Sekeping Cinta di Buitenzorg


THOMAS Stanford Raffles tak hanya mewariskan buku The History of Java yang luar biasa fenomenal karena berisikan catatan penjelajahan ilmiah tentang pulau itu di masa silam, namun juga memahat jejak cintanya di tengah-tengah Kota Bogor. Ia mewariskan sebuah prasasti yang menjadi pahatan ingatan; bahwa pada suatu masa, ia pernah mencintai seorang wanita dengan begitu dahsyat.

Mulanya, saya membayangkan letnan gubernur asal Inggris ini adalah seorang playboy yang menikmati birahi dan kemolekan gadis pribumi di Nusantara. Mulanya saya membayangkan Raffles seperti Kapten Cook yang disuguhi hidangan pesta seks gadis-gadis Hawaii ketika menjelajah ke pulau indah itu, sebagaimana dicatat dalam penelitian antropolog Marshall Sahlins. Namun hari ini, saya harus mengubur semua gambaran tentang para penjelajah itu. Hari ini saya menyaksikan cinta Raffles seluas samudera yang dirangkum dalam prasasti cinta di tengah Kota Bogor --yang oleh orang Belanda, dulu disebut Buitenzorg.

Bersama mama dan adikku Atun, saya singgah berkunjung ke Kebun Raya Bogor (KRB) demi menghirup udara segar di tengah pekatnya polusi Kota Jakarta. Bogor saat ini menjadi kawasan yang paling banyak didiami mereka yang bekerja di Jakarta. Makanya, kereta rel listrik (KRL) menuju Bogor selalu padat sebab dipenuhi mereka yang hendak kembali ke rumahnya. Kami naik kereta ekonomi AC yang penuh dengan manusia. Bagiku, ini adalah hal yang biasa saja sebab menjadi rutinitasku selama tinggal di Depok. Namun tidak bagi mama dan Atun. Mereka terlihat excited dan menikmati pengalaman naik kereta ini sebagaimana anak kecil yang dapat mainan baru. Kulihat, mereka bahagia sebab akhirnya bisa juga menumpang kereta dalam rentang panjang pengalaman mereka.

Ketika memasuki kota ini, suasananya adalah hujan rintik-rintik dan kian menguatkan sebutan Bogor sebagai kota hujan. Saat berjalan memasuki kebun raya sejauh 100 meter, saya akhirnya menemukan prasasti ini. Prasasti itu berupa sebuah batu bertulis serta patung kecil. Prasasti itu disebut Lady Raffles Memorial. Di samping tugu tersebut, terdapat tulisan:

Selamat datang di Tugu Lady Raffles, sebuah bangunan unik yang mempunyai nilai sejarah. Di sini Sir Thomas Stanford Raffles, seorang letnan gubernur Inggris di Pulau Jawa (1811-1816) mendirikan monumen kenangan bagi istrinya Lady Olivia Marianne yang meninggal pada tahun 1814 di arena Kebun Raya Bogor.

Membaca tulisan ini saya tercenung sesaat. Ternyata, kebun ini bukan cuma sebuah wahana ilmiah bagi mereka yang menggemari dunia konservasi. Kebun yang didirikan sejak masa Belanda ini juga mewariskan satu keping kisah cinta dari seorang manusia di masa silam, yang jejaknya diupayakan agar bertahan hingga masa kini. Saya penasaran dengan lanjutan kisahnya. Mudah-mudahan kelak akan ada seorang novelis yang tertarik menelusuri kisah cinta itu dan dituliskan dalam novel. Pastilah ini akan menjadi sisi lain dari kisah Raffles yang masyhur sebagai penjelajah, saintis, maupun pendiri negeri Singapura.

Sayangnya, prasasti itu tidak bercerita banyak. Setelah kutipan di atas, selanjutnya yang muncul adalah tulisan singkat tentang istri Raffles tersebut. Tulisannya sungguh singkat untuk merangkum kenangan Raffles tersebut. Tulisan lanjutan itu berbunyi:

Lady Olivia Marianne lahir di India tahun 1771. Pada usianya yang ke-43, ia menderita sakit malaria, sehingga Raffles membawanya ke istana Buitenzorg untuk beristirahat. Hanya berselang enam bulan, Lady Raffles meninggal dan dimakamkan di pemakaman orang-orang Eropa, Taman Pemakaman Umum Kober, Tanah Abang, Jakarta.

