Menemukan DON TAPSCOTT di Big Bad Wolf




Di Jakarta, para penggila buku adalah spesies aneh. Mereka jarang terlihat di toko buku yang kian sepi dan kehilangan pengunjung. Mereka bermunculan saat-saat tertentu. Di antaranya adalah saat acara Big Bad Wolf yang tengah berlangsung di Serpong, Tangerang.

Saya datang ke ajang Big Bad Wolf dengan persiapan yang lebih matang. Saya tidak ingin mengulangi kesalahan setahun lalu yakni datang pada hari-hari terakhir. Saat itu, saya tak mendapatkan banyak buku yang saya sukai. Kali ini saya datang pada hari kedua.  

Suasana Serpong cerah ketika saya datang bersama keluarga. Area parkir yang luasnya seperti sepuluh kali lapangan bila itu penuh dengan kendaraan. Saya butuh waktu setengah jam untuk menemukan parkir. Itu pun dapatnya di ujung.

Kali ini saya datang bersama istri dan dua anak. Tahun lalu, anak saya Ara (7 tahun) banyak membeli buku-buku komik bergambar. Tahun ini saya berniat membelikan apa pun buku yang diinginkannya. Terhadap keinginan membeli buku, saya tak ingin berhitung. Selagi ada niat membaca, maka saya akan membelikannya. Semahal apa pun itu.

Belakangan, saya agak khawatir karena Ara lebih banyak bermain HP. Saya beberapa kali ingin melarangnya menghabiskan waktu bermain HP. Namun dia beberapa kali mengejutkan saya dengan kemampuan berbahasa Inggris yang fasih. Saya kaget-kaget ketika dia mengajak saya bercakap bahasa Inggris dan mengeluarkan kosa kata dan kalimat yang belum pernah saya ajarkan.

BACA: Pokemon Go, Games, dan Kecerdasan Generasi Internet

Ternyata, internet membuat anak ini jadi warga dunia. Dia lebih fasih berbahasa Inggris ketimbang berbahasa Indonesia. Sering dia menanyakan kata-kata dalam bahasa Indonesia yang sulit dipahaminya. Semalam dia bertanya, “Ayah apa artinya balas dendam?” Saya mencarikan padanan dalam bahasa Inggris. “Balas dendam itu sama dengan revenge.” Ternyata dia langsung paham. 

Big Bad Wolf menjadi ajang yang pantas ditunggu-tunggu. Dalam setahun, hanya ada satu momentum untuk bisa mendatangi pameran buku terbesar, yang memajang begitu banyak buku-buku impor berkualitas. Saya serasa nggak percaya, buku-buku impor tebal yang ditulis para penulis kaliber internasional bisa dijual dengan sangat murah.

BACA: Kekurangan Buku di Big Bad Wolf

Tahun ini, saya menemukan koleksi nonfiksi dan sejarah yang lebih banyak dari tahun sebelumnya. Berada di sini, saya benar-benar lupa waktu. Hampir di semua rak, saya menemukan buku bagus yang layak dibawa pulang. Tentunya, saya harus memperhitungkan budget sebab jika tidak, bisa-bisa jatah bulanan akan berkurang.

Saya perhatikan tema-tema yang dijual di sini cukup beragam. Paling sering saya lihat adalah buku anak. Setelah itu Business and Economy, History, Fiction, Reference, Self Help, Sports, Hobbies, dan Language. Saya berharap ada koleksi ilmu sosial, ternyata malah tidak banyak. Saya paham bahwa koleksi ilmu sosial dan humaniora memang jarang. 

Saya pun lebih banyak berkeliling di rak buku Business and Economy. Saya benar-benar tergoda menyaksikan buku-buku mengenai ekonomi baru, masyarakat digital, dan pemasaran. 

Kesan saya, buku-buku ekonomi, khususnya pemasaran, selalu dinamis. Selalu ada hal baru. Saya terkesima melihat buku-buku ekonomi yang isinya pembelajaran dari satu studi kasus. Saya melihat banyak buku mengenai Samsung, Ali Baba, Steve Jobs, Lenovo, Silicon Valley, hingga disrupsi di berbagai bidang.



Mungkin saya keliru. Tapi saya beranggapan orang-orang pemasaran selalu lebih cepat memahami denyut perubahan sosial. Mereka selalu lebih cepat mengantisipasi perubahan sebab kerja mereka adalah memasarkan sesuatu. Nah, dalam proses itu, penting kiranya menggali otentisitas, keunikan, dan kekuatan dari dalam diri agar bisa menaklukkan orang lain.

Buku lain yang saya lihat dinamis adalah buku-buku bertemakan sejarah. Saya kagum-kagum karena para sejarawan tidak pernah kehabisan topik untuk dieksplor dan ditulis dengan menggunakan banyak perspektif. Di pameran itu, saya tak cuma melihat sejarah peristiwa besar dan peperangan, tapi juga topik menarik seperti biografi olahragawan, sejarah tentang air dalam pahaman manusia, hingga sejarah ilmu pengetahuan.

