Di Balik Ketenangan HASSAN NASRALLAH




Timur Tengah memanas. Saya tak menemukan banyak berita di media-media kita, termasuk CNN. Semalam saya nonton Al Jazeera. Momentumnya tepat. Pemimpin Hizbullah, Hasan Nasrallah, sedang berpidato di hadapan ribuan massanya di Libanon, semalam.

Bendera merah telah berkibar di atas Masjid Agung Jamkaran di kota Qom, Iran. Di banyak tempat, ada duka serta rasa marah yang tertahan. Laskar Hizbullah mengalami itu.

Hassan Nasrallah sedang dalam kedukaan karena tewasnya jenderal asal Iran yang telah diakui perintah dari Donald Trump. Dia tetap tenang. Kalimatnya tidak bergelombang. Dia menyampaikan pesan kuat dalam bahasa yang mengalir tenang bak sungai jernih.

Retorikanya sungguh beda dengan Donald Trump yang dengan mudah memaki dan memojokkan orang lain. Trump memang dikelilingi privilise. Kisah hidupnya bergelimang kemewahan. Dia besar sebagai pebisnis. Bertahun-tahun dia membiayai kontes kecantikan Miss USA. Dia pun tak malu-malu tampil di kasino Las Vegas.

Trump tak tahu seperti apa kehilangan. Dia pun dengan mudahnya memberi persetujuan untuk membunuh orang lain, tanpa ada bukti-bukti awal sebelumnya. Jika jenderal itu teroris, tentunya namanya akan setenar Osama bin Laden yang diburu sepanjang waktu. Kali ini tak ada dialog. Bom telah menewaskan jenderal itu, tanpa pembelaan.

Beda dengan Trump, Nasrallah sangat paham seperti apa kehilangan. Bagi pemimpin Hizbullah, simbol perlawanan bagi kaum sunni dan syiah, kehilangan adalah kawan sekarib-karibnya.  Di tahun 1997, putranya, Sayid Hadi, gugur saat bentrok dengan Israel. Dia baru bisa memeluk jenazah putranya setahun berikutnya saat terjadi pertukaran dengan serdadu Israel.

Dalam duka yang mengepung, dia tetap bisa berpikir jernih. “Sayid Hadi adalah tanda bahwa dalam memimpin Hizbullah, kami tidak membesarkan anak-anak untuk menjadi pemimpin Hizbullah. Kami bangga dengan anak-anak kami yang pergi ke garis depan dan akan bangga dengan kesyahidan mereka.”

Kini, saat dia mengalami kehilangan, kalimatnya tetap terjaga. Tak ada sumpah serapah dan caci-maki selangit. Dia tetap santun dalam kalimat-kalimat yang menusuk. “Membunuh Jenderal Sulaimani berarti menargetkan seluruh Sumbu Perlawanan.“

Tapi bagi yang paham semiotika, kalimat yang tenang itu adalah tanda semarah-marahnya seseorang. Di kampung saya, seseorang yang teriak-teriak sembari mengacungkan badik bisa dipastikan adalah penakut yang tidak berani menusuk. Jika dia memang pemberani, maka dia akan tenang, mendekat, lalu menusuk.

Kehilangan jenderal itu bukan hanya kehilangan bagi Iran, tetapi juga kehilangan banyak orang. Bagi Trump, aksi itu penting untuk menaikkan popularitasnya. Tapi harga yang dibayar terlampau mahal.

Beberapa kawan saya di Amerika bercerita bagaimana ketatnya bandara serta berbagai pusat perbelanjaan di sana. Negeri itu kembali memasang mata dan telinga demi mengantisipasi peristiwa yang bisa terjadi. Keamanan diperketat. Gerak-gerik warga menjadi terbatas.

Di abad yang penuh teknologi ini, perang memang mengandalkan artificial intelligent. Semestinya warga Paman Sam bisa lebih tenang menyikapi pernyataan pemimpin Iran akan adanya balas dendam. Dalam film-film Hollywood, Paman Sam cukup menekan satu tombol, maka rudal akan meluncur ke satu titik.

