Melawan dengan LIPSTICK dan SEKS


Sasa di kampus Unhas

Perempuan muda itu bernama Sasa. Dia ikut dalam aksi menolak Omnibus Law. Saat berorasi, mahasiswi Universitas Hasanuddin tampil dengan segala kemudaannya. Kaos hitam, celana jeans sobek, dan masker hitam. Tangan kanan memegang pelantang suara, tangan kiri terangkat ke atas, dengan jemari menjepit rokok. Kata anak Jakarta, “Gue suka gaya lo.”

Dari ratusan demonstrasi yang tumbuh bak cendawan di musim hujan, aksi Sasa akan menjadi monumen yang selalu dikenang. Gambarnya akan menjadi sesuatu yang ikonik, pengingat atas aksi menolak Omnibus Law. Gambar itu pantas menghiasi lembaran sejarah.

Di era ini, kita melihat mahasiswa tak lagi menjadi aktor tunggal. Malah, siswa sekolah menengah kini sama beraninya dengan mahasiswa. Kita melihat bangkitnya kesadaran anak muda untuk berani bersuara. Aksi Sasa bahkan lebih ramai dibahas para netizen di Malaysia. Mereka tidak menyangka anak muda Indonesia bisa seberani itu. Dia menjadi inspirasi.

BACA: KIsah OMNI yang Ketinggalan BUS


Di tahun 2020, kita menyaksikan heroisme mahasiswa yang tumbuh di mana-mana. Sebetulnya, banyak orang yang paham situasi, tapi menolak untuk turun ke jalan. Banyak orang yang lebih suka provokasi dan setiap saat nyinyir di medsos. 

Namun, generasi yang ikut demonstrasi di tahun 2020 harus menyadari kalau mereka tidak punya stamina dan energi yang panjang untuk terus menjadi kerikil di sepatu rezim. Lihat saja, aksi yang mereka lakukan dengan mudah ditekuk aparat. Seharusnya mereka berpikir lebih canggih dari aktivis tahun 1998. Saatnya merumuskan gerilya dan strategi lain untuk terus menyampaikan sikap pada rezim. 

Aksi Sasa memang heroik. Namun di era 4.0, ada banyak pilihan strategi yang bisa dipilih untuk menggerakkan perubahan sosial. Di satu masa, sekadar demonstrasi sudah bisa menggerakkan rezim. Di masa kini, aksi-aksi harus lebih mengalami amplifikasi agar pesannya bergema lebih lama.

Apa ada variasi aksi lain yang lebih efektif? Banyak. Sejarah menunjukkan aksi-aksi perlawanan tak harus dilakukan melalui aksi heroik di jalan-jalan. Perubahan banyak dipicu oleh tindakan-tindakan kecil yang serupa rumput liar bisa merobohkan tembok kekuasaan

Mereka yang mengubah sejarah tak selalu para pahlawan, prajurit hebat, ataupun manusia dengan trah separuh dewa yang jatuh dari langit. Pemicunya adalah orang-orang biasa yang melakukan tindakan-tindakan kecil, yang lalu menggugah publik.

Saat siswa sekolah menengah kita membakar mobil polisi, seorang anak kecil berusia 15 tahun bernama Greta Thunberg berbicara di hadapan pemimpin dunia dengan kalimat yang menuding: "Kalian telah mencuri impian dan masa kecil saya dengan kata-kata kosong kalian."

Dia tak perlu teriak di jalan-jalan sembari menghadapi desingan peluru dan kabut gas air mata. Sebab dia tahu cara paling efektif untuk mengetuk kesadaran orang demi memberi tahu ada sesuatu yang keliru. Dia pandai memanfaatkan semua kanal komunikasi untuk menyebarkan semua pesan-pesan politiknya.

Kita bisa mengurai banyak contoh lain. Aksi mencuci bendera bisa menggetarkan rakyat Peru, pesan tersembunyi pada desain mata uang bisa menggelisahkan rakyat Myanmar, permainan sepakbola Didier Drogba bisa mengharu-biru Pantai Gading, hingga kalimat petinju Muhammad Ali bisa menggetarkan warga Amerika untuk mempertanyakan ulang makna nasionalisme negara yang memaksa warganya untuk menempur warga belahan bumi lain.

