Buku yang Saya Sukai di Tahun 2019




Di awal tahun 2019, saya dijangkiti virus bibliomania, yakni kebiasaan membeli banyak buku kemudian menumpuknya begitu saja, tanpa membaca. Orang Jepang punya istilah lain yakni tsundoku, yakni menumpuk bahan bacaan, kemudian meninggalkannya.

Saat itu, saya punya banyak koleksi buku yang antre untuk dibaca. Saya tidak mau berhitung soal buku. Ketika ke toko buku dan tertarik, saya akan membelinya. Saya tak peduli kalau uang di dompet hanya cukup untuk makan siang.

Dulu, saya sering menahan diri untuk tidak membeli banyak buku. Maklum, keuangan terbatas. Kini, ketika dompet selalu terisi, saya seakan balas dendam dan lampiaskan hasrat membeli buku sebanyak-banyaknya, padahal buku itu belum tentu saya baca.

Awal tahun 2019, saya lihat ada puluhan buku yang numpuk. Kalau melihat dari genre buku, tampaknya jenis buku yang saya baca juga berevolusi. Dulu suka yang rumit, sekarang malah suka yang praktis.

Mengapa? Sebab saya membeli buku hanya karena saya berhasrat kuat untuk baca. Saya tidak ingin ikut trend, ketika teman beli buku A maka saya gelisah untuk beli juga. Keputusan membaca juga dipengaruhi banyak hal. Intinya, saya mengalir mengikuti ke mana minat saya bergerak.

Semua orang punya minat berbeda. Semua orang punya kesukaan yang berbeda, sehingga kita tak perlu ikut-ikutan dalam hal membaca buku. Saya hanya membaca buku yang saya inginkan.

Bagi saya, kriteria buku bagus itu sederhana. Yakni ketika meninggalkan banyak hal yang terngiang-ngiang di pikiran saya selama beberapa hari, bisa menghadirkan kilasan-kilasan informasi saat melihat sesuatu, serta bisa memaksa saya untuk membacanya berkali-kali. Beberapa di antara buku tersebut adalah:


Mendaki Tangga yang Salah (Eric Baker)

Buku ini adalah terjemahan dari Barking Up the Wrong Tree. Ini buku yang saya sukai di tahun 2019. Saya sempat menyesal karena tidak membacanya sejak dulu. Beberapa kali saya abaikan buku ini saat berada di toko buku.

Saya suka cara penulis mengeksekusi ide-ide itu dalam buku yang dikemas menarik.  Gaya nulisnya “gue banget.” Selalu memulai dari cerita-cerita atau ilustrasi yang kemudian menggiring pembaca ke satu argumentasi. Gaya menulisnya adalah feature news ala National Geographic. Ada kombinasi antara cerita serta fakta-fakta dan riset yang membuat buku ini penuh kejutan.



Ini jenis buku serupa bom waktu disimpan di kepala kemudian meledak. Isinya mengejutkan. Kita tak menduga dengan hasil dan kesimpulannya. Buku ini mengajak kita untuk tidak melihat sesuatu dengan cara pandang yang biasa-biasa.

Misalnya, kita dijejali pandangan bahwa seorang anak harus menjadi juara agar masa depannya cerah. Ternyata tidak selalu demikian. Orang pintar di kelas malah jarang jadi miliuner. Saya suka tulisan tentang pelajaran terbaik dalam manajemen bukan datang dari perusahaan besar dan mapan, tetapi datang dari anggota geng, pembunuh berantai, dan bajak laut.


Politik Jatah Preman: Ormas dan Kuasa di Indonesia Pasca Orde Baru (Ian Douglas Wilson)

Buku yang digali dari riset etnografis ini menjadi buku favorit saya di tahun 2019. Apalagi, buku ini beredar pada saat yang tepat yakni kampanye pileg dan pilpres. Isinya sangat relevan sebab membahas para preman, gang, dan milisi yang ada di sudut-sudut Jakarta. Mereka sudah ada sejak zaman kolonial, hingga terus hadir di berbagai rezim.

Kita sama tahu kalau mereka hadir bergandengan dengan politisi dan penguasa. Mereka menjalankan operasi-operasi yang kemudian dibeking aparat dan pemerintah. Mereka terbagi dalam banyak kubu serta selalu bersaing satu sama lain. Ketika ada konflik, maka para beking yang akan bernegosiasi dan mencari titik temu.



Di Jakarta yang penuh sesak, politik bisa didapati dalam rebutan atas penggunaan akses, akses, dan kepemilikan ruang, termasuk perekonomian. Di sini, kaum preman, vigilante, milisi, dan kelompok-kelompok gangster menjadi wahana efektif untuk mendapatkan keuntungan.