Sebegitu cintakah Raffles pada Olivia hingga ia membangun monumen yang selalu menjaga kenangannya? Seperti apakah sosok Olivia? Apakah ia demikian cantik ataukah ia begitu menyayangi Raffles hingga dirinya layak menerima penghormatan dalam prasasti cinta itu? Berbagai pertanyaan memnuhi benakku. Saya teringat berbagai literatur tentang studi ingatan yang pernah saya baca. Sebuah kenangan kadang hadir dengan utuh, namun kadang pula hadir dengan penggalan-penggalan. Ketika manusia membangun monumen atau tugu peringatan, maka monumen itu bermakna sebagai jembatan yang menautkannya dengan masa silam, atau suatu peristiwa atau seseorang yang demikian penting bagi dirinya. Simbol itu menjadi technologies of memory (teknologi ingatan) yang menjaga kelangsungan ingatan dan mewariskannya dari satu generasi kepada generasi yang lainnya.

Raffles adalah seorang pria humanis dan pencinta. Kota Bogor menjadi saksi sejarah tentang cinta yang bergemuruh di hari seorang pria pada periode akhir jelang runtuhnya kolonialisme Eropa di Nusantara. Seperti halnya Taj Mahal yang dibuat khusus Shah Jahan untuk mengenang istrinya Mumtaz Mahal (dalam bahasa Persia berarti “kecantikannya dipilih oleh surga”) maka Raffles juga membuat prasasti sebagai tanda cinta kepada istrinya Lady Olivia Marianne yang meninggal pada tahun 1814 tepat di tengah Kebun Raya Bogor. Di tengah kebun itu, berdiri megah Istana Bogor, yang menurut catatan sejarah, pernah didiami Raffles selama beberapa waktu.

Saya hanya bisa merasakan sebegitu besarnya cinta Raffles pada perempuan itu. Barangkali cinta memang butuh aktualitas atau jejak material. Barangkali cinta butuh monumen untuk kelak diawetkan dan tak lekang oleh waktu. Saya bisa memahami kenapa ia tak menuliskan secara detail tentang cintanya pada Olivia. Mungkin ia sengaja tidak menuliskan secara utuh sejauh mana gejolak cintanya. Kalaupun cinta dikisahkan, apa kata sanggup untuk merangkum dimensi rasa yang indah dalam diri seseorang?. Saya kira tidak. Kata-kata itu terlalu miskin untuk mengisahkan cinta. Pada titik ini, Raffles berpikir bahwa cinta sangat personal, hanya bisa dimaknai secara pribadi. Cinta hanya untuk dikenang. Bukan untuk dikisahkan.

Pantas saja prasasti itu demikian singkat pesannya. Bahkan kalimat akhir juga singkat dan tak ada kaitannya dengan Raffles. Kalimat akhir prasasti itu berbunyi “Pada 4 Januari 1970, tugu ini mengalami rusak berat akibat angin ribut. Rekonstruksi dilakukan pada bulan Agustus 1970. Konon, tempat tugu ini berdiri merupakan titik tengah Kota Bogor."

Bagian yang menurutku paling indah sekaligus misteri adalah sebuah pesan cinta dari Raffles dalam bahasa Inggris klasik. Mungkin inilah kunci yang menjelaskan apa kenangan yang coba dipertahankannya. Pesan itu sungguh indah. Baca dan resapi pesan cinta dari masa lebih dari seratus tahun yang silam:

Ou thou whom neer my constant heart
one moment wath forgot
tho fate severe hath bid us part
yet still forget me not

Luar biasa!! Ada cinta yang dikabarkan melalui angin dan melintasi waktu. Ada kenangan yang coba dipertahankan dari terjangan gelombang waktu. Ada keajaiban yang gemuruh dalam hati dan tak lekang oleh zaman. Saya pun ingin agar kelak bisa membuat pahatan ingatan seperti itu. Saya iri dengan Raffles.


Bogor, 29 Januari 2009

1 comment:

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...