Tapi, favorit saya adalah tema-tema ekonomi dan bisnis. Di satu rak, saya menemukan buku yang ditulis Thomas L Friedman, seorang jurnalis bergelar Phd dari Minnesota yang tiga kali memenangkan Pulitzer atas tulisannya mengenai ekonomi politik. Beruntung, saya sudah memiliki bukunya yakni Thank You for Being Late.

Saya terhenti di satu rak saat menyaksikan buku yang ditulis Don Tapscott berjudul The Digital Economy: Rethinking Promise and Peril in the Age of Networked Intelligence. Buku ini pertama ditulis tahun 1995, kemudian dikemas ulang dan diberi catatan lagi pada tahun 2014. 




Saya makin tertarik membaca Tapscott setelah menemukan artikel dari seorang profesor UGM yang menyebut Tapscott adalah orang pertama yang mengenalkan istilah Ekonomi Digital. Dia terbilang lebih dulu memprediksi era ekonomi digital akan semakin menguat.

Kebetulan, saya telah mengoleksi dua buku yang ditulis Don Tapscott yakni Grown Up Digital dan Wikinomics

Buku Grown Up Digital adalah satu buku terbaik yang ditulis mengenai kehadiran Net Generation yang memahami dunia dengan cara baru dan pelan-pelan mengubahnya. Buku ini menjadi demikian powerful sebab memadukan prediksi dan riset yang dilakukan pada ribuan siswa di Amerika Serikat. 

Tapscott tak hanya membahas pengaruh Net Generation di bidang bisnis, tapi juga politik, organisasi, hingga pendidikan. Buku yang sangat keran ini tidak pernah bosan ketika dibaca berkali-kali.

Buku Wikinomics juga keren. Tapscott menggambarkan dunia yang semakin terintegrasi sehingga kolaborasi menjadi mata uang penting untuk menguasai abad ini. Perusahaan seperti Google telah menerapkan kolaborasi dan sharing pengetahuan secara gratis di dunia maya. Bahkan Wikipedia menjadi perusahaan skala dunia, padahal tidak punya karyawan. Wikipedia menjadi besar karena sokongan dari banyak orang di berbagai belahan dunia yang tidak saling kenal. Mereka bekerja sama seperti semut yang membangun sarang yang kokoh.

Bayangkan, betapa bahagiannya saya saat menemukan buku The Digital Economy yang ditulis Don Tapscott. Kebahagiaan itu kian sempurna saat menemukan buku Tapscott lainnya yang berjudul MacroWikinomocs: Rebooting Business and the World. Tanpa banyak menimbang, saya langsung masukkan dua buku itu dalam keranjang belanja. Saya malah tidak sabar untuk segera membawanya keluar.



Di rak lain, saya menemukan juga buku bagus yakni The Global Code yang ditulis Clotaire Rapaille, yang sebelumnya menulis buku laris The Culture Code. Buku lain adalah Head in the Cloud yang membahas mengapa manusia harus menghabiskan waktu untuk tahu banyak hal pada saat Google sudah menyiapkan perpustakaan raksasa di dunia maya. Di rak lain, saya mengambil beberapa buku lain.

Ketika bertemu anak istri, ternyata mereka lebih banyak membeli buku. Kata istri, Ara tadinya ogah-ogahan datang ke pameran buku sebab dia merasa buku itu sangat old. Dia lebih suka gadget. 

Tapi dia benar-benar terkesima saat melihat buku-buku bertemakan Augmented Reality atau realitas tambahan. Bisa juga dibilang 4 Dimensi. Buku-buku jenis ini menggabungkan antara teks dan digital. Untuk membacanya, kita harus mengunduh aplikasi buku itu di Playstore. Ketika dilihat dengan aplikasi, semua karakter langsung keluar. Hebatnya, kita bisa berinteraksi dengan karakter dalam buku itu melalui aplikasi yang ada di HP. Hebat kan?





Adik Ara, Anna (2 tahun), juga membeli buku. Ketika saya datang, dia meminta saya untuk membuka bukunya yang isinya adalah potongan-potongan kertas yang membentuk istana. Dia membeli buku mengenai permainan tengkorak. Dia sibuk menakut-nakuti saya saat gambar tengkorak itu muncul. Padahal semakin dia berusaha seram, maka semakin dia terlihat lucu.

Kami langsung beranjak ke kasir. Semakin lama di situ, maka semakin tergoda untuk mengambil banyak buku. Itu pun total belanja kami hampir mencapai angka 2 juta rupiah. Bagi saya ini sudah terlalu banyak. Saya bakal mengurangi jadwal ke warung kopi karena sudah terlalu banyak belanja buku. 

Tapi tak apa. Kembali pada prinsip saya: untuk soal buku, saya tak mau berhitung. 



0 komentar:

Post a Comment