Jangan terkejut kala mengetahui gerakan emansipasi hak sipil dimulai dari perempuan bernama Rosa Parks yang menolak memberikan kursinya di bus pada tiga orang lelaki kulit putih. Mari pula beri ruang pada Malala Yosefai, perempuan berusia 25 tahun yang pidatonya menggetarkan rezim otoriter yang selalu menebar teror.

Greta Thunberg


Tak hanya itu, gosip-gosip bisa memukul rezim yang memulai perang di Darfur, Sudan Selatan. Jangan terkejut kalau menemukan fakta jatuhnya rezim Slobodan Milosevic dimulai dari aksi mengutak-atik foto melalui program photoshop, jatuhnya rezim Ferdinand Marcos berawal dari sejumlah perempuan yang menolak untuk mengubah suara pemilu.

Lihat pula, revolusi di dunia Arab, yang kerap disebut Arab Spring, dimulai dari aksi meneruskan pesan di twitter. Perempuan Serbia beraksi dengan dandanan seksi dan lipstick merona demi menghentikan perang. Tengok pula aksi menolak hubungan seks para perempuan Sudan bisa menghentikan perang saudara selama 20 tahun. Hah?

*** 

Saya membaca kisah-kisah menggetarkan itu pada buku Small Acts of Resistance: How Courage, Tenacity, and Ingenuity Can Change the World yang ditulis Steve Crawshaw dan John Jackson. 

Buku ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Roem Topatimasang, dan diterbitkan Insist dengan judul Tindakan-Tindakan kecil Perlawanan: Bagaimana Keberanian, Ketegaran, dan Kecerdikan Dapat Mengubah Dunia.


Membaca buku bagus ini membuat mata saya lebih jernih dalam melihat banyak hal. Batin saya beberapa kali tersentuh membaca 15 kisah perubahan sosial, yang semuanya dimulai dari tindakan-tindakan kecil.

Saya mengamini kalimat di awal buku: “Seseorang yang berjiwa bebas, dengan segenap ingatan dan juga ketakutannya, adalah sebatang tetumbuhan air yang rantingnya membelokkan arah deras arus sungai.”

Kutipan lain yang juga menyentuh saya adalah kutipan dari Bertolt Brecht. “Kata anak lelaki itu, ia belajar tentang bagaimana air yang lembut menitik, selama sekian tahun akan melubangi batu yang keras sekali pun. Kekerasan akan kalah juga akhirnya.”

Yang saya rasakan dari kutipan ini adalah perubahan selalu dimulai dari individu yang gelisah, lalu punya sedikit keberanian untuk menyatakan sikap. Keberanian itu serupa api kecil yang membakar ilalang kesadaran, yang terus membesar lalu menjadi gerakan sosial.

Dalam buku ini, saya membaca cerita tentang anak muda kulit hitam yang berani memasuki restoran dan duduk di kursi yang hanya diperuntukkan bagi warga kulit putih. Di tengah iklim politik yang menindas kaum kulit hitam, tindakan itu akan berdampak pada penangkapan.

BACA: Di Rimba Digital, Kita Adu Taktik


Anak muda itu memang ditangkap, tapi tindakannya menggugah orang lain, yang juga datang untuk duduk di kursi itu. Ratusan orang lalu bergantian duduk, hingga akhirnya memenuhi penjara. Aksi duduk itu lalu membakar kesadaran, memicu perlawanan, yang lalu berkembang jadi revolusi.

Buku ini bisa menjadi pegangan bagi semua praktisi gerakan sosial. Di dalamnya kita tak menemukan satu pun teori yang berat-berat, melainkan kisah-kisah inspirasi yang mengisahkan tentang banyaknya perubahan yang justru dimulai dari hal-hal sederhana. Beberapa kali nurani saya basah saat menemukan kegelisahan yang lalu dijelmakan dalam tindakan biasa, namun sukses menggugah banyak orang.

