. Bahkan logonyanya juga adalah mata yang melotot dengan alis yang panjang-panjang, seperti Dagadu. Tapi, kalimat-kalimatnya khas Makassar. Lucu-lucu. Sayang sekali, umur Kukana tidak bertahan lama.

Setahun yang lalu, saya membeli kaos Bereng-Bereng, yang bermarkas di Jalan AP Pettarani, Makassar. Desainnya juga lucu-lucu, meskipun kualitas kaosnya tidak seberapa bagus. Saya pernah dapat hadiah kaos Bereng-Bereng. Warnanya biru. Gambarnya adalah serangga bereng-bereng --yang dalam bahasa Makassar bermakna capung. Tapi, kalau diperhatikan dengan teliti, gambar capung itu mirip dengan kemaluan lelaki. Kemudian, ada tulisan yang berbunyi, "Ini bereng-bereng, bukan bere-bere." Bagi orang yang paham bahasa Makassar, pasti akan tersenyum. Dalam bahasa Makassar, bere-bere adalah kemaluan lelaki. Lucu khan?

Kaos Bereng-Bereng dikemas dalam tempat yang unik. Semacam keranjang kecil yang terbuat dari kertas daur ulang. Sangat pas jika dijadikan sebagai oleh-oleh khas Makassar. Sayang sekali, usia Bereng-Bereng juga tidak terlalu lama. Beberapa bulan setelah membeli kaos tersebut, saya datang lagi untuk membeli. Kantornya sudah tutup. Banyak yang membeli kaos itu hanya sekali, dan selanjutnya tidak mau lagi membeli. Dugaan saya adalah kualitas kaosnya yang tidak terlalu bagus. Meski desain bagus, tapi kalau tiak diiringi kualitas kaos yang memadai, maka bisa-bisa akan ditinggalkan oleh para pembelinya.

Hari ini, Sabtu (23/1), saya singgah ke Jalan Lamadukelleng, Makassar. Beberapa hari lalu, saya diberitahu seseorang tentang iklan kaos khas Makassar melalui harian Fajar. Sebagai penggemar kaos oblong, saya penasaran. Namanya adalah Kaos Okko'. Suasananya mirip distro yang didominasi warna oranye. Ada penjelasan bahwa kata okko' diambil dari bahasa Bugis-Makassar makna dasarnya adalah gigit. Tapi, kata okko' sekarang bermakna lain. Kata itu sekarang ditujukan kepada logat khas Bugis-Makassar yang menyelusup ketika seseorang sedang berbicara dalam bahsa Indonesia. Kadang-kadang ada penambahan atau pengurangan huruf. Misalnya kata makan, bisa dilafalkan makang. Atau menyebut nama Arifin dengan ”Ariping.”

Saya melihat ada banyak pilihan desain kaos Okko’. Yang paling saya suka di sini adalah adanya semacam katalog yang berisikan gambar keseluruhan desain serta penjelasan tentang makna desain tersebut. Saya tertarik dengan kaos bergambar komik tentang Pelabuhan Makassar pada tahun 1946. Gambarnya adalah pelabuhan yang ramai, dan ada perahu phinisi di situ. Melalui penjelasan yang tertera pada katalog, saya jadi tahu kalau gambar itu dibuat oleh seorang seniman Belanda yang terbit dalam satu komik. Saya lupa nama seniman itu.

Selanjutnya ada gambar Sultan Hasanuddin. Lagi-lagi ada penjelasan singkat tentang siapa Sultan Hasanuddin, kiprahnya, serta gelar yang diberikan dalam bahasa Belanda. Ada juga kaos bertuliskan Datu Musseng dan Maipa. Ini adalah Rome-Juliet versi Makassar. Bentuk tulisannya adalah ambigram, yang bisa dibaca secara terbalik. Jika Anda pernah membaca novel Angel and Demon karya Dan Brown, pasti paham tentang ambigram tersebut.

Saya juga melihat kaos bergambar Ramang –pemain bola legendaris asal Makassar, juga desain kaos bertuliskan Coto Makassar atau Pallu Bassa, serta gambar desain khas berupa becak dan ada tulisan Tallu Roda (dalam bahasa Makassar berarti tiga roda). Semua desainnya berupa sesuatu, bisa berupa makanan atau tempat-tempat yang bisa membangkitkan ingatan atau kebanggan pada kota ini. Pantas saja jika tagline kaos tersebut adalah Makassar Memories.

