Orasi Terbaik di Dunia




Orasi terbaik yang pernah saya lihat adalah orasi yang dibawakan para penjual obat di Pasar Baubau di Sulawesi Tenggara. Setidaknya itu yang terekam di memori saya. Di situ, ada hiburan yang dikemas dengan kelincahan retorika. Di situ ada kekuatan komunikasi, serta pemasaran yang amat memikat.

Saking kuatnya kata-kata penjual obat yang disampaikan serupa mantra, penonton tak cuma terpukau dan tahan selama dua jam menyaksikannya, tapi juga tidak ragu-ragu untuk mengeluarkan dompet lalu membeli obat yang dijual. Wow keren!

Ini baru permainan retorika yang keren. Saya tak pernah lihat ada politisi yang orasi, dan bisa membuat penonton suka rela mengeluarkan uang. Biasanya, malah penonton yang dibayar agar bersedia datang untuk menyaksikan orasi itu. Lebih hebat penjual obat kan?

Gara-gara penjual obat itu, saya sangat sering bolos sekolah. Di masa itu, ada tiga hal yang bisa bikin saya bolos sekolah. Pertama, ketika ada PR dan saya lupa bikin. Kedua, ketika ada novel silat, baik itu wiro sableng maupun Kho Ping Hoo beredar. Ketiga, ketika ada penjual obat yang orasi di pasar. 

Nah, para penjual obat yang datang ke kampung kami kebanyakan mengikuti rute kapal Pelni dari Ujung Pandang. Biasanya setelah berdagang di kampung kami, mereka akan lanjut ikut kapal ke rute kawasan timur, yakni Ambon dan Papua.

Sedemikian seringnya menonton penjual obat, saya paham betul urutan-urutan ketika mereka mulai berjualan obat. 

Pertama, mereka akan memulai dengan sesuatu yang menghentak perhatian warga pasar. 

Kadang mereka akan mulai dengan akrobat atau sulap. Kadang memulai dengan pertunjukan sihir, misalnya membuat anak-anak tertidur. Ups, saya pernah jadi volunteer. Tentunya sebelumnya di-briefing dulu, kemudian dapat hadiah uang sebesar 500 rupiah. Di zaman itu, jumlah ini bisa beli es cendol dan kue2 lokal seperti sanggara, taripa, dan burangasa.

Nah, tahap pertama ini akan sangat menentukan banyaknya orang yang datang. Pernah, saya melihat penjual obat amatiran yang menggunakan ular. Setelah ular melata, dia akan mulai mengeluarkan sesumbar-sesumbar: “Ular ini saya tangkap langsung dari tanah Papua. Happ.... saya bisa kontak dengan ular ini.” 

Penonton terpukau. Sedetik berikutnya, ular itu terus melata ke penonton. Penjual obat itu mulai panik. Dia mulai memanggil banyak nama: “Dorce, Bleki. Diam kamu.” Ular terus berjalan. Penonton muai panik. Dalam keadaan terpojok, penjual obat itu berteriak, “Amirr... ambil ularmu.” Penonton tertawa.

Kedua, ketika penonton sudah terkumpul, pelan-pelan dia mulai mengeluarkan maksud dan tujuan. Dia akan mulai dengan narasi yang mengawang. “Rusia sudah luncurkan satelit. Amerika sudah sampai di bulan. Kita di sini masih andalkan guna-guna.”

Pernah juga dia mulai dengan cerita Maradona. “Bapak ibu tahu kenapa Diego Armando Maradona begitu lincah memainkan si kulit bundar?” Setelah penonton menggeleng, baru dia keluarkan obatnya.

Ada juga yang mulai dengan bercerita mengenai Rhoma Irama: “Baru-baru ini Raden Haji Oma Irama menikah lagi dengan seorang gadis cantik. Bapak ibu tahu apa rahasia mengapa Rhoma begitu perkasa di atas ranjang? Ini obatnya. Bapak ingin bisa berdiri keras dan kuat sampai-sampai bisa digantungkan dua biji kelapa? Ini obatnya.”

Ketiga, saat penonton mulai tertarik, mulailah dia menawarkan bonus agar penonton makin semangat untuk membeli. Biasanya, bonusnya adalah rumus-rumus untuk pasang kode Porkas, semacam judi yang dilegalkan pemerintah Orde Baru. Bonus lain adalah didoakan agar cepat kaya. Doanya diambil dari kitab suci yang dibacakan dengan sangat fasih.

Pernah saya bertanya dalam hati, kalau penjual obat punya doa yang manjur agar orang lain kaya-raya, kenapa dia tidak mendoakan dirinya lebih dahulu? 

Keempat, siapkan banyak strategi pamungkas. Di antaranya adalah menyiapkan sjeumlah orang yang akan bermain drama yakni tiba-tiba membeli dan berebut. Penonton akan tertarik lalu membelinya dengan cepat. Padahal, semua itu hanya tipu.

Sayang, kejayaan para penjual obat sudah berakhir. Saya nyaris tak pernah lagi menyaksikan mereka memasang tenda payung dan beratraksi di pasar-pasar. Ke manakah mereka?

Ternyata banyak di antara mereka yang memilih jadi caleg. Mereka masih tetap orasi. Tapi kali ini tidak lagi sambil bawa ular. Mereka keliling kampung bersama para penyanyi dangdut. Malah banyak di antara mereka yang sukses jadi politisi.

Sejak dulu, saya beranggapan bahwa ada perbedaan antara dokter dan penjual obat. Kalau dokter selalu merekomendasikan banyak obat untuk satu penyakit. Sementara penjual obat akan merekomendasikan satu obat untuk semua penyakit.

Kini saya temukan kesamaan antara penjual obat dan politisi. Apakah gerangan? Keduanya sama-sama memberikan harapan besar kepada penontonnya. Sekali membeli obatnya, maka semua masalah akan teratasi. Dalam hal politik, sekali mencoblos, maka semua masalahmu juga segera teratasi.

Tul gak?


1 comment: