Palagimata Ataukah Palagimate?

HARI ini saya menemani mama pergi ke Rumah Sakit Umum Kota Bau-Bau, yang terletak di Palagimata. Mereka yang tinggal di Bau-Bau kerap menyebutnya dengan singkat yaitu Rumah Sakit Palagimata. Dalam bahasa Wolio, Palagimata bermakna sejauh mata memandang. Dinamakan demikian, sebab Palagimata adalah kawasan yang terletak di pebukitan, dan jika kita berada di situ, kita bisa memandang keindahan Kota Bau-Bau dari ketinggian. Kita bisa mengarahkan mata kita melihat indahnya laut, pulau-pulau di depan Bau-Bau, hingga melihat nelayan yang mengembangkan perahu layar di kejauhan.

Beberapa tahun yang lalu, Palagimata adalah sebuah hutan belantara. Kini, di situ sudah berdiri megah kantor Wali Kota Bau-Bau. Tak jauh dari kantor walikota itu, kita akan menemukan gedung rumah sakit berdiri megah. Rumah sakit ini masih terletak di tengah-tengah hutan belantara, sekitar dua kilometer dari Benteng Keraton Buton. Konon kabarnya, rumah sakit ini berdiri di atas sebuah lahan yang dulunya merupakan kuburan kuno atau tempat petilasan (tempat bersemedi) bagi mereka yang hendak mencari kesaktian.

Pemerintah Kota Bau-Bau sengaja membangun rumah sakit itu di tengah hutan dengan harapan agar terjadi perluasan kota. Di kawasan yang dahulunya hutan, sengaja didirikan bangunan pemerintah dengan harapan agar warga ikut membangun rumah. Dengan cara demikian, kota tidak memadat di satu titik, namun melebar sedemikian rupa sehingga lebih luas dan nyaman bagi warga yang hendak beraktivitas.

Keberadaan rumah sakit ini menjadi desas-desus di kalangan publik kota tentang hal-hal yang mistik dan supranatural di situ. Sebagaimana lazimnya pandangan bahwa di rumah sakit banyak hal yang mistis, maka demikian pula di rumah sakit ini. Meskipun masih baru, namun saya sudah banyak mendengar bahwa rumah sakit ini sangat angker sebab terletak di atas pekuburan. Rumor yang paling sering saya dengar adalah saat rumah sakit ini pertama berdiri dan dijagai satpam, keesokan harinya satpam tersebut ditemukan tewas oleh sebab yang tidak jelas. Warga kota langsung mengait-ngaitkannya dengan rumor bahwa rumah sakit ini angker. Sayangnya pula, tidak ada penjelasan secara terbuka dari pihak rumah sakit tentang sebab-sebab meninggalnya sang satpam.

Kini, semakin kuat rumor bahwa siapapun yang datang berobat ke rumah sakit itu, maka kondisinya tidak akan membaik, malah akan memburuk. Selama saya berada di Bau-Bau, saya sering sekali mendengar komentar masyarakat bahwa meninggalnya pasien di palagimata bukan disebabkan penyakit, namun disebabkan oleh para arwah yang menunggui rumah sakit itu. Malah, beberapa warga kota memplesetkan palagimata sebagai palagimate. Dalam bahasa wolio, mate bermakna kematian.

Ketika adik saya Atun dirawat di rumah sakit itu, hampir setiap malam saya mendengar ada yang meninggal di situ. Saya pun ikut khawatir. Tapi seorang kawan yang kerja sebagai tenaga kesehatan di situ beberapa kali meyakinkan saya bahwa rumor itu tidak benar. “Susahnya, karena pasien dibawa ke Palagimata setelah kondisinya parah. Makanya, ada yang tidak selamat,” kata kawan yang sering disapa La Daada itu. Apalagi, kata La Daada, banyak pasien yang datang dari berbagai pulau atau daerah-daerah yang jauh, mulai Muna hingga Wakatobi. Posisi rumah sakit ini adalah sebagai pusat yang menerima rujukan dari begitu banyak puskesmas di berbagai pulau. Pernyataan La Daada itu mungkin ada benarnya juga bahwa banyak pasien yang dibawa setelah kondisinya parah.

Rumor ini kian kuat tatkala di kota ini semakin banyak berdiri klinik swasta yang semakin ramai sejak rumor itu kian kencang beredar. Padahal, fasilitas di klinik sangat minim, dan hanya dirawat dokter biasa, bukan spesialis. Mahal pula. La Daada pernah bercerita bahwa seorang keluarganya yang sakit, ngotot tidak mau dirawat di Palagimata. Akhirnya, keluarganya itu dirawat di Klinik Murhum. Setelah dirawat selama enam hari, La Daada lalu meminta keluarganya menanyakan berapa harga yang harus dibayar. Ternyata, enam hari dirawat sudah harus membayar Rp 6 juta. Terpaksa, keluarganya itu dibawa ke Palagimata dalam keadaan yang justru makin parah. Para dokter langsung angkat tangan melihat kondisinya. Dan dua hari kemudian, keluarganya meninggal dunia. “Sudah bayar mahal di klinik, tetap saja tidak sembuh,” kata La Daada.(*)


Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...