Miss Sarajevo yang memrotes perang di Bosnia

Saya suka kisah tentang perempuan Bosnia. Di tengah peperangan, mereka tetap berdandan modis, dengan lisptick merah merona. Di tahun 1993, warga Bosnia yang benci perang mengadakan kontes kecantikan. Para gadis-gadis cantik itu berpose di atas panggung yang terdapat spanduk besar bertuliskan “Don’t let them kill us!” Pesan itu bergema ke mana-mana. Grup musik U2 lalu membuat lagu berjudul Miss Sarajevo, yang liriknya adalah:

Is there a time for kohl and lipstick
Is there a tme for cutting hair
Is there a time for high street shopping
To find the right dress to wear

Apakah di sana ada waktu untuk maskara dan gincu
Apakah di sana ada waktu untuk memotong rambut
Apakah di sana ada waktu untuk belanja.
Untuk mendapatkan busana yang pantas disandang.


Bisa Anda bayangkan, sebuah acara lomba miss kecantikan diselenggarakan di tengah desingan peluru. Para perempuan Bosnia itu hendak menyatakan sikap benci pada perang yang berdampak luas. Siapa sangka, revolusi bisa dipicu oleh lipstick merah dari perempuan seksi.

Hal yang sama juga terjadi di Afghanistan ketika protes disuarakan melalui kontes Afghan Stars, lalu aksi protes warga Estonia atas rezim otoriter yang dilakukan dengan cara bernyanyi, hingga memicu The Singing Revolution.

Yang membuat saya terenyak adalah revolusi bisa dimulai dari hal-hal yang mungkin dianggap sederhana oleh banyak orang. Di Sudan, Lubna Hussein divonis bersalah dan akan diberi hukuman cambuk hanya karena mengenakan celana panjang, yang dianggap tidak sopan.

Ia melalui proses di pengadilan, lalu menjelaskan argumentasinya tentang perempuan. Ia membaca banyak kitab, dan mengejutkan orang-orang dengan pertanyaan kritis, yang lalu mengubah pandangan orang-orang.

Hal-hal besar sering kali dimulai dari hal-hal kecil, hal biasa, hal terabaikan. Yang barangkali bisa dilakukan adalah senantiasa konsisten, tetap mengikuti jalan nurani dan kebenaran, serta menyatakan sikap di tengah ketidakadilan.

Saya menganggap, ini bukan hal yang mudah, sebab sering kali pernyataan sikap bisa menggerakkan orang lain, yang lalu membuat hidup jadi tak nyaman.

Di buku ini, ada kisah inspiratif dari petinju hebat Muhammad Ali. Di puncak kariernya, ia justru menolak wajib militer dari negara untuk ikut perang Vietnam. Kalimatnya menghujam, “Mengapa pula saya disuruh memerangi Vietcong, sementara mereka tidak pernah mengatakan saya negro?”

Ali membuka borok rasisme yang sedang melanda Amerika Serikat, saat warga kulit hitam menjadi warga kelas dua. Pernyataan itu membuat Ali disekap, dicabut gelarnya, dilarang mengikuti kejuaraan dunia. Selama tiga tahun, ia kehilangan hak untuk bertinju, justru di tengah-tengah masa keemasannya.

Aktor Richard Harris mengatakan,” Setiap petinju selalu berusaha dan bersedia menjual jiwanya demi gelar sebagai juara tinju. Apa yang Ali lakukan? Dia justru menemukan kembali jiwanya dengan melepaskan gelar juara dunia itu.”

Muhammad Ali


Kisah lain yang juga mengejutkan adalah perempuan di Sudan Selatan. Perempuan bernama Samira Ahmed gelisah dengan perang saudara yang tak kunjung usai. Dua wilayah, yakni utara dan selatan, dibakar dendam berkepanjangan hingga memicu perang selama 20 tahun.

Samira ingin menghentikan perang. Dia muak dengan perang yang tak kunjung usai. Dia lalu mengorganisir perempuan di dua wilayah itu untuk bersatu. Mereka lalu membuat gebrakan melalui aksi menolak hubungan seks.

Aksi itu memang menggemparkan. Aksi itu adalah sexual abandoning (penelantaran seksual) yang lalu membuat para lelaki sejenak berhenti berperang lalu memikirkan hal-hal lain yang lebih penting.

“Perempuan-perempuan itu sama berpikir bahwa dengan menolak hubungan seks dengan suami, mereka bisa menekan lelaki untuk mengusahakan perdamaian. Taktik itu berhasil,” kata Samira.