Mereka diorganisir dalam identitas etnik serta agama. Mereka menyebut dirinya ormas berbasis etnik. Belakangan terjadi lagi transformasi sehingga ada juga yang memakai jubah kelompok keagamaan. Mereka sama-sama menjalankan peran seolah-olah pelindung masyarakat, yang kemudian menjadi alasan untuk memalak dan mengkapling parkiran, kemudian menjaga keamanan.

Buku ini menarik sebab membahas peta kelompok elite yang mengorganisir kelompok akar rumput. Asumsinya, untuk konsolidasi kekuasaan, para elite akan merangkul kelompok sub-hegemonik yang berpotensi merusak seperti geng demi keuntungan ekonomi klientelisme. Dengan cara itu, mereka memperluas kelas penguasa dalam apa yang disebut “struktur jatah preman yang berakar pada mode produksi yang spesifik.”

Harusnya saya resensi di masa kampanye. Tapi batal karena resensi itu akan menyebut nama-nama yang sedang berlaga di pilpres, di antaranya adalah Prabowo Subianto, yang disebut berkali-kali di buku ini.


Upheavel (Jared Diamond)

Saya salah satu penggemar Jared Diamond. Saya mengoleksi tiga bukunya, yakni Gun, Germs and Steel, kemudian Collaps, setelah itu The World Until Yesterday. Peraih Pulitzer ini selalu menulis keping kenyataan, kemudian dianalisisnya dari sisi sains yang lintas disiplin. Bukunya selalu kaya dengan argumen geografi, lingkungan, budaya, dan sejarah.



Buku Upheavel, yang diterbitkan Globalindo Manado, mendiskusikan bagaimana bangsa-bangsa pernah jatuh, kemudian bangkit dari krisis. Dia melakukan perbandingan pada tujuh negara, yakni Amerika Serikat (AS), Jepang, Chili, Finlandia, Australia, Jerman, dan Indonesia. Dia melihat bangsa-bangsa ini punya kekuatan untuk keluar dari krisis. Dia pun melihat ada potensi yang masalah yang bisa muncul.

Saya sangat tertarik membaca bab mengenai Indonesia. Jared Diamond melihat adanya krisis pada tahun 1965, ketika ratusan ribu orang dibantai oleh rezim militer. Dia melihat kediktatoran Suharto yang membawa banyak aspek negatif, tetapi ada juga aspek positifnya yakni pertumbuhan.

Meskipun didera krisis, Indonesia malah bangkit dan bisa mengelola ribuan etnik, keterpisahan pulau, serta berbagai agama berbeda.  Saya ingat, dulu ada pernyataan Jared Diamond tentang Indonesia yang bisa terpecah seperti Yugoslavia. Dalam buku ini dia malah melihat kian kuatnya identitas nasional, efektifnya Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, serta makin kuatnya integrasi nasional.

Krisis memang bisa memorak-porandakan satu bangsa. Tapi, ada bangsa-bangsa yang bisa bangkit dan tumbuh menjadi kekuatan baru. Saya ingat penuturan sejarawan Arnold Toynbee tentang dinamika antara “challenge and respons.” Setiap bangsa akan menemui tantangan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa memberikan respon atas tantangan yang dihadapinya.

Dalam beberapa hal, saya temukan argumentasi buku ini serupa dengan buku Why Nations Fail yang ditulis Daron Acemoglu. Mereka sama-sama melihat ada krisis, serta ada kekuatan untuk bangkit. Dengan menggunakan perbandingan antara berbagai studi kasus, kita bisa menemukan variasi serta kekuatan untuk berubah.


Filosofi Teras (Henry Mapiring)

Buku ini serupa obat penenang bagi manusia modern yang sering dilanda kecemasan. Buku ini tidak menawarkan satu solusi final. Buku ini menggali kearifan Yunani dan Romawi kuno untuk diterapkan di masa kini.

Yang ditawarkan adalah upaya untuk mengendalikan semua hal negatif dengan cara mengubah cara pandang kita, yakni melihat hal negatif itu sebagai sesuatu yang normal dan kita berdamai dengannya. Artinya, kita mengakui bahwa sesuatu itu negatif, tapi kita tidak lantas tenggelam di situ.



