Warung Klotok: Ketika Kesederhanaan Menjadi Kekuatan




DI Yogyakarta, kebersahajaan bisa menjadi kekuatan yang penuh daya ledak. Itu yang saya rasakan ketika mengunjungi Warung Kopi Klothok di Pakem, tak jauh dari kaki Gunung Merapi.

Bagi saya yang orang kampung, warung kopi sekaligus rumah makan ini biasa saja. Bentuknya seperti rumah-rumah rakyat di kampung yang sederhana. Perabotannya semua jadul. Singgah ke dapur, saya lebih kaget lagi. Semua makanan dimasak pakai periuk besar di atas tungku api. Persis seperti rumah di kampung.

Tapi pengunjung yang hadir begitu membeludak. Suasananya seperti pasar. Tempat parkir yang terbatas sesak dengan banyak kendaraan berpelat mobil Jakarta. Banyak turis asing dan para pengunjung dari Yogya maupun luar. Saya melihat ada beberapa artis yang ikut datang dan mencicipi makanan ala kampung di situ. 

Warung kopi ini tampil apa adanya, dan di situlah letak kekuatannya. Tak perlu dengan tampilan hebat dan reklame serta lampu-lampu terang. Cukup tampilkan kesederhanaan, sesuatu yang biasa saja, tak perlu polesan sana-sini. Itu yang membuatnya memikat. 

Mereka yang datang adalah mereka yang rindu suasana kampung dan berharap bisa mencicipi makanan rumahan. Mereka yang datang tak sekadar mencari makanan. Mereka mencari petualangan dan sensasi makan ala pedesaan Jawa. 

Boleh jadi mereka yang datang adalah orang yang dahulu lahir di desa, kemudian dewasa di kota sebagai kelas menengah. Orang-orang ini ingin mengulang pengalaman dahulu ketika masih mencicipi makanan di dekat sawah dengan menu ala rumah.

Tapi bisa juga mereka adalah orang kota yang ingin bertualang. Mereka bergerak tak didorong hasrat makan, tapi lebih ke aktualisasi diri. Saya ingat catatan seorang ekonom yang menyebutnya “Esteem Economy” yakni ekonomi yang tumbuh dari hasrat bertualang, mencoba hal baru, kemudian membagikannya di media sosial. 

Pantas saja banyak orang kota dan turis yang sibuk memotret diri di situ, kemudian membagikan ke media sosial dengan harapan orang-orang suka, bilang “wow”, dan berharap bisa datang lagi.

Pelajarannya adalah manusia jaman now tak mau sekadar datang dan makan. Mereka butuh suasana yang instagramable, butuh lokasi yang bisa dipotret dan dibagikan ke mana-mana. Manusia sekarang butuh pengakuan bahwa mereka telah menggapai satu lokasi unik yang hanya bisa dibayangkan banyak orang. 

Lantas, saya masuk kategori mana? Saya adalah orang kampung yang masih tinggal di kampung, dengan gaya hidup kampung. Saya tak sedang mencari sensasi makan ala kampung. Saya sengaja ke situ karena makanannya murah. Ditambah lagi, kata seorang kawan, bisa ngutang di situ. Klop kan?

Berikut foto-foto seama di sana:









0 komentar:

Posting Komentar