Melihat Mama yang Kian Renta

 


Berita duka itu datang saat saya kuliah di semester dua. Bapak saya meninggal tanpa ada jejak sakit. Semuanya serba mendadak.

Bapak meninggalkan istri dan empat anak. Kami semua masih sekolah. Saat itu, saya membayangkan masa depan yang gelap. Sebagaimana lazimnya orang Buton lainnya, yang saya pikirkan adalah merantau dan buang diri ke Ambon. Atau tidak ke Papua. Bisa pula Malaysia.

Di saat gelap itu, Mama menjadi matahari yang menguatkan hati.  Dia tak lama bersedih. Dia bangkit dan meyakinkan anaknya untuk tetap sekolah. Tak sepeser pun jatah bulanan dikurangi.

Dia hanya seorang guru sekolah dasar, lulusan SPG. Gajinya tak seberapa. Dia pikul beban sebagai kepala keluarga. Setiap hari dia melangkah dengan tertatih-tatih ke sekolah untuk mengajar. Dia bangkit sebab ada kaki-kaki yang membutuhkannya.

Sampai detik ini saya tidak paham bagaimana rumusnya bisa bertahan dan menyekolahkan empat anak. Gaji guru yang tak seberapa itu dikirimkannya untuk semua anaknya.

Rupanya dia tak cuma mengajar. Sepulang sekolah, dia membuat es kantong, kadang manisan kedondong. Setiap hari dia ke sekolah membawa termos es kantong yang dijual ke murid-murid. Hasilnya recehen. Tapi itu cukup untuk sekadar biaya hidup.

Dia perencana keuangan paling hebat yang pernah saya kenal. Dia sisihkan receh demi receh untuk anaknya. Dia menjalani hidup yang bersahaja demi kebahagiaan anaknya. Saat semua anaknya berhasil, dia tak pernah meminta. Dia matahari yang selalu memberi.

Kini, dia perlahan menua. Langkahnya kian tertatih. Tapi masih saja dia memikirkan anaknya. Semangat dan dedikasinya tetap menyala-nyala, meskipun fisiknya kian lelah.

Bersamanya saya selalu kehilangan kata. Tubuh renta itu adalah oksigen yang memberi saya nafas kehidupan.

Tangan yang kecil dan keriput itu pernah memikul beban yang jauh lebih kuat dari apa pun.

Kaki yang kian berat menyangga tubuh itu adalah kaki yang setiap langkahnya adalah ibadah untuk anak-anaknya. Dia paripurna sebagai manusia yang mendedikasikan dirinya untuk anaknya. Dia lulus tempaan demi tempaan kehidupan.

Di mata yang kian tua dan sayu itu, saya bercermin dan melihat betapa bengalnya diri ini yang belum juga bisa memuliakannya.

Di mata itu, saya melihat potret diriku yang angkuh dan sesumbar hendak berpetualang dan menaklukan dunia, namun tak kuasa untuk memikul bebannya, tak kuat menjadi matahari seperti dirinya.

Di mata itu, saya melihat diri ini yang bangsat, dan dia yang selalu siap jadi telaga jernih untuk tempat kembaliku saat hendak membasuh karat di hati. Kurenangi dan kuselami samudera hatinya yang amat luas.



1 komentar:

Ubaidi Abdul Halim said...

kasih sayang seorang ibu kepada anaknya tiada batasnya. sangat meninspirasi bang

Post a Comment