Kita punya kemampuan untuk mengubah hal negatif itu menjadi kekuatan positif sehingga ke depannya kita akan lebih tangguh dan kuat. Pandangan ini mirip dengan ajaran Buddha yang mengatakan: “Diri adalah apa yang kita pikirkan.” Jika kita menganggap diri kita positif dan bernilai, maka semesta pun akan berkonspirasi untuk membantu kita menggapai pandangan itu.

Buku ini bisa menyampaikan gagasan filosofis dalam kalimat-kalimat sederhana yang sangat praktis untuk masyarakat jaman now. Saya tidak terkejut saat mengetahui buku ini terbilang sangat laris dan dicetak ulang berkali-kali.


Enlightenment Now (Steven Pinker)

Ini salah satu buku favorit Bill Gates. Saya pun menyenangi optimisme Steven Pinker terhadap masa kini. Dia menyusun argumentasi disertai data-data tentang betapa banyaknya perubahan positif yang sedang terjadi.

Mulanya, profesor psikologi dari Harvard ini menyaksikan retorika Donald Trump yang amat pesimis. Trump mengatakan ibu dan anak terperangkap dalam kemiskinan. Dia juga bilang kriminalitas, narkoba, dan banyak manusia yang tewas di jalan.  Puncaknya adalah perlu mempersiapkan diri untuk perang terbuka.



Pinker terheran-heran melihat banyak orang yang percaya dengan semua pesimisme itu. Cara dia merespon persoalan itu bukan dengan cara ikut nyinyir dan menjelekkan Trump. Dia menulis dengan serius, mempersiapkan argumentasi dan menjawab semua keraguan.

Buku setebal lebih 700 halaman berisikan argumentasi dan analisisnya tentang kondisi dunia saat ini. Yang menakjubkan, dia menghamparkan timbunan data-data statistik yang isinya perbandingan antara periode sebelum 1600-an hingga kini. Saya terheran-heran dari mana dirinya bisa mendapatkan data begitu kaya.

Dalam banyak hal, saya setuju dengan Pinker. Berkat ide-ide pencerahan, rasionalitas, dan sains, manusia memasuki zaman baru yang jauh lebih baik. Berkat sains, manusia bisa memecahkan berbagai persoalan yang mendera, kemudian menyusun solusi untuk mengatasinya. Bagi Pinker, ide-ide pencerahan serupa obor yang menerangi kegelapan manusia.


Di Belanda Tak Seorang Pun Mempercayai Saya (Maarten Hidskes)

Sering pula kita melihat sejarah yang serba hitam putih. Sejarah serupa menyaksikan panggung yang memperhadapkan jagoan versus penjahat. Sering pula kita menempatkan diri kita dan bangsa kita sebagai jagoan, sementara pihak lain adalah penjahat.

Namun bagaimanakah halnya jika kita berada pada posisi yang dituduh sebagai penjahat? Apakah kita akan punya kejujuran untuk menelaah, kemudian berdamai dengan masa lalu kita yang merupakan bagian dari penjahat? Ataukah kenyataan tak selalu hitam putih sebab setiap sisi baik, selalu ada sisi jahat?



Buku Di Belanda Tak Seorang Pun Mempercayai Saya terbitan Obor ini menarik sebab mengisahkan bagaimana kekejaman yang pernah dilakukan Kapten Raymond Westerling di Sulawesi Selatan pada tahun 1946-1947.

Penulisnya, Maarten Hidskes, menulis buku ini serupa perjalanan untuk mengungkap teka-teki. Bapaknya adalah seorang anggota pasukan Kapten Westerling. Sepanjang hidup bapaknya, tak pernah ada dialog mendalam mengenai pengalamannya di Sulawesi Selatan.

Saya tertarik dengan cara Hidskes menyusun buku ini yang serupa dialog. Dia menelusuri pengalaman bapaknya melalui memoar, arsip, dokumentasi, dan semua jejak yang ada. Dia butuh waktu 25 tahun untuk mengumpulkan bahan mengenai perjalanan ayahnya selama 12 minggu saat menjadi pasukan khusus di bawah pimpinan Kapten Raymond Westerling.


#MO (Rheland Kasali)

Beruntunglah Indonesia punya akademisi seproduktif Rhenald Kasali. Setiap tahun dia sellau mengeluarkan buku-buku bagus yang membantu kita untuk memahami dinamika dunia yang terus berubah. Saya menyukai seri tulisannya mengenai perubahan lanskap digital yang kemudian mempengaruhi cara pandang terhadap bisnis.

Dalam buku ini, MO adalah singkatan dari Mobilisasi dan Orkestrasi. Dia meliat adanua monilisasi melalui dunia onternet, mulai dari penggunaan tagar, menciptakan sesuatu yang hype, dan munculnya banyak pemain baru. Dia melihat pemain lama akan bertumbangan dan diganti dnegan pemain baru yang kecil-kecil tapi lincah.