Lagian, seperti dicatat Harrari, di abad ini negara-negara tidak akan memilih perang sebagai opsi penyelesaian masalah. Sebab perang hanya akan menguras cadangan ekonomi. Perang bukan bisnis yang menguntungkan. Tapi butuh satu orang gila untuk memulai perang. Itu yang terjadi sekarang.

BACA: Jika AS Perang dengan Cina, Apa Kata Harrari?

Apakah Trump ingin perang? Belum tentu. Perang hanya efektif untuk meningkatkan daya tawar politik. Targetnya jangka pendek untuk kembali mengerek popularitas.

Tapi dia mengabaikan siapa yang sedang menjadi sasarannya. Dia memukul gong perlawanan dengan mereka yang justru merindukan kematian di jalan Tuhan. Dia hendak konflik dengan mereka yang siap menjemput kesyahidan, mereka yang tak takut dengan ancaman kehilangan selembar nyawa.

Bagi Nasrallah dan juga pejuang-pejuang di jalannya, kematian adalah sesuatu yang disongsong dengan penuh kegembiraan. Mereka memahami bahwa kematian hanyalah jalan untuk bersatu kembali dengan sang pencipta, semacam jalan untuk membawa mereka pada posisi spiritualitas yang tinggi.

Di setiap malam Jumat, matanya basah saat melafalkan doa kumayl, yang salah satu kalimatnya: “Jika aku bisa bersabar menahan siksa-Mu, mana bisa aku bersabar untuk berpisah dari-Mu.”

Di titik ini, dunia paham betapa berkarismanya para pemimpin spiritual seperti dirinya. Kalimatnya terjaga. Mereka jauh dari kemewahan. Hidupnya hanya untuk umat dan bangsa. Orang-orang percaya sebab melihat hidup yang sederhana dan didedikasikan untuk orang lain. Mereka membawa suara langit ke bumi, lalu menjadikan diri mereka sebagai teladan bagi manusia lain.

Saya teringat beberapa tahun lalu saat bertugas meliput kedatangan Ahmadinedjad di Masjid Istiqlal, Jakarta. Semua orang ingin mendekat dan menyentuhnya. Saya beruntung bisa memegang jenggot pemimpin yang sederhana itu.

BACA: Menyentuh Pipi Ahmadinedjad

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, juga telah memberikan warning. Pemimpin yang hidupnya didedikasikan untuk jalan peperangan, pemimpin yang tetap memilih jalan hidup sederhana sebagai rahib, santo, atau ulama ini tetap tampil apa adanya demi menyerap spirit kenabian.

"Kehilangan jenderal kami memang pahit. Namun meneruskan perjuangannya dan mencapai kemenangan bakal membuat para penjahat getir," janjinya.

Khamenei telah memberikan fatwa. Namun, saya meyakini Iran tidak akan memberikan perlawanan terbuka. Mereka akan memilih jalan panjang, namun tidak merasa lelah demi mencapai apa yang diinginkan.

Kata Trump dalam cuitannya, Iran memang tidak memenangkan apa pun di era perang moderen. Tapi dia lupa kalau ada spirit perlawanan yang diwariskan dari generasi ke generasi, dari satu zaman ke zaman lain, dari satu peristiwa kematian ke peristiwa kematian lain.

Di semua periode itu, para singa-singa padang pasir yang berhati lembut silih berganti hadir dalam sejarah. Mereka berbaris untuk menjemput kemuliaan dalam dekapan Sang Pencipta dan para imam yang lebih dahulu berpulang.

Mereka tak sebanding dengan sumber daya yang dimiliki Paman Sam. Mereka semut di hadapan gajah. Mereka adalah liliput di hadapan Gulliver. Mereka adalah David di hadapan Goliath.

Tapi kita sama tahu kalau akhir kisah itu seringkali mengejutkan.




0 komentar:

Post a Comment