Di tahun 2009, taktik ini juga dilakukan oleh para perempuan Kenya. Aksi mogok seks itu bisa memaksa presiden dan perdana menteri untuk ikut berunding dengan para perempuan itu.

***

SAYA senang membaca banyak contoh-contoh dalam buku ini yang membuka mata kita semua. Saya teringat pada buku James Scott yang berjudul Weapons of the Weak. Bahwa perlawanan orang lemah bisa diartikulasikan dengan banyak cara.

Pelajaran bagi mahasiswa dan para aktivis kita adalah terdapat banyak cara dan strategi untuk mendorong perubahan sosial. Anda hanya perlu kreatif dan bisa memaksimalkan semua teknologi jaman now yang memudahkan semua orang untuk berkonsolidasi demi aksi.

Buku Weapons of the Weak


Kata James Scott, perlawanan bisa disalurkan melalui simbol, gosip, hingga pesan yang lalu ditangkap oleh banyak kalangan. Perlawanan itu melalui cara-cara kultural yang pesannya lebih cepat tersebar dan memicu gerakan yang lebih besar.

Kita bisa melihat banyak contoh di negeri kita. Ada banyak orang hebat di sekitar kita yang perlu digali kisahnya demi menjadi nutrisi bagi anak-anak muda untuk melakukan perubahan.

Beberapa tahun lalu saya bertemu Maria Loretha, atau kerap dipanggil Mama Tata, yang menginspirasi warga untuk menanam sorgum di Pulau Adonara. Dengan cara itu, ia mengajarkan kemandirian pangan, serta sikap tidak tergantung pada pasokan beras, yang didatangkan dari Jawa.

Saya juga pernah bertemu dengan Ismail, anak muda di Berau yang mendirikan bank ikan lalu mengajak para nelayan berpartisipasi, serta tidak tergantung pada lintah darat.

Di sekitar kita ada banyak para champion atau juara yang bekerja dalam diam, menggugah kesadaran, lalu melakukan hal-hal luar biasa. Mereka tak suka dengan publisitas. Yang mereka kejar bukanlah kemasyhuran atau popularitas, lalu memajang wajah di berbagai baliho di banyak sudut kota. 

Orang-orang ini melakukan banyak hal-hal besar dengan langkah-langkah kecil demi membumikan pohon-pohon gagasannya agar tumbuh kokoh dan menginspirasi orang banyak.

Orang-orang ini bekerja untuk keabadian, berbuat untuk sesuatu yang jauh lebih bermakna. Meskipun mereka tak dicatat sejarah, nama mereka tergurat di hati banyak orang di sekitarnya. Mereka menggerakkan perubahan sosial.

Saat membayangkan orang biasa yang memantik perubahan sosial, sayup-sayup saya mendengar lantunan suara Bob Marley, penyanyi reagge asal Jamaika:

Emancipate yourself from mental slavery, 
None but ourselves can free our minds.
Have no fear for atomic energy,
'Cause none of them can stop the time.
How long shall they kill our prophets,
While we stand aside and look?
Some say it's just a part of it,
We've got to fulfill the book.
Won't you help to sing
These songs of freedom?
'Cause all I ever have,
Redemption songs,
Redemption songs,
Redemption songs.




13 komentar:

Dafid said...

Inspiratif bagi generasi muda kita
Satu kata kapan kita bisa bangkit untuk kemasalahatan umat

Alfiandri Andri said...

Wow... Amazing 👍🤘

mamnunlaidu@gmail.com said...

Inspiratif

mamnunlaidu@gmail.com said...

Aku suka

Unknown said...

I like very much

Bung Asri : Sang Aspirator said...

Tulisannya sangat menggugah bang...

Ali Lukaraja said...

Terinspirasi

Unknown said...

Selalu membuat sy betah lama2 pd gadget

Ica said...

Setelah baca ini saya langsung demam 🔥🔥🔥

Zulkifli Amma/Teori Heliosentris Melawan FirmanNya said...

Salam Pipibol Untuk Dunia Sport Olah Pikir & Kemanusiaan 🌏👍

Ag hendra yono said...

Mantap skali bang tulisanya

Tadung said...

Right man in right place

LA EDI said...

Tepat pada sasaran.

Post a Comment