Untuk survive di era hyperconnected ini, kita mesti memahami power yang sedang berlangsung, kemudian merancang new power yakni berselancar di tengah orkestra perubahan.

Di era ini, perubahan tidak didorong oleh kecerdasan luar biasa, tetapi keterampilan mobilisasi yakni memahami anatomi, bauran mobilisasi online, share, lima elemen penggerak jari, dan pemahaman. Dia memberikan peta jalan apa yang harus dilakukan agar merancang sesuatu yang viral sehingga bisa menggerakkan orkestrasi perubahan.


Teh dan Pengkhianat (Iksaka Banu)

Sejak pertama membaca karya pertamanya Semua untuk Hindia, saya selalu memasukkan Iksaka Banu dalam list pengarang yang karyanya wajib dimiliki. Dia tidak membahas sejarah yang hitam putih. Dia, dengan berani, mengurai kisah dari sudut pandang orang Belanda yang dicap nista oleh sejarah kita.



Dia melihat peristiwa dari sudut berbeda. Siapa pun bisa berpotensi jahat, tanpa memandang warna kulit dan asal bangsanya. Bukunya membentang sketsa watak manusia yang penuh warna. Di setiap kumpulan, ada manusia baik dan ada manusia jahat. Tergantung kita melihatnya dari sudut mana. Namun jika kita membebaskan diri dari segala prasangka, kita akan melihat semua sudut sama saja. Selalu ada dinamika. Selalu ada gejolak. Selalu ada kebaikan, juga kejahatan.

Kolonialisme dan rasisme memang tengik. Tapi keduanya bukan sesuatu yang mudah dituding dan dijelaskan bentuknya. Keduanya tersimpan sebagai endapan pikiran dalam diri seseorang. Siapa pun bisa kolonialis dan rasis sepanjang hanya mengakui eksistensi dirinya, tanpa membuka ruang untuk mereka yang posisinya berbeda.

Buku Teh dan Pengkhianat ini senapas dengan buku Semua untuk Hindia. Cerpen favorit saya adalah Kalabaka yang mengisahkan bagaimana seorang serdadu Belanda yang bertugas ke Banda, pada masa Gubernur Jenderal JP Coen. Serdadu itu menjadi saksi dari kekejaman Belanda terhadap orang-orang Banda.

Saya suka bagian ketika serdadu itu beradu pandang dengan bangsawan Banda menjelang eksekusi. Entah kenapa, saya sampai memimpikan adegan yang dramatis. Saya membayangkan mata orang Banda itu menembus relung hati serdadu. Keren.


Lara Tawa Nusantara (Patris MF)

Saya menyukai catatan anak muda dari Padang ini. Dia mendatangi banyak lokasi bukan untuk wisata dan menikmati pemandangan indah, tetapi dia berusaha mengenal banyak orang di situ, meleburkan diri dalam kebudayaan. Catatannya bernuansa etnografis. Berisikan pelukisan kebudayaan secara mendalam.



Saya menyukai perspektifnya ketika menulis. Dia berusaha berbaur dengan semua orang. Dia berani membuat catatan yang butuh observasi mendalam. Demi catatan itu, dia selalu tinggal bersama warga, serta meminta mereka untuk menjelaskan banyak hal.

Saat di Kalimantan, dia menulis tentang Tarian Kematian, salah satu ritual penganut agama Kaharingan. Dia ke Bulukumba dan berkenalan dengan banyak pembuat kapan phinisi. Dia ke Toraja dan menulis tentang hidup mati orang Toraja. Dia ke Mandar dan menulis tentang perahu. Dia juga ke Mamasa, Wakatobi, Sasak, juga Bali.

Sejujurnya saya cemburu dengan Patris. Saya juga punya catatan serupa, tapi belum sempat diterbitkan. Apalagi, di beberapa tempat, dia bertemu dengan orang yang saya kenal. Di Toraja, dia ketemu Dian Pongtuluran yang merupakan junior saya di kampus. Di Wakatobi, dia bersama Guntur, teman saya di Baubau. Bahkan di tanah Mandar, dia bertemu Ridwan Alimuddin, seorang sahabat penulis dan peneliti Mandar.

Saya berharap bisa menulis catatan menarik seperti ini.


