Membaca "Dari Jokowi Hingga Harari"




Rizal Mallarangeng bukanlah penulis favorit saya. Tapi belakangan ini, saya suka mengikuti kolomnya di Qureta. Tulisannya kaya perspektif serta selalu mendialogkan satu topik dengan topik lain pada buku2 yang pernah dibacanya.

Dia menulis beragam tema, khususnya politik dan sosial budaya. Tapi saya paling suka resensi buku yang dibuatnya. Saya sering mencari buku-buku yang dia rekomendasikan. Berkat resensi Rizal, saya ikut menikmati lezatnya buku Yuval Noah Harari dan Steven Pinker. 

Saya senang karena dia menerbitkan semua kolom itu menjadi buku berjudul Dari Jokowi ke Harari. Sebagian besar tulisan di buku ini sudah saya baca di internet. Tulisan favorit saya adalah tulisan-tulisan mengenai perjalanan manusia, juga cerita sains dan masa depan. Rizal selalu menemukan sisi lain yang menarik dari dinamika manusia.

Di antara beberapa nama yang dibahas di sini adalah Xi Jinping yang disebut manusia setengah dewa, Hilary Clinton yang melalui jalan berliku, dan Emannuel Macron yang disebut sebagai harapan baru Perancis. 

Tokoh favorit saya yang dibahas di sini adalah Karaeng Pattingalloang, seorang intelektual Nusantara yang hidup pada abad ke 17. Karaeng Pattingalloang adalah cendekia yang disebut dengan penuh kekaguman oleh para penjelajah Eropa yang datang ke Nusantara.

Saya setuju dengan Rizal. Harusnya nama Karaeng Pattingallong diabadikan sebagai nama perpustakaan nasional. Dengan cara itu, kita menjaga warisan intelektualnya, serta meneruskan jejak sejarahnya agar abadi di mata generasi baru.


0 komentar:

Post a Comment