Lama memilih-milih, saya lalu mengambil tiga kaos yakni desain perahu phinisi, desain Sultan Hasanuddin, serta desain sejumlah orang yang bermain paraga –semacam bola sepak takraw yang tebuat dari rotan. Berapa harganya? Ternyata cukup mahal yakni satu kaos seharga Rp 80.000. Meski demikian, saya tetap membayarnya. Kaos tersebut lalu dikemas dalam tabung plastik yang terdapat penjelasan tentang makna desain kaos yang kita pilih. Lalu tabung plastik berisi kaos itu lalu dimasukkan dalam kantung plastik khas bertuliskan Okko.

Dari sisi desain, saya puas. Cacatnya hanya satu yakni agak tipis. Padahal, saya berharap agar kualitas kaosnya bisa tebal dan bagus seperti Dagadu atau C-59. Apalagi, harganya jelas lebih mahal. Ini tidak sebanding dengan harga yang dibebankan pada konsumen. Mungkin pemilik kaos Okko ingin menggenjot pemasukan. Tapi kan bukan dengan cara seenaknya memasang harga tinggi, tanpa memandang kualitas.

Tiba-tiba saja saya khawatir, kalau-kalau kaos Okko’ akan bernasib sama dengan Bereng-Bereng. Meski desain bagus dan khas Makassar, namun kualitas kaosnya tidak seberapa bagus. Pastilah susah memaksa pembeli untuk datang kembali ke situ.(*)

10 comments:

  1. deuh...dr aQ mzh du2k d bngku SMA Q pngen bnged bwt uzha kyak gnii...krn sush xri ol3h2 bwt klwrga Q dr luar kota...soal.y gak da dagadu, gareng, joger, to smacm i2...pdhal klo Q pkir mkssr pu.y bxk hal yg bz d bnggain d lwar zna..n Z bangga i2...mdh2an Z bz mwujudkn k ingnanQ....

    ReplyDelete
  2. salam kenal mas,saya daeng siping telah 5 tahun berkiprah dalam dunia ini.silahkan berkunjung ke stand ruko kami di jln maccini raya no.114,atau blog kami di www.daengsiping.co.cc
    kualitas terjamin...kami akan go internasionaljika ada yg pesan banyak.heehe
    kami udah terkenal di makassar
    http://makassar.antaranews.com/berita/11123/kaus-oblong-daeng-siping-beredar

    ReplyDelete
  3. Sekedar konfirmasi...
    Tshirt Bereng Bereng masih ada.. Insya Allah desain terbaru kami segera keluar. Setelah dr ruko di pettarani,kami sistemnya jual online dan sering berpartisipasi dalam pameran/event2 di makassar.
    Untuk kualitas kaosnya dan sablonannya, kami sudah setara dengan dagadu.
    untuk lebih lanjutnya..silahkan kunjungi FB : Bereng Tshirtku.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  4. Alamat lengkapnya di Makassar di mana ya?

    ReplyDelete
  5. Sepengetahuan saya okko yang dimaksud bukanlah gigit seperti yang Kanda Yusran Darmawan tuliskan, tapi lebih tepat jikalau diartikan "menyerempet" atau "sedikit berlebih", seperti anak-anak yang sedang bermain Engklek (Bahasa Jawa) atau Dende-dende (Bahasa Bugis-Makassar) yang kalau menginjak garis itulah yang dinamakan okko. Saya kira inilah yang lebih tepat konteksnya dengan pengucapan berlebihan yang menjadi gaya Bugis Makassar.
    CMIIW

    ReplyDelete
  6. Anonymous5:46 AM

    kebetulan sekali saya mencari baju ala makassar saya sudah keliling makassar namun distro khusus baju ala makassar tidak saya dapatkan .... kalau adayang bisa membantu saya memberi tahu dimana saya bisa mendapatkan baju ala makassar. tolong hubungi saya atau sms ke 0411-7370633. atas bantuan anda saya ucapkan banyak terima kasih.

    ReplyDelete
  7. Anonymous5:47 AM

    call 04117370633

    ReplyDelete
  8. kayanya sudah jarang gan kaosnya....
    susah carinya dmn

    ReplyDelete
  9. Galeri ide
    Depan mall panakukang
    Tiap plang makassar singgah bli baju dstu

    ReplyDelete
  10. Masih ada namanya Galeri Ide
    Dpan mall panakukang
    Sy sring bli klau plang k makassar

    ReplyDelete

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...