New Power (Jeremy Heimans & Henry Timms)

Sebenarnya ini buku yang terbit tahun 2018, tapi saya membacanya di tahun 2019. Saya tertarik untuk membacanya saat membaca buku #MO-nya Rheinald Kasali. Buku New Power ini paling sering isebut untuk menjelaskan bergesernya kuasa lama menuju kuasa baru, sesuatu yang tidak banyak dipahami para ilmuwan, pemerintah, dan pelaku bisnis.



Kekuatan Lama (Old Power) dimonopoli oleh segelintir orang, sulit diakses, dan dikendalikan oleh elit tertentu (leader-driven). Kekuatan Baru (New Power) sebaliknya bersifat terbuka, partisipatori, dan peer-driven.

Jika berhasil menciptakan dan mendayagunakan Kekuatan Baru maka Anda akan mencapai kegemilangan, sebaliknya jika masih terbelenggu Kekuatan Lama Anda akan punah ditelan jaman.


Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir (Marvin Harris)

Nama Marvin Harris adalah nama besar di jajaran suhu antropologi dunia. Saya menikmati bukunya yang diterjemahkan oleh Marjin Kiri. Buku ini selalu dibahas di semua kelas antropologi. Dia membahas bagaimana pengaruh lingkungan pada kebudayaan.



Dia bercerita tentang mengapa babi diharamkan orang Islam dan Yahudi. Katanya, pengharaman babi dilakukan untuk melindungi manusia di zaman itu agar kondisi pangan tetap terjaga, menghindari ketidakseimbangan ekologis, serta memudahkan mobilitas manusia di zaman itu.

Untuk membuat manusia patuh dan menjaga lingkungan serta tidak memelihara babi, perlu dibuatkan semacam aturan yang sifatnya mutlak. Yakni melalui ayat dan kitab suci.

Saya suka argumentasinya yang menganalisis kondisi ekologis yang mempengaruhi lahirnya aturan-aturan dalam religi. Dia menyajikan banyak argumentasi dan fakta yang mendukung kesimpulannya. Kita pun bisa memakai argumen Harris untuk menelaah banyak aspek dalam kebudayaan, mulai dari aturan adat, kekuasaan, hingga konflik sumber daya.


Lautan Rempah (Joaquim Magalhaes de Castro)

Inilah buku bagus yang saya beli di Desember 2019. Saya belum menuntaskan isinya. Saya baru membaca bab-bab awal. Isinya sangat menarik. Bercerita perjalanan seorang berkebangsaan Portugis ke Nusantara untuk menemukan jejak peradaban Portugis.



Dia bercerita tentang kedatangannya ke kampung-kampung, istilah-istilah Portugis yang dia temukan, hingga apa saja tradisi dan budaya yang punya pertautan dengan Portugis. Dia pun bercerita mengenai kunjungannya ke desa-desa yang penduduknya bermata biru. Dia menyebut adanya kaitan dengan Portugis.

Sayangnya, ada hal yang bikin pengalaman membaca terganggu. Tulisan dibuku ini kecil, rapat, dan agak kabur. Mata saya agak lelah menghabiskan bab-bab awal di buku ini. Tapi rasa lelah itu tergantikan oleh menariknya perjalanan serta pertemuan dengan orang-orang baru.

*** 

Tahun 2019 telah berlalu. Saya melihat tumpukan buku yang belum selesai dibaca. Masih ada beberapa yang harus saya selesaikan. Saya pun memandang sejumlah buku biografi yang saya beli dan tuntaskan demi menulis beberapa orderan buku biografi.

Saya berharap tahun 2020 ada banyak buku bagus yang terbit. Saya percaya, semua orang punya minat buku berbeda. Makanya, buku juga harus variatif. Toko buku sebaiknya jangan memajang buku hanya dari genre yang sama.

Jika ada yang tanya, dalam hal literasi apa resolusi di tahun 2020, saya akan menjawab singkat. Saya tak ingin menjadi penganut tsundoku atau bibiliomania. Saya tak ingin menumpuk buku. Saya ingin membaca apa yang membuat saya tertarik. Saya ingin selalu mengikuti hasrat dan rasa haus pada buku-buku bagus. Saya ingin menjadi diri sendiri.



BACA:






3 komentar:

Maria Juli Insani Simbolon said...

Saya baru buka websitemu Bang Yus dan saya suka. ❤ ulasanmu menarik. beberapa buku yg belum saya beli dari daftar ini akan saya lengkapi

Yusran Darmawan said...

makasih banget mb maria. salam.

Sili Suli said...

Keren banget. Jadi penasarn mau segera membeli buku 'Politik Jatah Preman'. Thanks tulisannya bung Yusran. Sukses selalu

Post a Comment